Seminggu kemudian, di rumah sakit. Ari dan Bara terlihat bangun dari tidur mereka. Keduanya saling berpandangan karena terbaring di ranjang yang bersebelahan. Berbagi senyuman dan kekehan. Tentang sebuah mimpi yang mereka alami semalam.
Hari ini jadwal mereka dibolehkan pulang. Luka di tubuh mereka sudah cukup banyak dipulihkan. Sementara sekolah masih harus dilanjutkan. Keduanya mengaku kuat, siap menjalani hari-hari seperti semula. Ya, walaupun mereka akan masuk sekolah di keesokan hari.
“Kalian berdua sudah bangun?” tanya Ida saat ia memasuki ruangan dan melihat Ari dan Bara sudah terjaga. Kedua remaja itu mengangguk beriringan.
“Apa kalian mau makan dulu?” Kali ini giliran Prima yang bertanya sambil berjalan di belakang Ida.
Ari dan Bara saling berpandangan lagi. Berbagi kekehan dan seringai kecil. Keduanya kemudian memandang Ida dan Prima beriringan. Semalam mereka memimpikan ayah dan ibu mereka akan menikah dan suatu hari Ida belajar memasak dari Prima. Kedua anaknya mencicipi dan rasa masakannya itu seperti rebusan segelas susu dicampur sebotol garam: asin. Itulah yang membuat mereka masih tertawa sampai sekarang.
Sementara Ida memandangi mereka dengan heran. Dan mulai berpikir yang tidak-tidak. Hingga mereka selesai berkemas dan pulang ke rumah masing-masing. Ida bersama Ari, Prima bersama Bara.
Lalu keesokan harinya, kedua remaja itu bertemu lagi di depan sekolah. Dengan para siswa lain memandangi mereka penasaran setelah mendengar berita penusukan mereka seminggu lalu. Keduanya pun terlihat tidak terganggu oleh tatapan itu. Mereka baik-baik saja dan malah sibuk dengan pembicaraan mereka sendiri. Pembicaraan tentang mimpi semalam.
“Aku melihatmu memegang kartu nama bertuliskan Zeni,” ucap Bara dengan suara pelan kepada Ari. Sementara Ari membalasnya jelas dengan suara tak kalah pelan.
“Sementara kamu menjelaskan apa makna kata itu hingga kita berdua memilihnya.”
“Tapi omong-omong, siapa yang akan kita berikan kartu itu? Apa kamu mengenali mereka?” tanya Ari penasaran.
“Entahlah,” sahut Bara tak begitu menghiraukan orang-orang dalam mimpi mereka itu.
“Mereka bilang apa semalam?” tanya Ari lagi sempat lupa pada detail mimpinya.
“Mereka bilang, bisa melihat hantu dan bisa membaca pikiran,” jawab Bara tidak terlalu tertarik. Karena satu yang pasti, mereka berdua tak sabar untuk bertemu dan menceritakan semuanya pada Andi. Laki-laki yang selama seminggu ini tak terlihat mengunjungi mereka ke rumah sakit. Membuat keduanya bertanya-tanya tentangnya.
Apa dia baik-baik saja? Atau sedang punya masalah? Sakit juga, kah? Ah, sudahlah. Tanyakan pada orangnya saja nanti.
Hingga Ari kemudian kembali mengeluarkan suara untuk membahas sesuatu yang mengganjal di pikirannya.
“Oiya, mengenai efek kupu-kupu. Apa kejadian ibuku ingin bunuh diri itu termasuk efek kupu-kupu menurutmu?” tanyanya kepada Bara.
Sambil berjalan, Bara sempat menggidikan bahu sejenak tanda ia tidak begitu meyakininya.
“Kalau dari film Final Destination, sih, efek kupu-kupu terjadinya karena yang seharusnya mati malah tidak mati. Jadinya akan ada yang mati untuk menggantikannya atau cara kematiannya berubah. Tapi, itu kalau dia sebelumnya sudah mati. Ini, kan, ibumu belum pernah mati,” ucap Bara mengeluarkan alur pikirnya. Ari sendiri hanya mengangguk setuju.
“Menurutku, sih, juga begitu. Efek kupu-kupu itu hanya terjadi untuk orang yang mengubah kejadian yang seharusnya terjadi. Sementara kita ... tak ada kejadian yang kita ubah. Sepertinya!” tegasnya lagi di bagian akhir.
“Ya, walaupun efek kupu-kupu itu sebenarnya bukan soal itu. Tapi sepertinya, tidak tepat mengatakan bahwa kejadian itu adalah efek kupu-kupu. Itu hanya sebuah kejadian yang logis, di mana seorang yang merasa kehilangan benar-benar jatuh dan terpuruk.”
Bara menggariskan senyum, ia paham apa yang dikatakan Ari barusan. Hingga mereka sampai di kelas yang penghuninya langsung banyak menyambut dan mewawancarai mereka. Hingga waktu berlalu dan bel istirahat berbunyi.
Kedua remaja itu keluar dan berusaha mencari keberadaan Andi. Laki-laki itu sampai saat ini masih sulit ditemui. Dihubungi lewat telepon pun tak diangkat. Sosial medianya tak terlihat aktif. Bahkan pesan-pesan yang mereka kirim tak ada yang dibaca, lebih-lebih dibalas. Sebenarnya mereka cukup khawatir. Namun, dengan kondisi mereka yang belum sembuh total seperti sekarang ini, keduanya hanya pasrah dan menghabiskan waktu istirahat di kantin sekolah.
Mereka pun kemudian membahas mimpi-mimpi mereka lagi. Tentang kapan kiranya orang tua mereka akan melangsungkan pernikahan dalam mimpi itu. Tentang mereka yang ingin menjadi saudara dan merasa senang karena hal itu mungkin diwujudkan. Tentang keduanya yang terlihat berlatih bersama dalam mimpi tersebut.
Ya, dalam salah satu mimpi, Ari melihat dirinya di masa depan memakai jaket denim dilengkapi aksesori wartawan di beberapa bagian. Memegang pena dan buku catatan kecil bersampul denim juga. Berbeda dengan Reza di masa lalu yang jaket dan bukunya terbuat dari bahan kulit. Lalu Bara terlihat memakai jas laboratorium di rumah mereka sambil sebelah tangan memegang buku tafsir.
Dalam mimpi, mereka juga terlihat berlatih bersama. Ari menawari Bara untuk belajar silat bersama. Sementara Bara terlihat ragu menanggapi. Ari berkata bahwa Bara tidak akan tahu hasilnya bila tidak mencoba. Maka laki-laki itu pun mengangguk dan membulatkan tekadnya untuk mencoba berlatih bersama. Sebaliknya, pada suatu bagian, Ari terlihat belajar melempar bola dengan tepat sasaran dari Bara.
Hingga Ari pun mengusulkan sesuatu yang ia dapat dari dalam mimpi itu.
“Bila memang kita melihatnya terjadi di masa depan? Apa iya kita tidak bisa melakukannya sejak sekarang?” Tatapannya seolah mengatakan sesuatu pada Bara. Seolah menanyakan apakah laki-laki itu setuju atau tidak. Dan Bara menanggapinya dengan sebuah anggukan, bahwa dia setuju.
“Ya, kalau kita bisa melakukannya lebih cepat, kenapa tidak? Tapi ...,” katanya tertahan, “tentu saja tidak sekarang. Nanti luka di perutku bisa lepas,” lanjutnya lagi.
Ari terkekeh meremehkan. “Dasar manja!” godanya pada Bara. Bara membalasnya dengan tatapan pura-pura mengintimidasi.
“Aku ini akan jadi kakakmu!”
“Hahaha, aku tak peduli!” sahut Ari mengerjainya.
Lalu lagi-lagi, saat Bara hendak membalasnya, ia menyadari sesuatu dan mengatakannya. Sesuatu yang tiba-tiba menjadi cukup serius di benaknya. Yaitu ....
“Apa kamu akan percaya pada semua mimpi yang akan kita alami? Atau dengan kata lain, apa kamu akan percaya dengan semua yang akan kita ramalkan dalam mimpi kita?” tanyanya penasaran pada jawaban yang akan diberikan oleh Ari. Ari sendiri menyipitkan matanya sedikit dan terlihat berpikir untuk sejenak.
“Bila itu adalah mimpi yang buruk, aku tidak akan mempercayainya. Namun, bila itu adalah mimpi yang indah, aku akan percaya dan akan berusaha mewujudkannya sendiri. Karena ramalan tetap hanya ramalan, dan kebenaran tetap adalah takdir. Takdir akan tetap menjadi takdir. Seperti apa yang telah kita sepakati.”
Ari menjawab dengan panjang lebar. Membuat mereka mengakhirinya dengan senyuman. Senyuman bahwa mereka sepakat tentang hal itu. Kini, saatnya menyambung hidup mereka dengan kisah yang baru. Semoga bahagia menanti di langkah berikutnya.