Pagi di SMA Purnama. Dua orang pemuda seolah menjadi sorotan bagi daun dan angin yang ada di sekeliling mereka. Satunya, yakni Ari sedang berdiri di depan pagar sambil menyesap susu dengan satu tangan dan tangan lainnya memegang kresek berisi satu susu yang sama.
Satu orang lainnya adalah Bara yang langsung berhenti saat melihat kawan barunya itu. Ia berdiri sekitar tiga meter di depan Ari. Melihat Bara yang diam di tempatnya, sontak laki-laki itu membuat lagak sambil berkacak pinggang. Seolah ia adalah seorang guru yang sedang memarahi muridnya yang sedang terlambat.
Bara pun menyerah. Ia melepaskan senyum dan melangkah mendekati pria itu. Dan itu disambut baik oleh pria di sana yang langsung membalasnya dengan senyuman meneduhkan.
“Ini, kubelikan satu untukmu!” Ari menyodorkan kresek di tangannya kepada Bara. Tanpa berpikir panjang, Bara langsung mengambilnya.
“Apa kamu memang biasa sekolah sepagi ini?” tanya Bara mencoba berbasa-basi.
Pertanyaan itu juga sekaligus untuk mengaburkan isi kepalanya yang selalu ingin bertanya soal mimpi yang ia alami semalam. Dia khawatir kalau Ari akan takut atau semacamnya bila dirinya membeberkan soal mimpi tersebut.
Namun, hal berbeda justru dilakukan oleh Ari. Laki-laki itu memilih menghadapi semuanya dengan berani. Seperti kata yang sering di dengarnya dari tokoh-tokoh kesukaannya. Kata-kata yang kini diulanginya sendiri.
Kamu tidak akan pernah tahu bagaimana hasilnya bila tidak mencoba.
Ya, begitulah dia memacu dirinya saat berhadapan dengan rasa takut atau ragu. Karena laki-laki itu memang tidak bisa mengetahui hasilnya bila tidak mencoba. Yang ada dia hanya akan membayangkan hal-hal yang mungkin saja tidak akan terjadi. Jadi kenapa harus takut mencoba?
“Apa kamu mendapat mimpi semalam?” tanya Ari sembari berhenti sejenak untuk melihat ekspresi wajah Bara.
Bara, laki-laki yang sedang ditanya itu mengangkat wajahnya untuk menatap mata si penanya. Ia sekejap heran mengapa pria itu bisa begitu tegar setelah mendapatkan mimpi buruk tentang dirinya sendiri.
Sementara Ari justru bertanya-tanya tentang raut wajah Bara yang lebih seperti heran, penasaran dan agak iba alih-alih merasa takut karena bermimpi tentang hal buruk terjadi pada dirinya sendiri.
Kedua pemuda itu sama-sama tidak menyadari bahwa mereka hanya memimpikan nasib yang lain. Tak ada yang mendapat mimpi tentang diri sendiri. Sayangnya, hal itu tak sempat mereka perjelas karena bel masuk tiba-tiba saja sudah berbunyi. Maka Ari pun mengambil alih untuk menutup kasus.
“Ingat, takdir akan tetap menjadi takdir meski kita sudah mengetahuinya!” katanya kemudian merangkul Bara untuk melanjutkan perjalanan menuju kelas.
“Dan melihat masa depan bukanlah kepastian. Karena takdir tetaplah milik Tuhan. Sekalipun kita melihat bahwa kita meraih nobel di masa depan, bila kita hanya berdiam diri saja, apakah itu akan mungkin menjadi nyata? Tentu tidak. Karena itu, melihat masa depan bukanlah kepastian.”
Entah datang dari mana kata-kata yang diucapkan oleh Bara tersebut. Ia hanya berharap bahwa Ari akan lebih tenang setelah mendengar itu. Ia berharap bahwa Ari akan lebih optimis pada masa depan dan tidak berputus asa.
Sementara Ari, laki-laki itu justru merasa tenang karena alasan yang berbeda. Karena ia merasa bahwa Bara rupanya lebih tegar dari yang ia kira. Bahwa laki-laki itu siap dengan segala kemungkinannya dan optimis bahwa takdirnya tak berakhir buruk.
Namun, tetap saja, keduanya salah paham. Dan mereka tak sadar akan hal itu.
***
Dan berlalulah angin melalui jendela-jendela kelas X IPA-1 di SMA Purnama. Bel istirahat pertama baru saja berhenti melengking di sekolah itu. Ari dan Bara pun mencoba menghibur diri dari topik pembicaraan tadi pagi dengan sama-sama menghabiskan waktu ke kantin. Ya, mereka memilih ke sana sebelum ke Laboratorium Fisika dan mulai membahas agenda penelitian yang dicetus sejak kemarin.
Dalam waktu satu hari, kedua pemuda itu entah bagaimana bisa langsung sedekat itu. Walaupun mempunyai kesamaan, biasanya orang-orang perlu waktu beberapa hari agar bisa benar-benar cocok dengan teman barunya. Namun, mereka berbeda, benar-benar dalam satu hari dan mereka sudah seakrab itu. Seperti yang mereka lakukan saat ini.
“Bagaimana kalau si cantik yang itu?” kata Ari sambil menunjuk seorang gadis dengan dagunya. Mereka saat ini sedang membicarakan gadis mana saja yang jomlo di antara puluhan siswi yang sedang menyebar di seantero kantin.
Bara melihat gadis yang ditunjuk sekilas dan memberi senyum kilat kepada Ari.
“Namanya Resti. Masih jomlo karena menungguku.”
What?!” seru Ari karena kaget. Ia terkejut melihat ekspresi percaya diri Bara dan tetap menatapnya seolah menagih kejujuran.
“Apa?” tanya Bara memprotes tatapan Ari yang tak percaya padanya.
“Aku berkata jujur,” katanya lagi, tak ingin diremehkan.
“Aku tak percaya gadis secantik itu mau padamu!” ujar Ari membuat Bara melayangkan tatapan tajamnya. Ari terkekeh kecil.
“Tapi sepertinya aku pernah melihat gadis itu,” kata pria itu sembari berpikir. “Ah, kemarin waktu mencarimu, aku bertanya padanya. Dia gadis yang baik, suaranya halus dan senyumnya manis.”
Bara menyipitkan mata menatap Ari. Yang ditatap malah menyeringai nakal sambil mengangkat sebelah alisnya.
“Tak perlu mencoba, hasilnya akan tetap sama!” ucap Bara memperingatkan.
“Oh ya? Sebaiknya jangan terlalu percaya diri. Karena kalau dia sudah jadi milikku, kamu punya siapa lagi?”
“Ah, baiklah. Kamu boleh mengambilnya. Kamu kelihatan seperti seorang adik yang tak ingin kalah dari kakaknya.”
Kali ini Ari hanya merespon dengan mata mengerjap tak mengerti. Apa maksudnya yang barusan itu?
“Apa kamu bilang aku adalah adikmu?” tanyanya baru memahami.
“Tentu saja, kalau kamu cukup pintar untuk mengerti!” sahut Bara kembali bermain lebih tinggi. Ari tak mau terima. Dia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah bukti. Foto kartu keluarganya.
“Aku lahir 7 Mei 2003, apa kamu lahir lebih dulu dariku?” tanyanya penuh nada menantang. Bara hanya tersenyum dan menunjukkan kalender di ponselnya. Di sana, ada tanggal yang ditandai sebagai hari ulang tahun Bara Pramudia.
“2 Mei 2003,” katanya mantap dengan senyum kemenangan.
“Aku tak percaya!” sahut Ari masih tak mau kalah. Ia masih kukuh mengatakan dirinya lebih dewasa dari Bara. Sementara pria itu menggeleng meremehkan.
“Kamu bisa menunggu buktinya, Adik Kecil!” gumam Bara membalas lawannya.
Ari pun berjalan mendahuluinya dengan segera setelah mengambil makanan pesanan mereka—bertingkah kekanakan. Dia menuju Laboratorium Fisika membawa beberapa camilan dan minuman. Mereka harus segera memulai penelitian.
“Baik, akhirnya kalian di sini juga!” seru Andi saat melihat Ari dan Bara memasuki ruang lab. Kedua pemuda yang disambut hanya mengangguk dan segera menduduki kursi di dekatnya.
Mereka pun memulai dengan apa yang Ari dapat dari ibunya semalam. Tentang siapa saja yang bisa mengalami precognitive dream dan kenapa harus mereka.
“Pertama, aku harus menjelaskan bahwa ibuku adalah analis bagian penelitian di sebuah perusahaan tempatnya bekerja dulu. Beliau katanya sempat disuruh meneliti tentang precognitive dream sebelum kami pindah ke sini.”
“Katanya, semua orang punya potensi mengalami kejadian aneh ini. Tapi, ada jenis orang-orang tertentu yang mengalaminya lebih sering dari orang lain—”
“Pertama adalah orang-orang yang kondisi emosinya lebih terkendali. Kedua adalah jenis orang kreatif. Aku pernah mendengarnya. Dan sepertinya aku termasuk yang emosinya terkendali,” potong Bara untuk ikut masuk dalam penjelasan. Ari sendiri langsung mengangguk mendapati anak itu sudah lebih dulu tahu.
“Dan aku sepertinya termasuk dalam orang yang kreatif. Aku tidak yakin. Yang pasti aku bukan tipe orang yang emosinya bisa terkontrol mudah. Caraku mengontrolnya hanya dengan melampiaskan mereka—”
“Dengan cara menghajar mereka!” seru seseorang lagi memotong kata-kata Ari. Kali ini Andi yang melakukannya. Dia memamerkan gigi mengejek Ari dan laki-laki itu sama sekali tak tersinggung. Malah balik membalas dengan senyuman.
“Lalu untuk teori-teori kejadiannya, kamu sudah tahu?” tanya Ari mengantisipasi Bara. Ia merasa tak perlu menjelaskan bila Bara sudah mengetahuinya. Namun, Bara memilih mengulas kembali toeri yang pernah ia tahu tersebut. Setidaknya hanya untuk memastikan mereka sepemikiran.
Bara mengangguk dan segera memberi penjelasan.
“Yang pernah kubaca, sih, ada tiga: Law of Large Numbers, Bias Memori dan Teori Frekuensi,” katanya menyebutkan. Ari pun membalas dengan anggukan bahwa keduanya mendapat hal yang sama. Lalu Ari menanyai Bara soal teori mana yang lebih dipercayainya.
Bara menggeleng tak yakin. Dia merasa percaya pada ketiga teori itu karena semuanya terdengar masuk akal. Dimulai dari Law of Large Numbers: umpama ada 200 juta jiwa dan setiap satu orang memimpikan satu prediksi masa depan. Maka bukan hal yang salah kalau salah satunya benar. Seperti orang-orang yang bertaruh pada masing-masing satu angka dari 1 sampai 200 juta, pasti ada satu yang akan memenangkannya.
“Tapi apa semua orang memimpikan satu hal secara bersamaan hanya dengan perubahan sedikit pada alur-alurnya? Siapa yang tahu?” katanya menyatakan kebingungan atau kekurangan dari teori ini. Ari hanya menyimpan senyum untuk pikiran itu.
“Lalu ada teori Bias Memori yang mungkin akan mendukung teori itu, bahwa kita hanya mengingat mimpi yang terjadi dan yang tidak terjadi akan terbuang begitu saja. Tapi menurutku itu tidak menjelaskan bagaimana precognitive dream terjadi. Tidak menjelaskan kenapa orang itu mendapat mimpi yang kemudian jadi nyata. Dan semua itu tidak bisa dijawab hanya dengan kata ‘random’ atau ‘acak’!” katanya lagi seolah membeberkan semua kegundahan yang telah membebaninya selama ini.
Hal itu mungkin saja terjadi pada Bara. Pada seseorang yang selama hidupnya begitu sering mendapat kisah menyakitkan yang lebih dulu datang dalam mimpinya sendiri. Seolah membuat dia harus merasakan kejadian itu dua kali lipat yang tentunya akan mengalikan rasa sakit yang dia alami juga.
Lalu saat laki-laki itu bertanya pada dunia, mereka seolah mengatakan bahwa yang dialaminya hanya sebuah kebetulan. Sebuah kejadian acak. Yang membuatnya merasa diperlakukan secara tidak adil.
“Yang seperti ini disebut acak? Lalu kapan yang acak itu akan menjadi perhatian? Tidak pernah.” Dia merasa selalu diabaikan dan diremehkan. Bahwa kemampuannya tidaklah penting, padahal dia sendiri menderita karena mimpi yang dialami.
Hingga Ari menyadarkannya dari lamunan dan meminta pendapatnya soal Teori Frekuensi. Laki-laki itu meminta Bara untuk tetap kuat dan meneruskan apa yang telah dimulainya. Mencoba mencari penjelasan atas hal ini sendiri.
Maka Bara pun berhasil mengembalikan semangatnya. Ia menegaskan senyum dan bersiap mengeluarkan semua penjelasan yang telah ia pelajari di kepalanya. Mengenai Teori Frekuensi, satu-satunya teori yang memberinya harapan hingga saat ini. Ya, dan dia berharap semua itu akan terungkap seiring berjalannya waktu.