Ari pulang dari sekolah baru dan menemukan ibunya sudah siap dengan dua piring nasi bungkus di atas meja. Ada sambal pedas juga, seperti beberapa hari yang lalu di rumah mereka yang dulu. Sontak pria itu mencoba mengulas senyum semangat, agar sang ibu tak kecewa.
Rupanya yang seperti ini tak buruk juga. Sahut hatinya dengan bahagia saat melihat Ida juga bahagia. Mereka lantas saling menanyakan hari baru masing-masing sembari menggerakkan tangan untuk bersiap makan.
“Aku bahkan mengalami hal yang tak terduga di sekolah baruku tadi,” sahut Ari menjadi semakin terbuka kepada ibunya.
Andai dia menyadari yang dirinya lakukan saat ini, laki-laki itu pasti akan mengharapkan hal seperti ini terjadi sejak dirinya masih kecil dulu. Ya, maksudnya, tidak berhenti saat ayahnya pergi meninggalkan mereka. Saat ibunya tiba-tiba saja berubah.
“Hal seperti apa?” tanya Ida mulai menyendokkan nasi ke mulutnya seakan mereka berdua adalah teman makan yang biasa menghabiskan waktu bersama mengobrol di meja makan.
“Hm ....” Ari mencoba menyelesaikan kunyahannya dulu sebelum mulai menjawab pertanyaan sang ibu, yang mungkin akan ia buka dengan pertanyaan lebih dulu.
Tangan Ida sendiri bergerak mendekatkan minuman ke arah anaknya. Mungkin saja pemuda itu akan butuh minum. Ia sendiri yang baru mulai memasukkan satu sendok nasi ke mulutnya entah kenapa sudah mulai terasa haus.
Tunggu habis di mulut saja baru minum. Katanya dalam hati sambil terus menyelesaikan kunyahan. Sementara sang anak tampak menyeruput sedikit air minum yang ia sodorkan sebelum kembali bersuara untuk menjawab pertanyaan.
“Aku melihat mimpiku jadi nyata. Awalnya aku kira itu hanya deja vu, tapi setelah aku ingat lagi, aku yakin itu mimpi. Dan aku lihat, ibu sedang meneliti tentang itu, yah? Maksudku, tentang mimpi. Di catatan ibu, katanya mimpi itu dibuat dari pengetahuan alam bawah sadar. Katanya orang-orang yang ada dalam mimpi sebenarnya pernah kita lihat di dunia nyata walau kita tidak mengenalnya. Tapi, aku malah bermimpi soal seseorang yang belum pernah aku lihat. Dan kejadiannya malah sama persis. Apa ibu lebih percaya yang ada di catatan ibu?” kata Ari jelas sambil menggigit-gigit kecil paha ayam goreng yang ada di hadapannya.
Ida sendiri yang mendapat penjelasan itu segera mengakhiri kunyahannya dan meneguk minum sedikit agar memperlancar kata-kata yang akan dikeluarkannya. Dari wajahnya sendiri, tampak jelas bahwa dia agak terkejut dengan cerita anaknya tersebut. Karena dia sebaliknya, justru sedang mencari precog dreamer seperti Ari.
“Ibu percaya dengan isi catatan itu, tapi bukan berarti tidak percaya dengan precognitive dream. Ibu justru sedang menelitinya, karena itu ibu bandingkan dengan yang kamu lihat dalam catatan.” Wanita itu lantas mengamati ekspresi anaknya yang sudah kembali dengan kunyahan makanannya sebelum kemudian kembali berujar untuk menunda semua pembicaraan itu.
“Makan dulu saja, nanti kita lanjutkan!” sahut perempuan itu kemudian kembali fokus pada nasi di depannya.
Sang putra hanya membalas dengan senyuman sebelum larut dalam kunyahan-kunyahannya yang tampak begitu menikmati. Sesekali mulutnya membuat lingkaran kecil dan mendesis-desis karena kepedasan. Sambal pedas itu berhasil membuatnya kewalahan dan itu membuat ibunya terbahak-bahak menikmati rautnya yang begitu menggemaskan.
Sesekali mulut mereka juga menggumamkan kata nikmat setelah mengunyah daging ayam yang lezat dan gurih sambil membiarkan aliran sambal pedas beradu dengan lidah mereka.
Hm, malam yang nikmat.
***
6 Tahun yang Lalu.
Di rumahnya, Ari kecil sedang tertidur dan memimpikan bermain pesawat-pesawatan dengan sang ayah. Sementara di kamar mereka, kedua orang tuanya tampak sedang berselisih dengan keadaan Ida tampak sudah meneteskan air mata, memohon agar suaminya tidak pergi. Perempuan itu bahkan berusaha memeluk kaki suaminya untuk menguatkan permohonan itu.
Namun, Bowo, sang suami yang betah dengan setelan jasnya itu, tetap dengan pendiriannya semula. Dia pun menarik kakinya lepas dari pelukan sang istri dan melangkah menyeret kopernya keluar. Pria dewasa itu akan pergi, meninggalkan Ida dan putra semata wayang mereka sendiri di rumah itu. Meninggalkan selembar map berisi surat cerai yang seakan menatap kepergiannya dari atas ranjang.
Keesokan harinya, Ari kecil yang terbangun lebih awal segera mengetuk pintu kamar orang tuanya. Ia berharap bisa mengajak sang ayah salat subuh bersama waktu itu. Namun, nihil, di sana hanya ada sang ibu yang membuka pintu dengan wajah kusutnya.
“Ibu, ayah mana? Apa sudah berangkat ke masjid? Kenapa tidak mengajak aku?” kata si kecil membanting-banting kaki. Namun, tebakannya itu salah besar dan sang ibu yang matanya masih sembab hanya bisa merintih dalam hati. Bagaimana cara ia menjelaskan kondisi itu pada sang anak yang sangat menyayangi ayahnya.
“Ayahmu sudah berangkat kerja lebih cepat, Nak. Dia harus bertemu pagi-pagi dengan temannya di Singapura. Jadi perginya subuh.” Ida mencoba berbohong.
Ari kecil kemudian tampak melemas dan menggumam kecewa. Ia akhirnya terpaksa berjalan sendirian ke masjid dekat rumahnya. Sama sekali tak menghiraukan kata-kata penghibur atau bujukan dari ibunya yang memang masih bingung mengatasi masalah mereka saat ini.
Lalu kemudian waktu berjalan dan terus berjalan. Hari-hari berlalu dengan Ari yang selalu mempertanyakan keberadaan ayahnya. Laki-laki kecil itu mulai bisa merajuk, mogok makan dan banyak tingkah lainnya yang membuat sang ibu kewalahan.
Dirinya yang sedari awal sudah berbohong, membuat Ida semakin jatuh dalam kubangan yang dibuatnya sendiri. Perempuan itu kemudian berusaha mencari cara agar bisa menghindari sikap ngeyel si kecil hingga akhirnya dia mulai menyewa pembantu dengan sisa uang pemberian suaminya. Gaji pekerjaannya pun lebih banyak ditabung oleh wanita itu untuk menyiapkan masa depan si kecil.
Sejak saat itu, Ari mulai merasa bahwa dirinya diabaikan oleh sang ibu. Merasa selalu sendiri dan hidup sebatang kara. Walaupun punya pembantu, saat usianya menginjak angka 12, anak itu sudah mulai mogok sarapan di rumah. Pulang sore sebelum ibunya pulang dari kantor dan makan-makanan hanya dari luar rumah.
Mengetahui hal itu dilakukan anaknya, Ida hendak mencoba mengubah keadaan di rumah mereka. Namun, di luar kendali, perekonomian mereka terkuras untuk memperbaiki mobil yang tiba-tiba rusak. Pekerjaan di kantornya bertambah semakin banyak dan dirinya mulai sulit mengontrol emosi.
Dua tahun kemudian, saat Ari menginjak 14 tahun, mereka sudah tak punya pembantu lagi. Dan keduanya hidup seakan tak saling bergantungan meski hidup seatap selantai. Mereka hanya berinteraksi di saat-saat yang sangat diperlukan saja. Dan itu dilakukan dengan cara yang dingin juga.
Hingga dua minggu lalu, saat Ari berulang tahun dan dirinya merasa begitu merindukan sosok sang ayah, yang dia harapkan hanyalah pulang dan menemukan ayahnya sudah menunggu di rumah. Berharap bisa mencurahkan isi hati pada laki-laki itu tentang betapa tak pedulinya sang ibu pada dirinya.
Namun, nihil, yang ada ketika dia memasuki rumah dengan pencahayaan temaram itu, Ida sudah menunggunya dengan lembaran-lembaran surat dan sejuta kata protes yang ada di kepalanya. Dan perempuan itu tak memberi aba-aba. Mulutnya begitu saja melempar kesal secara serampangan kepada pemuda yang sedang penuh dengan hormon itu.
“Dari mana saja?” katanya mulai mengintimidasi dengan tangan lurus ke bawah mengepal lembaran surat yang datang dari sekolah anaknya.
Ari tak menjawab.
“IBU BILANG, DARI MANA SAJA?” teriakan perempuan itu tak terelakkan. Wajah Ari mulai sendu. Rapuh. Laki-laki itu rapuh.
“Apa maksud kamu dengan semua ini, Ri? Kamu mau mempermalukan ibu? Hah?!” tanya wanita itu sekali lagi. Kali ini volume suaranya merendah. Namun, kesan kesal dan tegas di dalamnya masih terasa kental.
“Atau kamu mau mencari perhatian ibu?Agar ibu menganggap kamu ada? Kamu pikir begini caranya, Hah? JAWAB IBU! JAWAB IBU, ARI!!”
Ari mengangkat wajahnya, menatap ibunya lekat-lekat. Jiwa rapuhnya sekejap hancur, termakan emosi yang dibangkitkan sang ibu lewat kata-katanya sendiri. Membuat sang anak mengeluarkan kebohongan demi membuat sang ibu takluk.
“Ya, aku memang melakukannya demi mencari perhatian ibu. Agar ibu menganggap aku ada. Apa ibu pernah menganggap aku ada? Jangan-jangan tidak. Atau ...,” kata-katanya tertahan sejenak, “apa ibu tak pernah menginginkan aku ada? Apa aku hanya anak pungut? Atau jangan-jangan … hasil perkosaan?”
Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Ari. Ia bahkan terkejut bisa mengatakannya. Namun, tak meminta maaf. Dan dalam sepersekian detik berikutnya, suara tamparan keras terdengar dari pipi kirinya. Itu dilakukan begitu saja oleh sang ibu yang juga merasa begitu kalut.
“Harusnya aku tak pernah melahirkanmu.”
Lagi-lagi air mata kembali jatuh, baik dari Ida maupun sang anak. Laki-laki itu kemudian menggeleng kecil. Ia kemudian melangkah pergi meninggalkan ibunya. Itulah pertengkaran terakhir mereka sebelum kemudian kembali bertemu di kantor polisi beberapa hari lalu.
Kini, anak dan ibu itu menghabiskan waktu bersama untuk menikmati makan malam mereka. Setelah itu, mulai melanjutkan pembicaraan yang tertunda. Tentang mimpi yang menjadi nyata. Sementara di tempat lain di bumi yang sama, seorang Bara sedang duduk di antara teman-temannya, para remaja masjid yang sedang membujuknya meneliti sesuatu.
Kedua pemuda itu sama-sama tersenyum, menikmati apa yang mereka lakukan. Mempelajari dan menemukan pengetahuan baru. Ari dengan teori-teori seputar mimpi yang dijelaskan oleh ibunya dan Bara dengan suguhan-suguhan dalil agama yang sedang dibacanya.
Hingga mereka beranjak tidur. Memasuki sebuah alam yang sunyi dan gelap. Dan perlahan menemukan mimpi yang tidak mereka inginkan. Mimpi buruk yang membuat jantung berdebar kencang. Yang membuat mereka segera mengambil wudu dan berdoa kepada Tuhan. Sebuah doa yang benar-benar memelas.
Ari melihat darah di wajah Bara. Dan Bara melihat darah di wajah Ari. Mereka berdua sama-sama mendengar satu kata dari mulut masing-masing pada saat itu. Kata yang kini mereka ucap bersamaan dalam doa. Doa yang benar-benar penuh harap.
“Tuhan, jangan ambil dia dulu!”


0 Comments