Air mengalir deras di
sebuah wastafel di dalam toilet pria. Di
depannya ada Ari yang sedang mencoba menenangkan diri dari kejadian yang baru
saja ia alami. Wajah pria itu basah setelah beberapa saat lalu ia basuh dengan
cukup kasar. Noda darah di tangannya telah hilang terbawa air mengalir sejak
tadi.
Krek ....
Keran wastafel berdecit
ngilu saat Ari menutup mencoba menghentikan aliran air. Laki-laki itu kemudian
kembali menatap wajahnya yang ada di dalam cermin.
Jelas
itu nyata. Dan itu bukan deja vu. Katanya pada diri
sendiri.
Kalau
bukan, lalu apa?
Dia berhenti sejenak.
Teringat kemarin lusa—saat dia bermimpi buruk.
Apa
itu mimpi kemarin? Tapi, bagaimana bisa mimpi jadi nyata?
Matanya menyipit. Dia
merasa harus menggali kebenarannya. Namun, belum sempat dia membuka ponsel
untuk mengetik penelusuran lewat google, Ari teringat pada catatan ibunya yang
ia baca malam itu.
Katanya,
mimpi itu dibangun dari ingatan alam bawah sadar? Apa itu berarti, aku pernah
bertemu dengan pria itu sebelumnya? Namanya ... Bara?
Ari kemudian menggeleng.
Tidak.
Itu bukan mimpi biasa. Aku memimpikannya lebih dulu sebelum jadi nyata.
Ya, Ari kemudian segera
membuka ponselnya dan mencari penjelasan soal mimpi yang berubah jadi nyata
melalui Google.
Precognitive
Dream. Begitulah mereka menyebutnya dalam bacaan Ari.
Sebuah
mimpi yang memberikan informasi mengenai masa depan kepada seseorang. Bisa juga
disebut mimpi yang berubah menjadi nyata.
Precognitive
dream bukanlah kemampuan yang hanya dimiliki oleh paranormal, banyak orang di
berbagai belahan bumi ini pernah mengalaminya. Termasuk saya, dan mungkin Anda.
Ari terdiam sejenak.
Orang lain juga pernah memiliki mimpi sepertinya. Itu sebuah pernyataan yang
mengejutkan. Perlahan ia mulai membaca lebih jauh mengenai precognitive dream yang diuraikan dalam tulisan itu. Namun, sayang,
sebelum ia sempat banyak melanjutkan, bel masuk sudah berbunyi nyaring.
Aku
akan melanjutkan
nanti. Katanya sembari mengantongi ponsel dan keluar dari
toilet untuk segera mencari ruang kepala sekolah karena dia masih belum tahu
letak kelasnya di mana.
Langkah kaki Ari
terdengar gegas. Matanya bergeriliya ke sekeliling hingga ia menemukan seorang
guru yang secara kebetulan langsung bisa mengenalinya.
“Kamu, murid baru, kan?
Ari?” tanya pria itu membuat Ari heran.
“Saya adiknya teman mama
kamu. Kamu sudah ke ruang kepala sekolah?” tanya pria itu bersahaja. Wajah Ari
menegang. Sulit baginya untuk menjawab.
“Kalau belum, tidak
apa-apa. Nanti akan saya konfirmasi kepada beliau. Sekarang langsung masuk
saja. Kelas kamu di sini.”
Ucapan pria itu begitu
cepat. Lancar dan fasih. Beliau melebarkan tangannya mempersilakan Ari untuk
mendekat lalu berjalan sedikit lebih dulu dari muridnya yang masih tertegun
itu.
Jadi
ini sebuah kelas? Gumam Ari dalam hati. Sejak tadi dia tak menyadari bahwa
dirinya sedang berada di depan sebuah kelas. Pasalnya dia sangat berkonsentrasi
untuk mencari guru yang lewat. Jadi tak sempat memperhatikan bangunan di kiri
kanannya sendiri.
“Assalaamu'alaikum! Selamat pagi anak-anak!”
“Pagi, Pak!” jawab murid
seisi kelas dengan serempak.
“Bagaimana malam kalian?”
tanya pria itu lagi, masih dengan gaya bersahaja.
“Pusing, Pak. PR-nya
banyak!” sahut seseorang dengan suara yang lebih menonjol dari yang lain.
Sontak semua orang yang mendengarnya langsung menertawai dia. Begitu juga
dengan Ari sebelum dia bertatap mata dengan Bara.
“Ya, kalau pusing,
harusnya kamu belajar bareng temanmu!” sahut guru muda itu membuat
murid-muridnya sebagian menggumam pasrah dan sebagian lain terkekeh kecil. Kecuali Bara
yang hanya tersenyum pada Ari. Laki-laki itu bingung harus menanggapi tatapan
Ari dengan apa.
“Baik, pagi ini Bapak
membawakan teman baru untuk kalian semua. Untuk bisa mengenalnya silakan
dengarkan langsung dari orangnya dan setelah ini usahakan bantu dia untuk
beradaptasi.”
Guru muda dengan tag nama
Khairil itu melayangkan pandang pada Ari. Dia juga mempersilakan pemuda itu
untuk segera memperkenalkan diri. Namun, yang dipanggil tak kunjung menanggapi
hingga bahunya diguncang sedikit.
“Ya?” tanya Ari kembali dengan raut tampak linglung.
Teman-teman barunya banyak yang heran dengan tingkah kecilnya itu.
“Kamu bisa perkenalkan
diri sekarang,” ucap Khairil sembari membeberkan senyum lebih. Ari yang mulai
paham pun langsung mengangguk dan melaksanakan perintah. Ia tak mau di hari
pertamanya langsung dicap salah. Ini sekolah barunya.
“Nama saya Ari Wijaya.
Kalian bisa memanggil saya Ari. Saya pindahan dari SMA Kusuma, Bandung,” jelas Ari kemudian
berhenti.
Teman-teman barunya
sebenarnya menunggu kata-kata penutup seperti “Semoga kita bisa berteman baik!” dan lain-lain. Namun, melihatnya
yang berhenti seperti itu, mereka langsung menggelorakan tepuk tangan dan
Khairil pun menyuruh Ari untuk segera duduk di salah satu bangku kosong di
barisan paling belakang.
Hari dan pelajaran baru
pun dimulai.
***
Bel istirahat sudah
berbunyi. Beberapa orang pria mendatangi Ari untuk menanyai hal-hal seputar
dirinya. Terutama kenapa laki-laki itu pindah dari sekolahnya.
Namun, Ari tak berniat
menggubris banyak. Ia hanya berkata, “Dikeluarkan,” dan segera berjalan
menghampiri Bara dan menyeretnya ke belakang sekolah.
Sungguh, Ari bahkan tidak
peduli bahwa Bara meronta-ronta minta dilepaskan. Dia tetap menyeret tangan
laki-laki itu hingga mereka sampai di belakang sekolah. Hanya di sana.
“Kenapa kamu menarikku
seperti itu? Aku bisa jalan sendiri,” ucap Bara tidak tahan. Dia memegang
pergelangan tangannya yang jarang sekali diperlakukan seperti itu oleh orang
lain. Kecuali oleh para pemalak seperti dua orang pagi tadi.
“Apa kita pernah
bertemu?” tanya Ari langsung pada inti. Ia benar-benar tidak bisa berbasa-basi.
Bara menggelengkan
kepala. Matanya dipicingkan menghadap Ari.
Ari bertanya lagi.
“Yakin? Pernah ke
Bandung? Atau sekitarnya?”
Bara menggeleng lagi. Ia
juga bingung dengan yang dilakukan Ari sekarang.
“Ah, aku salah!” geram
Ari frustrasi. Ia mulai mengacak rambutnya sendiri. Bara semakin bingung
memandangi.
“Ada apa denganku?” tanya
Ari sekali lagi kepada Bara. Meski demikian, ia sama sekali tak berniat meminta jawaban dari
lelaki itu. Dia
tahu betul bahwa Bara tak akan bisa menjawabnya.
“Memangnya ada apa
denganmu?” tanya Bara membalas dengan raut heran sekaligus penasaran.
“Sudahlah, kamu tak akan
paham,” jawab Ari menjadi pasrah.
Namun, tidak, Bara justru terpicu. Ia seperti mengharapkan sesuatu dari
jawaban Ari.
“Katakan padaku! Kamu
kenapa? Apa kamu mengalami sesuatu?”
Semangat Bara membuat Ari
heran juga. Ia juga jadi terpicu. Matanya menyipit menatap Bara yang tiba-tiba
saja bersemangat seperti menemukan udang siap makan di hadapannya.
Beberapa saat Bara masih
menunggu jawaban dari Ari. Laki-laki itu malah betah memandanginya dengan
tatapan penuh tanya dan butuh jawaban. Hingga Bara kehabisan sabar dan
menggoyang-goyangkan pundaknya.
“Aku bilang, kamu kenapa?
Apa kamu mengalami sesuatu? Kamu bertanya apa kita pernah bertemu? Tidak. Baru
hari ini. Tadi pertama kalinya.”
“Lalu kenapa aku merasa
pernah melihatmu di suatu tempat? Seperti pernah melihatmu. Sekolah ini dan
semuanya. Semuanya, termasuk kejadian pagi tadi. Kenapa aku bisa memimpikannya
begitu persis?”
DEG.
Kali ini Bara melebarkan
matanya bulat-bulat. Laki-laki itu kemudian menarik tangan Ari dan seperti
punya kekuatan besar, dia menarik Ari mengikutinya hingga ke depan sebuah
ruangan.
Drap! Bara membuka pintu
ruangan yang diberi label Laboratorium Fisika. Ia lantas kembali menarik Ari
yang sama sekali tak berkutik karena tenggelam dalam kebingungan.
“Dia juga merasakannya,
Paman!” sahut Bara menunjuk Ari. Paman yang dimaksud berbalik dan melihat Ari
sedang mematung kebingungan. Khairil, laki-laki itu tersenyum tak percaya
dengan kejadian yang dialami kemenakannya.
***
“Baik, biar saya coba
luruskan,” Ari mengambil alih. Dia duduk di sebuah bangku, berdekatan dengan
Bara, membuat segitiga dengan Khairil.
“Jadi, bukan hanya saya
yang memimpikan kejadian tadi?” tanya Ari kembali dengan hati-hati. Bara yang
antusias tampak mengangguk sembari tersenyum. Baru kali ini dia bertemu
seseorang yang juga precog dreamer dan
memimpikan hal yang sama dengannya.
Khairil sendiri hanya
menatapi sikap kemenakannya itu dengan senyum tipis nan bahagia. Ia sadar betul
bahwa Bara sudah melalui banyak hal selama ini. Hal-hal seperti keterpurukan
dan pikiran negatifnya akan kejadian yang dialami dirinya sendiri.
“Aku juga tidak percaya
kalau bisa ada kejadian seperti itu di dunia ini. Dari dulu, setiap kali aku
menceritakan tentang mimpiku, pasti orang yang mendengar akan bilang kalau aku
gila, bohong, atau paling baik menganggapku deja vu. Padahal aku yakin, itu
bukan deja vu. Itu mimpi yang jadi nyata.”
Bara menjelaskan lagi.
Entah sudah berapa kali. Ari terlihat masih sulit untuk percaya. Namun, dia tak
berniat untuk membantah sedikit pun. Laki-laki
itu hanya butuh waktu sedikit untuk menenangkan diri.
“Kadang aku juga bingung,
aku harus bagaimana dengan mimpi-mimpiku yang menakutkan. Kalau aku bermimpi
buruk dan jadi nyata? Bagaimana?” Dia berkata dan mengeluh sendiri. Ari hanya
memandanginya tanpa mengerti maksud ucapannya itu apa.
“Tapi itu bukan masalah
lagi. Dengan kamu, mungkin kita bisa memecahkan misteri ini. Kenapa kita bisa memimpikan
kejadian di masa mendatang dan bagaimana juga kita bisa punya mimpi yang sama.
Apa itu berarti bahwa kita benar-benar bisa meramal masa depan? Atau semua
hanya kebetulan?”
Begitulah seseorang bila
sudah berbicara mengenai hal-hal yang membuat mereka bersemangat. Hal-hal
berbau misteri khususnya. Namun, tidak semua orang akan berekspresi seperti
itu. Seperti Ari yang kemudian menggelengkan kepalanya dan beranjak keluar dari
ruangan itu.
“Aku harus menyegarkan
diriku dulu,” ucapnya lantas berjalan tanpa berniat duduk pusing di dalam
ruangan itu lagi. Tidak untuk berlama-lama.
Bara, dalam sekejap
terlihat ingin menahan Ari dan mengajaknya berbicara lebih jauh soal
pembicaraan mereka barusan. Namun, tangan pamannya, Khairil, lebih dulu
mencegah dan menggelengkan kepalanya sebagai isyarat agar kemenakannya tersebut
diam saja mengamati tanggapan Ari.
“Kamu dengar darinya
tadi, ini adalah pengalaman pertama bagi Ari. Dia pasti tidak paham dengan apa
yang terjadi pada dirinya.”
Dan Bara menunduk diam.
Lalu memandangi Ari yang berjalan keluar dengan langkah-langkah yang lemah.
Pria tangguh yang menolongnya tadi, berjalan dengan begitu lemasnya saat ini.
Sungguh, kadang pikiran sangat ampuh melemahkan manusia.


0 Comments