Ari menutup pintu ruang kerja sang ibu dari luar. Ia melanjutkan perjalanan menuju dapur yang sempat tertunda. Udara di malam ini terasa begitu dingin meski jendela rumahnya sudah banyak yang ditutup. Sesekali tangannya mengusap tubuh sendiri di bawah sinar-sinar temaram lampu ruangan.
Di atas meja makan, di dapur, ia menemukan sekotak nasi yang dibiarkan oleh ibunya. Di dalamnya ada lauk dengan sambal pedas kesukaannya. Entah ibunya paham akan hal itu atau terjadi secara kebetulan, Ari hanya menggariskan senyum dan bersiap untuk menghabiskannya.
Pagi di keesokan hari, Ida terjaga dan mendapati tubuhnya sudah dibaluti selimut. Tangannya bergerak cepat untuk memeriksa bahwa selimut itu nyata atau tidak. Setelah mendapati bahwa selimut itu nyata, ia tersenyum. Ia sama sekali tak mengingat bahwa dirinya memakai selimut sebelum tertidur. Dan itu berarti, Ari yang telah memakaikan selimut itu padanya.
Senang mendapat simpati sang anak, perempuan itu lantas keluar dari ruang kerjanya dengan wajah berseri. Ia menemukan putra semata wayangnya tertidur di depan televisi, berhadapan dengan seperangkat playstation. Ia tahu betul, putranya itu habis bergadang karena kemarin tidur agak sore.
Tangan lembutnya sebenarnya hendak menyentuh wajah sang putra, tapi tertahan saat melihat anak itu bergerak kecil. Laki-laki itu kemudian terjaga dan mendapati ibunya sedang berdiri di dekatnya. Membuat udara di antara mereka berdua terasa agak canggung. Hingga Ida memilih angkat suara.
“Kamu sudah bangun?” tanya perempuan itu berbasa-basi. Sekian lama tak berinteraksi dengan anaknya membuat wanita itu jadi kaku.
Ari sendiri hanya bisa mengamati gerak-gerik ibunya dengan sedikit iba. Mungkin selama ini mereka sama-sama ingin berbaikan. Hanya karena ego masing-masing yang menahan mereka untuk saling menyadari itu.
Maka Ari pun menggariskan seutas senyuman. Ia membuat Ida sedikit terkejut, tapi senang bukan kepalang. Pemuda remaja itu sedang mencoba memperbaiki hubungan dengan ibunya yang hampir berkepala empat.
“Makanan yang semalam sepertinya boleh juga untuk sarapan,” jawabnya lagi setelah memberi senyum tadi.
Ida yang mendengar itu merasa agak heran.
“Kenapa makanan bersambal pedas seperti itu boleh untuk sarapan? Kamu tidak takut sakit perut?” tanyanya keceplosan.
Ari, baru kali ini dia bisa merasakan kepolosan dari ibunya dengan cara yang berbeda. Tanpa marah-marah seperti biasa. Sementara Ida, ia sibuk memaki dirinya sendiri karena membiarkan dirinya tampak begitu bodoh di hadapan sang anak.
“Kalau tidak begitu, mungkin ibu bisa memesan nasi goreng dulu. Iya kalau ada yang menjualnya. Atau mungkin roti bakar. Terserah. Selama ada karbohidrat, aku tidak akan sakit perut memakannya.”
Ari mengatakan itu sambil lalu hendak ke kamarnya. Ia beberapa kali memamerkan senyum kepada sang ibu yang mulai kehabisan ide, mengapa anaknya berubah seperti itu hanya dalam waktu satu malam. Namun, bagaimanapun, ia tak menemukan jawaban. Sekarang yang lebih penting adalah: memesan makanan.
Dering bel berbunyi, jasa pengantar makanan sudah tiba. Ari yang melihat ibunya masih di kamar mandi lantas membukakan pintu. Ia menerima dua kotak beraroma roti bakar dengan lapisan telur ceplok di dalamnya. Tak ayal lagi, saat dia menyiapkan isi makanan itu ke atas piring, ia benar-benar tergoda oleh cara ibunya mendapatkan makanan itu.
Siapa yang pagi-pagi begini mau membuatkan sarapan untuk orang lain? Gumamnya dalam hati.
Beberapa menit kemudian Ida selesai bersiap. Ia berjalan menuju dapur dan menemukan Ari sudah menunggunya dengan senyum polos. Tampak seperti masa lalu bagi Ida. Melihat putra kecilnya semringah menantinya di meja makan.
Ari yang mendapati tatapan dari ibunya itu justru terkena canggung dan mulai salah tingkah. Ia bertanya-tanya apakah ada yang salah dengan dirinya kali ini.
Ah, kenapa aku tidak terpikirkan? Gumamnya dalam hati. Ia sadar bahwa ini pertama kalinya mereka akan sarapan bersama lagi setelah sekian lama dia mogok sarapan di rumah.
Sadar dirinya terlalu lama melamun, Ida lantas segera mempercepat langkahnya. Dengan kaku ia mengajak putranya memulai makan. Diawali dengan doa meski jarang salat. Entah kenapa mereka begitu. Ingat untuk berdoa, tapi lupa untuk salat.
Usai makan, Ari mulai membuka perbincangan. Ia menanyai ibunya soal surat yang semalam ia temukan. Ida yang mendengar pertanyaan putranya sempat diam sejenak. Perempuan itu seperti agak kesulitan untuk mengatakannya.
“Sebenarnya, ibu tidak benar-benar ingin keluar,” katanya tertahan.
Ari memandangi dalam-dalam. Ia memicingkan mata, mencoba menebak kata-kata yang akan muncul dari mulut sang ibu setelah itu.
“Tapi ibu rasa kita harus pindah,” sekali lagi Ida menjeda. Namun, tak ada tanggapan dari sang anak.
“Kemarin ibu ke sekolah kamu sebelum ke kantor polisi. Gurumu bilang, kamu harus mencari sekolah lain karena sudah terlalu banyak membuat onar. Ibu tidak ada pilihan lain.”
Ari terdiam. Dirinya yang semula mengira bahwa ibunya mengundurkan diri demi dia, kini harus menelan kenyataan itu mentah-mentah. Kenyataan bahwa ibunya pindah karena dia. Bukan ‘demi’ dia.
Ternyata aku hanya memaksanya untuk keluar dari pekerjaannya. Semua itu karena aku yang diusir dari dunia ini. Entah pikiran panas dari mana yang diwarisinya. Yang pasti dia tiba-tiba kembali menjadi sosok pendiam yang tak bisa disentuh seperti kemarin.
Ida mencoba membuka mulut untuk membujuk Ari. Namun, pria itu memilih untuk mengabaikannya. Ia seperti tak memiliki pendengaran. Yang terlihat di matanya hanya jalan menuju pintu. Cara untuk keluar dari rumah ini secepatnya.
Ari bergegas pergi, tak tergapai oleh wanita berkepala empat yang mulai khawatir di dalam sana. Ia menaiki sepedanya dan mengendarainya tanpa konsentrasi. Beberapa kali hampir menabrak orang lain karena melamunkan yang terjadi di hidupnya. Hingga ia melihat bahwa dirinya telah sampai di tempat yang setiap hari selalu menjadi tempat tongkrongannya. Warung samping sekolah.
Waktu berlalu di sana. Ari hanya duduk diam dan melamun. Sama sekali tak menghiraukan interupsi pemilik warung yang sudah lama akrab dengannya. Perempuan seusia ibunya itu sampai mengguncang bahu Ari hanya agar diperhatikan.
Sayang, apa pun yang perempuan itu lakukan, Ari masih enggan berbagi cerita. Hingga berbondong-bondong teman-temannya meloncati tembok samping sekolah. Di antara mereka ada Deni dan teman-teman lainnya yang terkejut melihat Ari sudah ada di sini tanpa mampir ke dalam kelas.
“Eh, kamu di sini, Ri? Pakai seragam, kok, enggak masuk kelas?” tanya Deni saat mendapati matanya bertaut dengan mata sahabatnya. Ari hanya mengguratkan senyum tipis nan pahit. Sangat pahit, lebih-lebih bagi Deni.
“Kenapa?” tanya pria itu lagi saat tubuhnya sudah duduk tepat di samping Ari. Tangannya dengan cepat meraih gorengan di keranjang karena tak kuasa menahan lapar lagi.
“Aku ada berita buruk, Den,” ucap Ari langsung ke inti. Ia berdecak kecil membuat teman di sampingnya ikut resah.
“Berita buruk apa?” tanya laki-laki itu mulai penasaran. Ia tampak bersiap-siap dengan segala kemungkinan yang akan ia dengar.
“Aku dikeluarkan dari sekolah dan ibuku mau pindah,” katanya lagi dengan nada sangat lemah dan tak kuasa.
Deni menghentikan makannya. Dia menatap Ari dan menarik pundak pria itu mengarah kepadanya.
“Kamu serius?” tanyanya sekali lagi dengan raut memastikan. Dia benar-benar kesulitan untuk mempercayai itu.
Ari sendiri hanya memantapkan senyum meskipun terasa pahit. Tidak, justru karena pahit, jadi Deni bisa lebih yakin. Laki-laki itu lantas mengambil lagi tambahan gorengan dari dalam keranjang. Ia melahapnya gusar dengan tatapan lurus memikirkan sesuatu.
Usai menghabiskan gorengan di tangannya, ia kembali melihat wajah Ari. Dengan raut menggebu-gebu dia kembali melontarkan tanya.
“Karena kamu sering tawuran? Karena kami sering mengikutimu? Akan kutunjukkan pada mereka, siapa yang harus dikeluarkan dari sekolah ini!” Deni bersahut geram.
Beberapa orang di sekitar mereka sebenarnya mendengar kata-kata itu. Tapi mereka tak mendengar jelas kabar yang dikatakan Ari sebelumnya. Jadi hanya Deni yang berekspresi demikian. Karena bila yang lain mendengar, maka mereka akan berekspresi sama, bahkan lebih parah dari Deni.
Mendengar kata-kata itu, Ari pun segera menahan Deni. Ia berbisik dan menenangkan anak itu. Mengatakan bahwa dirinya tidak apa-apa dan merasa bahwa ini mungkin yang terbaik baginya.
“Iya, buruk memang kalau mengingat kebersamaan kita selama ini. Tapi baru kali ini aku menyadari hubunganku dengan ibuku bisa diperbaiki. Aku rasa tadi aku sudah salah padanya. Sepertinya dengan begini, kami nantinya akan bisa lebih akrab. Jadi kalian jangan melakukan yang tidak-tidak! Karena mereka akan semakin menyalahkanku bila kalian bertindak buruk. Kalian harus menjanjikan itu padaku!”
Sejenak, itu membuat Deni terdiam. Melihat dua besar dalam geng mereka tampak serius, teman-teman yang lainnya mulai berkerumun dan menanyai topik pembicaraan mereka. Ari pun mulai mengarang cerita bahwa ibunya dipindahtugaskan dan dia akan ikut pindah dengan ibunya.
Ia tak mau kabar dirinya dikeluarkan dari sekolah membuat anak-anak itu merespon dengan cara yang sama dengan Deni. Akan sulit menenangkan emosi mereka. Akhirnya, hari itu pun mereka lewati dengan mencoba membuat kenangan sebaik mungkin.
Mereka bahkan pulang larut malam setelah berkeliling bersama Ari. Satu per satu dari mereka juga memberi pesan agar Ari tidak melupakan mereka. Kalau Ari berani lupa, mereka akan pastikan anak-anak di sekolah baru Ari mendapatkan ganjarannya. Padahal, mereka belum tahu Ari akan pindah ke mana.
Dan begitulah, Ari kembali ke rumahnya larut malam. Setelah melamun sejak tadi pagi, ia kembali ke keputusannya kemarin. Laki-laki itu harus memperbaiki hubungannya dengan sang ibu. Dan tanpa ia sadari, di dalam sana, Ida sudah menunggunya.
Kreek...
Ari menutup pintu rumah dari dalam. Ida segera melangkah ke luar menuju ruang tamu. Menemukan anaknya yang baru pulang dan langsung diam saat berhadapan dengannya. Perempuan itu pun mencoba melontarkan tanya untuk mencairkan suasana.
“Baru pulang?” Ya, hanya itu. Singkat padat dan jelas. Serta, jauh dari intinya. Sebuah basa-basi yang kaku. Yang baiknya, mau-mau saja dibalas oleh sang anak.
“Ya, habis acara perpisahan dengan teman-teman. Apa ibu sudah dapat tempat tinggal barunya?”
Ida terkejut. Ia tak menyangka akan mendapatkan pertanyaan seperti itu dan dengan ketenangan sebaik itu dari putranya. Namun, ia tak mau menghabiskan waktu lama-lama dengan lamunannya. Ia segera menjawab, membuka suara dan menjelaskan.
“Sebuah rumah kosong bekas tantemu di Bekasi.”
“Oo, kita akan ke Bekasi?” tanya Ari yang lebih tepat disebut memastikan bahwa dirinya mendengar dengan baik.
Ida mengangguk kecil dan kembali melanjutkan.
“Ada sekolah yang cukup bagus di sana. Kamu bisa memulai lagi dengan baik. Jangan terlalu sering merepotkan gurumu.”
Ari sedikit mengangguk mendengar peringatan itu. Ia lantas menyanyakan soal pekerjaan ibunya setelah pindah nanti. Wanita itu kemudian hanya menjawab seadanya, dengan santai dan agak acuh tak acuh.
“Mungkin nanti akan tetap sama. Kenalan ibu ada yang bekerja sebagai peneliti di sana. Tapi kalau kamu tidak suka, mungkin ibu akan mencoba pekerjaan lainnya.”
Dan Ari segera menampilkan raut serius dari wajahnya, ditambah senyuman. Senyuman yang hangat.
“Tidak, tak apa. Seperti dulu juga tidak apa-apa. Kita akan baik-baik saja,” katanya kemudian membuka pintu kamar.
“Kalau begitu, sampai jumpa besok! Kita akan berangkat saat kamu siap.” Dan lagi, sebuah kalimat yang kaku datang dari mulut Ida. Ari hanya tersenyum sambil lalu dan memilih benar-benar masuk ke dalam kamarnya. Menghabiskan malam dengan penuh khidmat. Mungkin ini akan jadi malam terakhirnya di rumah ini.