Bara kecil menangis begitu keras dalam gendongan sang paman. Malam itu hujan deras mengguyur bumi dan petir menyambar bersahut-sahutan. Tak ada yang tahu pasti apa yang ada dalam pikiran si bayi mungil. Namun, mereka bisa menerka-nerka apa yang membuat tangis bayi itu begitu pecah.
“Eak... Eak....”
Tangisan itu berakhir klimaks dengan sahutan petir di ujungnya. Bayi mungil itu tertidur pulas karena kelelahan. Tak sampai beberapa menit, telepon di rumah itu berdering nyaring—seakan tak mau kalah dengan sahutan petir dan hujan deras di luar sana.
“Halo? Kediaman Pramudia, ada yang bisa kami bantu?” tanya Nisa, kakak perempuan Khairil sekaligus bibi dari Bara.
Baru saja Khairil menengok ke arah kakaknya yang sedang berbicara, ia melihat telepon itu dijatuhkan begitu saja oleh Nisa. Tentu itu membuat Khairil kaget. Sadar dari lamunannya, Nisa membalas tatapan heran adiknya dan menyampaikan berita yang baru saja ia dengar.
“Nurma, dia kambuh. Hendri sudah membawanya ke rumah sakit, tapi nyawanya tak tertolong.”
Suara tangis Nisa pun pecah dan diikuti oleh si bayi mungil. Sejenak suara tangis itu terasa begitu pilu di telinga orang dewasa yang memahami arti dari kondisi saat ini. Nurma, ibu dari Bara kecil baru saja meninggal dunia. Dan bayi mungil itu menangis seakan bisa mengetahui kebenarannya.
Bara mungil mulai bertumbuh. Saat usianya 9 tahun, dia memimpikan sebuah kejadian yang membuatnya menangis sepanjang malam. Lagi-lagi, yang ada di dekatnya hanya paman dan bibinya yang tak bisa tidur. Bapaknya sedang berada di perjalanan jauh memenuhi tuntutan kantornya.
Tak berapa lama, setelah kejadian menangis tak henti yang dilakukan oleh Bara, sebuah kabar mengenai kecelakaan bapaknya terdengar oleh Nisa. Khairil yang juga mendengarnya merasa semakin iba kepada kemenakannya itu. Lagi-lagi anak itu seakan bisa merasakan kejadian buruk yang menimpa orang tuanya.
Beruntung, tak hanya kejadian buruk yang bisa dirasakan oleh Bara kecil. Beberapa hari setelah kecelakaan, ia kembali bermimpi hingga ia tertawa dalam tidurnya. Dua hari setelah itu, bapaknya terjaga dari koma dan berangsur sehat untuk bisa bermain bersamanya.
Usia 12 tahun, Bara remaja mulai sering mengalami deja vu dan precognitive dream. Anak itu mulai menceritakan pengalamannya yang langsung dipercayai begitu saja oleh paman dan bibinya. Namun, kepercayaan seperti itu tak mudah ia dapatkan dari orang-orang lain di dekatnya.
Seperti teman sekelasnya waktu itu. Bara yang dengan ragu menceritakan pengalaman-pengalaman deja vu serta precognitive dream-nya malah dianggap membual. Mereka hanya mempercayai bagian deja vu, karena mereka juga pernah merasakan. Namun, sama sekali menolak kisah precognitive dream karena tak pernah mengalaminya.
Maka jadilah mimpi itu disimpannya sendiri. Mimpi soal teman kelasnya yang mimisan karena sakit yang diderita. Semua kisah itu hanya dicurahkannya pada satu orang, Khairil. Sementara bibinya telah pindah jauh bersama suaminya.
Sejak saat itu, Khairil paham betul bagaimana kemenakannya itu takut pada mimpi-mimpinya sendiri. Dan sejak saat itu pulalah, Khairil mulai menanamkan fokus lain dengan mengajak Bara meneliti perihal misteri dalam hidupnya itu.
Kadang Khairil juga menghalalkan segala cara agar kemenakannya tidak merasa terbebani oleh mimpi. Karena yang membuat semua itu terjadi adalah takdir, bukan karena mimpi.
Hingga hari ini, Khairil sudah bisa menjaga kemenakannya itu untuk tidak larut dalam mimpi-mimpi buruknya. Hingga pagi tadi, Bara sendiri yang menyinggung soal itu semua pada Ari. Sementara yang diajak bicara malah pergi. Mungkin Ari juga takut mendapat mimpi yang sama seperti Bara.
***
Bel istirahat kedua sudah berbunyi. Ari masih betah duduk di dalam kelas. Bahkan meski teman-teman barunya mengajak ke kantin, ia sama sekali tak menghiraukan. Matanya masih fokus membaca isi artikel dalam ponselnya.
“Apa yang harus saya lakukan? Apakah kejadian itu ada karena mimpi saya?” tanya seseorang setelah menjelaskan pengalaman-pengalamannya mendapat mimpi buruk tentang bencana yang akan datang.
“Kadang saya melihatnya sepintas tanpa tertidur, apakah itu termasuk precognitive dream? Kadang saya merasa takut, saya merasa bahwa kejadian itu ada karena mimpi saya.” Sebuah curhatan putus asa dari salah satu pembaca juga membuat Ari menjadi simpati.
Ari teringat kata-kata Bara tadi pagi soal mimpi buruk yang dialaminya. Dirinya saja yang baru bermimpi memukul orang sudah merasa gentar seperti tadi—tangannya sampai bergetar hebat karena tubuh yang ketakutan. Belum lagi kalau ia bermimpi soal kematian seseorang, kecelakaan banyak orang. Ari tak berani membayangkannya.
Ya, Ari memang hebat dalam hal berkelahi. Namun, hal seperti ini bukanlah perkara mudah. Yang pasti tak semudah meninju di kala kesal. Tak semudah berteriak di kala gundah. Ini perihal apa yang terjadi pada diri kita. Bisakah seseorang berdiam diri saat tahu sesuatu yang buruk akan terjadi?
Ari menggeleng kencang membayangkan itu terjadi pada dirinya. Segera ia kembali melanjutkan bacaan, berharap menemukan jawaban yang bisa meredam rasa takut yang mulai menggerogoti.
“Ingat, mimpi yang kalian alami bukanlah penyebab bencana itu terjadi. Mimpi-mimpi itu ada hanya sebagai pertanda. Seperti dalam film Final Destination, itu bukan salah kalian. Bagaimanapun, bencana-bencana itu akan tetap terjadi entah kalian memimpikannya atau tidak. Jadi jangan menyalahkan diri kalian. Ambil sisi positifnya, mungkin kalian bisa mencegah orang-orang yang kalian sayang dari kecelakaan yang menyakitkan. Atau cara lainnya. Sekali lagi, jangan salahkan diri kalian.”
Ari tersenyum puas. Ia menemukan jawabannya. Segera ia menyebarkan pandangan ke seisi kelas untuk mencari sosok Bara. Rupanya laki-laki itu sudah keluar. Ari pun bangkit dari bangkunya dan berjalan ke luar berniat mencari Bara.
Bila diperhatikan lagi, sekolah ini kelihatan cukup sempit. Dari tempatnya berdiri, Ari bisa mengamati seluruh gedung kelas yang memang dibangun bertingkat-tingkat untuk menghemat area. Sementara letak kantin ada dua, satu di setiap selang antara gedung-gedung kelas.
Langkah kaki Ari kemudian mengarah ke salah satu kantin terlebih dulu, yaitu kantin yang paling dekat dengan dirinya. Di sana, ia berusaha keras untuk mencari sosok Bara yang anehnya tidak tampak sama sekali dalam kerumunan itu.
Ari juga sempat bertanya-tanya tak jelas pada orang-orang yang tak dikenalnya. Tak jelas apakah mereka sekelas atau tidak. Hingga pertanyaannya sampai pada orang yang tepat.
“Apa kamu tahu Bara di mana?”
“Bara? Dia kalau istirahat seperti ini biasanya ada di Laboratorium Fisika. Coba saja cek di sana!” kata perempuan itu tersenyum manis. Namun, Ari tak sempat terpikir untuk menghabiskan waktu lebih lama dengan perempuan itu. Ia lebih memilih menelusuri misteri yang ada pada dirinya sendiri.
Laki-laki itu lantas bergegas, melangkah menuju Laboratorium Fisika untuk memeriksa keberadaan Bara di sana.
Drap!
Bunyi pintu membuat tiga orang di dalam sana berhenti berbincang dan menatap ke arah yang sama. Ari yang mendapat tatapan itu menarik napas dalam dan memutuskan untuk meneruskan langkahnya semakin dalam.
“Apa ada yang bisa dibantu?” tanya seseorang yang tak Ari kenali saat dirinya masuk semakin dalam tanpa berkata apa-apa.
“Dia Ari,” ucap Bara lebih dulu sebelum Ari sempat melakukannya.
“Oh, jadi kamu murid baru itu, yah?” tanya laki-laki itu lagi sambil mengulurkan tangan dan bangkit menyambut Ari.
Ari menatap pria itu agak ragu, tetapi sepersekian detik berikutnya dia menerima juga jabatan tangan dari sosok baru itu. Dalam hatinya, Ari sempat mengira bahwa Bara ini tipe yang culun dan pendiam, tapi ternyata dia punya teman juga.
“Andi Irawan, kelas XI. Panggil saja Andi,” beber laki-laki itu dengan senyum ramah.
“Ari, lengkapnya Ari Wijaya. Teman sekelas Bara,” balas pemuda itu dengan penuh hormat. Andi satu angkatan di atas Ari. Namun, dia tak mau dipanggil dengan embel-embel ‘Abang dan lainnya. Lantas pria itu pun kembali bertanya setelah menarik tangannya dari jabatan.
“Jadi, apa yang bisa kami bantu?”
Khairil sendiri sejak tadi hanya mengamati mereka tanpa sempat mengeluarkan suara atau apa pun. Benar-benar hanya mengamati. Dan Ari mulai masuk ke inti kedatangannya kemari.
“Saya ke sini mau berbicara dengan Bara—
“Soal mimpi itu? Aku juga penasaran, tolong ceritakan padaku juga!” pinta Andi memotong sambil tangannya mengatup memberi tanda memohon.
Ari hanya melirik Bara seolah meminta persetujuan. Ia kira, laki-laki itu akan merahasiakan keanehan dirinya dari orang lain. Namun, ternyata tidak.
“Aku sudah sering cerita padanya. Jadi tidak apa-apa,” kata laki-laki itu menenangkan Ari.
Ya, kalau dipikir-pikir, Ari tidak benar-benar peduli. Dia sebenarnya hanya ingin meluruskan kembali apa yang telah ditawarkan kepadanya tadi. Dan sepertinya, dia sekarang sudah siap untuk memutuskan.
“Awalnya, saya kira saya sudah gila karena memimpikan hal yang belum terjadi dan menjadi nyata. Lebih gila lagi karena ada yang memimpikan hal yang sama dengan saya.”
“Seperti yang Bara katakan, saya berpikir, bagaimana kalau nanti saya memimpikan hal-hal buruk? Apakah semua itu akan terjadi karena saya sudah memimpikannya? Saya tidak tahu apa jawabnya. Karena itu saya memilih mengasingkan diri.”
Tatapan Ari sempat mengena pada Khairil. Laki-laki itu menatap murid barunya dengan penuh fokus dan konsentrasi tinggi. Tiap kata yang akan dikeluarkan oleh Ari mungkin akan jadi sangat berguna baginya. Karena setiap persepsi dalam masalah itu patut untuk diperhatikan—baginya.
“Dan setelah saya membaca. Saya rasa, kita memang perlu mencari tahu soal mimpi ini. Apakah dia benar-benar bisa dipercaya? Berapa tingkat keakuratannya dan kenapa harus kita yang mengalaminya?”
Demikianlah Ari mengeluarkan pendapatnya. Dia seakan dirasuki oleh sosok sang ibu pada saat-saat seperti itu. Tiba-tiba saja berbicara tentang hal-hal ilmiah dengan fasih.
Ya, walau memang, dirinya sudah pintar sejak ia kecil. Ia hanya membungkus dirinya dengan kenakalan saja, tapi otaknya tetap mengikuti keturunan.
Dan begitulah, kemudian Bara bertanya soal kemungkinan.
“Bila kamu bermimpi tentang hal-hal yang buruk atau bencana alam, apa yang akan kamu lakukan?”
Ari menjawab seperti apa yang telah dibacanya tadi.
“Aku akan mengambil manfaat dari mimpiku sebisa mungkin. Mengingatkan orang-orang yang berkaitan dengan mimpi itu dan mulai meyakinkan diri sendiri. Bahwa mimpi kita bukan penyebab bencana itu terjadi.”
“Bagaimana kamu yakin?”
“Karena takdir akan tetap menjadi takdir meskipun kita sudah mengetahuinya.”
Dan, ya, jawaban itu cukup logis di kepala Bara. Ia kemudian hanya melayangkan senyum tipis. Begitu pula dengan Khairil yang mengamatinya. Dan Andi yang memperhatikan mereka berdua.
“Jadi, kalian akan mulai menelitinya?” tanya Andi kembali memastikan.
Ari pun mengangguk pelan. Baru kali ini dia mau bergabung dalam penelitian seperti ini. Benar-benar hidup baru di sekolah yang baru.