“Oke, kata orang, tak kenal maka tak sayang. Jadi agar kerja sama kita tidak canggung, bagaimana kalau kita buka pertemuan perdana ini dengan bermain game?” Andi menyahut santai saat dirinya duduk berhadapan—membuat segitiga—dengan Ari dan juga Bara.
Beberapa jam setelah istirahat kedua, tepatnya setelah bel pulang berdering, mereka sepakat untuk memulai penelitian di tempat mereka akan sering bertemu, Laboratorium Fisika.
Ari tampaknya penasaran dengan permainan apa yang akan diusulkan oleh Andi. Sementara Bara, karena sudah berteman dengan Andi sejak masuk di SMA ini, dia hanya mengulas senyum sederhana tanda antusias. Maka melihat ekspresi dari keduanya, Andi pun menyegerakan permulaan dari permainan yang dikatakannya itu.
“Permainan Super Kepo!” Andi menyahut sambil nyengir.
“Dalam permainan ini, kita akan diberikan hak untuk bertanya kepada dua lainnya secara bebas dan wajib dijawab jujur. Akan ada tiga babak, satu babak berisi tiga giliran untuk tiga penanya. Satu giliran, dua pertanyaan untuk dua orang penjawab.”
“Contoh: giliran pertama, Ari. Ari akan bertanya pada Andi dan Bara masing-masing satu pertanyaan. Setelah dijawab, permainan akan dilanjutkan dengan giliran pemain berikutnya dan berputar sampai habis giliran masing-masing. Oke?”
“Oke,” ucap Ari mengangguk pelan dan Bara hanya menyahut santai.
“Dan satu lagi! Tidak boleh tidak bertanya. Buat pertanyaan kalian berguna sebisa mungkin untuk mengorek informasi dari teman baru kalian!” Andi tersenyum jail.
Lagi-lagi Ari hanya menyambut dengan anggukan pelan dan Bara tersenyum santai.
“Oke, sekarang, mari kita mulai dengan ... Bara!”
Andi memulai dengan menunjuk Bara sebagai penanya pertama. Laki-laki itu membulatkan matanya dan mulai menegakkan duduk yang semula hanya bersandar santai dengan gerak kepala mengangguk ringan.
Sejenak ia menggelengkan kepala, mencari fokus sambil tersenyum. Sementara Ari memandanginya dengan pandangan penasaran soal pertanyaan pertama yang akan dikeluarkan.
“Oke,” ucap Bara membuka sambil tersenyum ke arah Andi. Andi membalas dengan senyuman sigap karena tahu bahwa dia yang akan ditanyai lebih dulu oleh Bara.
“Pertanyaan untuk Andi, sudah berapa kali kamu memainkan permainan ini?” dan senyum langsung berkembang di wajah Ari. Pertanyaan itu jelas-jelas mencoba menjatuhkan Andi. Karena mungkin, dua orang itu sudah sering memainkan permainan ini.
Hal itu sekilas tampak memberi informasi baru bagi Ari yang baru mengenal mereka. Tapi ternyata tidak. Jawaban Andi justru akan membuat Ari heran.
Setelah cengar-cengir tak jelas, yang ditanya pun mulai menjawab.
“5? 6? 7?” tanyanya seakan sedang mencoba untuk menghitungnya.
“Ayolah, kalau berbohong, kamu akan dapat hukuman!” sahut Bara kembali mengancam.
“Baik baik baik.” Andi mengalah.
“Baru dua kali. Yang pertama adalah denganmu,” katanya jujur dan polos.
Dan begitulah, Ari kemudian membulatkan matanya seakan habis ditipu dengan gelagat mereka yang mengecoh. Ia kira kedua pemuda itu sudah sangat sering memainkan permainan ini. Dia baru saja hendak menanyakan kenapa, sebelum Bara kemudian beralih ke dirinya.
“Selanjutnya Ari,” ucap laki-laki itu menjeda. Ari tentu saja langsung terdiam, fokus pada pertanyaan yang akan diajukan pada dirinya. Dan entah kenapa, sialnya, dia mulai merasa gugup dalam dirinya.
Padahal ini hanya permainan! Bisik dirinya dalam hati. Ia benar-benar tidak sering bermain yang seperti ini. Seringnya hanya mengamati teman-temannya yang berlawak sendiri. Namun, kini dia harus menjawab, tak perlu membuang waktu.
“Kenapa, kamu berubah pikiran dan mau bergabung untuk meneliti soal mimpi ini? Katakan dengan jujur dan coba sejelas mungkin!”
Ari memanyunkan bibir, ia berpikir mau menjawab dengan apa. Pria itu tadinya cukup kaget menyadari mimpinya jadi kenyataan. Namun, yang lebih mengejutkan lagi adalah ucapan Bara yang berkata mempunyai mimpi yang sama.
Awalnya Ari sempat tak percaya. Dia bahkan memilih meninggalkan Bara dan pamannya untuk memikirkan semua itu sendiri. Namun, karena dihantui rasa penasaran akan pertanyaan Apakah hal itu mungkin atau tidak? dia kembali membuka artikel soal mimpi yang nyata dalam ponselnya dan mendapat curhatan-curhatan yang menyedihkan itu.
“Karena, jujur saja, saat kamu memprotes soal mimpi buruk, aku juga jadi kepikiran. Yang tadi saja sudah buruk, bagaimana kalau ada yang lebih buruk lagi?”
“Akhirnya aku menemukan jawaban atas itu. Bahwa aku bukan penyebab mimpi itu terjadi. Aku hanya melihatnya lebih dulu sebelum benar-benar terjadi. Lalu bila mimpi itu tidak terjadi? Berarti itu bukan precognitive dream dan aku justru akan senang.”
“Jadi agar aku tidak pusing sendirian, dan aku rasa, agar kamu juga tidak menggangguku dengan keluhan-keluhanmu, sepertinya, aku sebaiknya mencoba memahaminya. Lagi pula, akhir-akhir ini banyak keputusan aneh yang telah kuambil. Jadi, ya, tak masalah bergabung denganmu. Begitu,” jawab Ari panjang yang dijawab dengan anggukan lembut dari Bara. Laki-laki itu mencoba menunjukkan bahwa dirinya paham atas penjelasan Ari.
“Baik, sekarang giliran ... Andi!” sahut Andi menunjuk dirinya sendiri sebagai penanya berikutnya. Kali ini dia dengan semangat menegakkan duduknya yang semula membungkuk karena mencoba berkonsentrasi pada jawaban yang diceritakan oleh Ari.
Maka dimulailah giliran pria itu.
“Aku punya pertanyaan untuk Ari,” buka Andi menengok wajah Ari. Pemuda itu menegakkan duduk kembali bersiap menjawab pertanyaan berikut yang ditujukan kepadanya.
“Apa warna kesukaan kamu dan kenapa?” tanya Andi kemudian tampak sama sekali tidak berniat untuk membicarakan hal yang serius dan malah mengulas senyum kecil dengan alisnya yang tebal. Ari sendiri hanya tersenyum sebelum mulai menjawab.
“Aku suka warna merah muda. Karena saat aku melihat gadis yang memakainya, mereka akan tampak sangat manis,” jawab Ari sambil mengangkat sebelah alisnya pada bagian akhir. Sontak itu membuat Andi dan Bara tergelitik hatinya mengetahui laki-laki itu begitu jujur.
“Lalu bagaimana kalau kamu yang memakainya?” tanya Andi lagi mencoba mengorek lebih. Namun, Ari bukan orang sebaik itu. Ia mengangkat telunjuk dan menggoyangkannya elegan.
“Hanya satu pertanyaan!” katanya mengingatkan seakan bersorak bangga.
Andi pun mengacak rambutnya frustrasi seakan ingin sekali mendengar jawaban untuk itu. Hingga waktu pun memaksanya untuk meneruskan permainan. Kali ini giliran Bara yang harus menjawab pertanyaan darinya.
“Untuk Bara, kenapa kamu berpikir bahwa kamu mungkin sudah menyebabkan apa yang kamu mimpikan itu menjadi nyata?” tanya Andi kembali tiba-tiba tampak serius. Bara sendiri hanya mencoba tersenyum kecut sebelum mulai menjawab.
Sementara Ari hanya mengamati sambil bertanya-tanya kenapa Andi tiba-tiba menanyai hal serius begitu pada Bara. Padahal sejak tadi anak itu hanya bertanya dan menjawab untuk tertawa.
“Entahlah,” kata Bara mulai menjawab, “mungkin karena aku kehilangan ibuku,” katanya masih menyimpan lanjutan.
“Karena aku pernah berpikir bahwa ibuku mati karena aku—di waktu kecil. Mungkin karena anaknya adalah pembawa sial, seorang peramal yang membawa kesialan bagi orang-orang yang dimimpikan,” katanya lagi mencoba menutup kasus.
Ari yang melihat itu juga jadi tak tega. Ia pun segera membuka suara untuk menahan Bara jadi lebih sedih.
“Dan sekarang giliran aku!” katanya memotong semua kesedihan itu.
Wajah Bara masih tampak menunduk menutupi rasa kesedihannya yang datang tiba-tiba. Sementara Andi menatap Ari dengan tatapan bersahaja yang penuh harap. Dia mengharapkan sesuatu dari anak baru itu. Ya, dan harapannya terkabul.
“Untuk Bara, apa kamu tahu bahwa kamu tidak bersalah atas hal itu?” tanya Ari memenuhi harapan besar Andi. Karena jujur, bagi Andi, bukan hal yang mudah untuk menghapuskan keraguan serta rasa bersalah yang entah bagaimana bisa ada dalam diri sahabatnya tersebut.
“Dan kamu harus menjawab jujur!” sahut pemuda itu lagi agar Bara mau menghadapi ketakutannya dengan berani.
Maka Bara pun mengangkat kepalanya menghadap Ari. Ia berusaha tegas dan jujur pada dirinya sendiri. Karena laki-laki itu sebenarnya tahu apa jawaban yang benar untuk dirinya itu. Hanya saja ia kesulitan mengakuinya selama ini.
Bara mengangguk.
“Kamu benar, aku tahu bahwa aku tidak salah dalam hal itu. Karena bila itu memang takdir, ia akan tetap menjadi takdir walaupun aku mengetahuinya.”
Ari tersenyum lebar. Begitu juga dengan Andi. Bara menggigit bibir dalamnya sendiri. Ini adalah jawaban yang benar. Ia berusaha mengingatkan dirinya sendiri. Karena itu memang benar.
“Sekarang untukku!” sahut Andi mengambil alih. Dia meminta Ari untuk cepat-cepat memberi pertanyaan kepadanya. Jelas itu membuat Ari tertawa melihat tingkah kekanakannya.
“Baiklah, untukmu, aku punya satu pertanyaan pertama. Kamu siap menjadi teman baik kami selamanya?” sebuah pertanyaan yang sebenarnya tidak termasuk dalam kategori penasaran, lebih-lebih label Kepo. Namun, itulah, pertanyaan itu masih menagih jawaban.
“Dan jawabannya adalah iya.”
Dan dengan senang hati. Ucap Andi yang separuhnya tak terdengar oleh telinga Ari dan Bara.
“Sekarang giliran siapa lagi?” tanya Ari kemudian karena sudah puas dengan jawaban Andi.
“Sekarang giliran Bara.”
Bara pun mengambil alih. Dia kembali merapikan duduknya dan mulai memikirkan pertanyaan baru.
“Untuk Ari. Aku lihat kamu sangat hebat dalam berkelahi. Apa kamu anggota gangster?”
“JIAH.. HAHAHA ....” Tawa itu meledak begitu saja dari mulut dua pendengarnya.
Apakah itu pertanyaan yang begitu lucu? Bara jadi bingung dengan tanggapan yang diberikan oleh keduanya. Ia lantas memeluk dada dan menampilkan raut cemberut hingga membuat kedua orang lainnya berhenti tertawa.
“Maaf, maaf! Aku sudah lama tidak mendengar kata gangster. Jadinya lucu saja,” terang Ari masih dengan sedikit tawa yang tersisa. Setelah mendengar itu, Bara mencoba mengatur duduknya meski dengan wajah yang masih cemberut. Ia masih belum puas dengan jawaban itu.
“Jadi, dulu aku sangat kesal pada seseorang. Saking kesalnya, di mana-mana aku melampiaskan kekesalanku dengan cara memukul atau menghancurkan barang. Sampai satu hari ada seorang pelatih tinju yang menemukan aku sedang bertengkar dengan temanku. Dia pun mengajak aku berlatih di tempatnya.”
“Setelah dari situ, aku mulai menjadi ahli dalam berkelahi. Mulai pandai mengatur emosi. Ya, walau kadang-kadang suka tidak terkontrol, tapi sebagian besar bisa kutekan. Tapi, bukan berarti aku berhenti berkelahi. Karena tahu aku berlatih tinju, kebanyakan temanku kalau ada masalah selalu mengajakku. Jadi saat tawuran, selalu aku yang jadi juru kunci mereka. Begitu.”
Dan sekali lagi, jawaban yang cukup panjang diberikan oleh seorang Ari. Bara yang semula memasang wajah sebal, berangsur pulih karena rasa penasarannya pada cerita itu. Dan dia hampir melontarkan pertanyaan lanjutan sebelum Andi meminta pertanyaan untuknya. Bara pun sadar bahwa satu giliran hanya satu pertanyaan untuk satu penjawab.
“Untukmu, kenapa kamu suka sekali makan kripik kentang buatan sendiri?”
“Pertanyaan mudah, aku tak suka micin. Nanti jadi lamban sepertimu!” kata Andi yang langsung mendapat desisan kesal dari si penanya. Jelas-jelas tuduhan itu tidak benar adanya. Ari sendiri hanya bisa tersenyum melihat tingkah kedua anak itu saat ini.
“Dan berikutnya giliranku!” kata Andi lagi melanjutkan sesi permainan.
Dan begitulah, hari itu mereka habiskan hanya untuk bersenang-senang saja. Belum ada arah-arah untuk memulai penjelajahan alam pikir mereka. Mungkin besok. Ya, besok. Karena hari ini, waktunya berbahagia.