Bara membuka matanya. Ia yang melihat kobaran api masih menyala, segera sadar bahwa dirinya masih berada di depan gedung penelitian itu. Juga, masih berada di dalam tubuh Geri.
Ari ... Aku harus menolong Ari! Gumamnya dalam hati sambil berancang ingin masuk ke sana. Namun, sebuah tangan terasa menahannya. Salah seorang polisi menariknya.
Bara mengerutkan wajah tanda cemasnya. Ia tak bisa berdiam diri di sini sementara Ari entah bagaimana kabarnya di dalam sana. Kepalanya menggeleng-geleng meminta dilepaskan. Namun, bukannya dilepas, polisi bantuan yang baru saja datang malah ikut memeganginya.
“Ari ....” kali ini gumamannya dapat terdengar jelas. Beberapa orang memandang pilu. Terutama beberapa orang korban yang sebelumnya seruangan dengan Geri yang kini telah sadar. Mereka mengira bahwa laki-laki itu adalah Geri yang menangisi kakaknya. Sementara Bara sendiri mulai terlihat cengeng dengan air mata yang membulir di pelupuk mata.
---
Ari di dalam sana membuka matanya lebar, ia menemukan air di depan matanya—tenggelam di dalam air. Sadar dirinya masih berada di dalam tubuh Reza, laki-laki itu segera berenang ke atas dan berhasil mencapai atas tanpa terhalang oleh benda apa pun. Karena di sekitarnya, ada banyak puing-puing yang jatuh dan masuk ke dalam air.
“Hah ....” hembus napasnya lega setelah entah berapa lama menahan napas. Ia kemudian mencari-cari ke sekeliling. Lalu menemukan jalan ke pinggiran kolam dan berenang ke arah sana.
Dengan susah payah, ia naik dari kolam itu ke daratan. Memperbaiki napasnya dan segera bangkit untuk menuju ke luar gedung yang dinding-dindingnya telah hancur berantakan. Hingga ia keluar dari dinding ruang itu yang kebetulan masih berdiri tinggi. Langsung menuju bagian depan gedung dan mengejutkan Bara yang begitu senang melihatnya.
Bara kemudian berusaha melepaskan diri dari pegangan para polisi yang menahannya. Para polisi itu sendiri langsung melonggarkan pegangan mereka saat melihat Ari berjalan keluar dengan cukup terseok-seok.
Kedua remaja itu pun berpelukan dengan penuh syukur dengan tubuh kakak-adik yang mereka ‘pakai’. Orang-orang yang melihatnya tampak senang dengan hal itu, terutama Pram yang memang sudah mengenal mereka—Geri dan Reza.
Hingga sesaat kemudian, saat melepas pelukan, Ari dan Bara terkejut bahwa mereka sudah berada di luar tubuh kedua orang itu. Mereka melihat Geri dan Reza dengan bahagia karena akhirnya bisa bersama kembali. Keduanya pun kemudian saling bertatapan lagi. Berpikir satu sama lain, bahwa pasti akan menyenangkan bila mereka bersaudara seperti Reza dan Geri.
Maka tak lama kemudian suara ambulan dan pemadam kebakaran tambahan terdengar meliuk-liuk. Para korban dievakuasi secepatnya dengan prioritas luka berat didahulukan. Meninggalkan Ari, Bara, Geri dan Reza untuk duduk tenang menunggu giliran karena sakit mereka tak begitu mengkhawatirkan.
Mereka ditemani Ida, Prima, Bowo dan Pram yang seolah penasaran dengan sosok yang kini diajak bicara oleh kedua orang itu. Sementara mereka hanya tersenyum membiarkan mereka melihat keanehan yang ada di hadapan mereka saat ini.
“Jadi, bagaimana kesimpulan kalian saat ini? Apa kalian sudah paham tentang bahaya yang dikatakan oleh ibu kalian?” tanya Reza memulai dengan sarkasnya.
Ari dan Bara tersenyum sedikit sebelum membalasnya dengan jawaban renyah mereka.
“Seperti bahaya berhadapan dengan anak kecil, berhadapan dengan hal ini cukup merepotkan. Lebih-lebih saat harus menyelamatkan Anda. ME-RE-POT-KAN!” sahut Ari sembari tertawa bahak setelahnya. Geri dan Reza berseringai geli mendengarnya. Hingga Bara kemudian menambah satu lagi.
“Omong-omong, dia bukan ibuku, tapi ibunya saja. Ibunya tak bisa memasak,” tambah Bara semakin ‘memperkeruh’ suasana. Mereka pun kembali tertawa terbahak-bahak. Sementara Prima, Ida, Pram dan Bowo yang melihatnya hanya bisa memandang dengan raut mengkhawatirkan. Mereka khawatir dan memandang ngeri pada dua orang yang tertawa sendiri itu.
“Lalu bagaimana dengan sisanya nanti?” tanya Bara kembali menyadarkan diri. Reza kemudian mengambil alih untuk menjawabnya.
“Kami juga tidak tahu. Yang pasti, kalian tenang saja! Biar kami yang urus sisanya. Intinya, terima kasih atas bantuan kalian!” sahut laki-laki itu ramah. Geri menimpali dengan anggukan kepalanya saja.
Ari dan Bara kemudian menggeleng ringan. Ini semua berkat Geri dan Reza juga menurut mereka. Kalau tidak, mungkin orang tua mereka telah meninggal karena hal ini.
“Tapi yang pasti, terima kasih kepada Tuhan, sih. Karena semuanya tidak akan terjadi tanpa izin dari-Nya,” sahut Bara lagi-lagi mengingatkan. Membuat semua dari mereka tersenyum bersahaja sambil mengucapkan hamdalah.
“Ya, alhamdulillah, kita bisa selamat dari semua ini,” ucap Reza mengulangi. Geri mengangguk syukur mendengarnya.
Dan kini tinggal satu pesan lagi yang harus ditinggalkan oleh Ari.
“Dan iya, aku hampir lupa. Apa kalian akan membeberkan soal semua ini ke media? Aku harap kalian tidak melakukannya. Karena, itu bisa membuat orang ketakutan pada ilmu dan sains khususnya. Lebih buruk lagi, tidak semua orang akan mengambil hikmah baik dari peristiwa ini. Mereka bisa saja malah menjadi penerus Bagus. Jadi, sepertinya hal ini dirahasiakan dulu. Sampai suatu hari nanti, ada cara menjelajah masa depan yang benar-benar aman. Agar tak ada lagi korban jiwa,” katanya panjang dan benar-benar tenang. Ya, sedikit terkesan terlalu lembut untuk perawakannya yang selama ini selalu tegas.
Namun, Reza tak memusingkan itu. Ia mengangguk menyetujui dan memastikan bahwa dia mengingatnya. Menutup kisah itu dari media publik dan meminta semua pihak melakukan hal yang sama. Termasuk Pram yang kemudian ia mintai untuk membantu menutupi kasus ini dari wartawan lain atau media manapun. Dan Pram menyetujuinya.
“Tapi ...,” Geri menyahut tertahan.
“Apa yang tadi itu tak menimbulkan efek kupu-kupu? Kalian pernah mendengarnya, kan?” tanya laki-laki itu dengan raut serius dan cukup cemas. Reza jadi ikut terlihat cemas seperti dirinya.
Ari dan Bara saling berpandangan, teringat keadaan mereka di masa depan—saat sebelum mereka ada di sini. Keduanya pun ikut terlihat cemas juga. Mereka segera melirik ke arah orang tua mereka dan beralih lagi memandang Geri dan Reza.
Kedua orang di hadapan mereka itu mengangguk cepat seakan bisa mendengar isi hati mereka yang ingin berpamitan ke masa depan. Mereka mengiyakan dan mengizinkan mereka kembali ke masa depan.
Pergilah! Dan semoga kebahagiaan menyambut kalian di depan sana! Sahut keduanya dalam hati dan dapat didengar oleh Ari dan Bara. Maka kedua remaja itu pun mengatupkan mata dan berdoa pada Tuhan untuk mengantar mereka ke masa depan. Dan perlahan keduanya menghilang dari pandangan Geri dan Reza. Meninggalkan sensasi hangat dan sedikit ngilu di hati kedua orang itu. Seakan ada teman akrab mereka yang baru saja pergi dan tak akan kembali. Meninggalkan mereka bersama rasa sepi yang harus mereka jalani apapun yang terjadi.
Maka Ari dan Bara pun melihat kegelapan. Dan dari kegelapan itu muncul cahaya remang yang tak begitu silau. Menampilkan sosok ida yang menangis di dalam kamarnya. Sementara Ari sudah terbaring dengan kain kafan menyelimuti di luar sana.
Ida menangis dengan air mata berderai pilu. Ia berdiri di atas ranjang dengan tambahan sebuah kursi sebagai alas lagi. Sebuah tali tambang terlihat terikat di rangka plafon. Mata keduanya membulat penuh melihat itu. Ida sedang mencoba membunuh dirinya sendiri. Sementara Endang terlihat pelan mengetuk pintu kamar kakaknya. Ia tak tahu apa yang sedang coba dilakukan oleh perempuan itu di dalam sana.
Tuhan, izinkan kami sadar! Kami mohon! Bara menggumam nyaring di dalam hati. Semuanya kembali menggelap lagi.
***
Bara membuka matanya lagi. Ia melihat cahaya menyilaukan di depan mata. Merasa sedikit kaku di tubuhnya. Matanya menyipit takut melihat silau itu. Sementara sang ayah beringsut dengan bahagia di depannya.
“Bara?!” panggilnya mencoba memastikan. Beliau kemudian langsung berlari ke luar untuk mencari dokter maupun suster untuk segera menangani anaknya. Sementara Bara yang semula linglung, kini teringat dengan penglihatannya terakhir kali.
---
Ari membuka matanya. Cahaya di depannya terlalu silau dan membuatnya menyipitkan mata. Namun, tak hanya dia saja yang menyipitkan mata. Orang-orang yang melihatnya juga tersentak kaget sambil mengucapkan istighfar. Sebagian dari mereka terlihat memicingkan mata sambil melihat ke arahnya dengan ragu dan penasaran.
Mereka melihat raut wajah Ari terlihat linglung. Sementara yang lain, terutama ibu-ibu, tampak ketakutan dengan menutup mata mereka sendiri dan sedikit menjauh dari remaja yang telah difonis mati itu.
“Ari hidup lagi!” sahut seseorang yang baru bisa menyadarkan dirinya dari keterkejutan itu. Yang lain pun berbondong-bondong mengatakan hal yang sama.
Sementara Ari, wajahnya masih terlihat linglung. Menatap ke atas dengan raut yang sama. Hingga ia mengingat apa yang ia lihat sebelumnya dengan perlahan-lahan. Dan hingga Khairil yang baru saja kembali dari toilet melihatnya.
Laki-laki itu segera menghampiri Ari dan menanyai keadaannya. Ia pun terlihat cepat membantu untuk membangkitkan Ari dari tidur dan ikatan di tubuhnya.
Ari menatap hening. Tatapannya tajam di mata setiap orang yang melihatnya. Mungkin hanya sugesti karena mereka ketakutan. Namun, kemudian laki-laki itu melontarkan kata-kata yang mengejutkan.
“Mama saya, Pak. Mama saya mau bunuh diri. Tolong cegah dia, Pak!” sahutnya dengan kecemasan.
Khairil yang mendengar itu membulatkan mata. Ia tak percaya muridnya ini akan mengatakan itu. Namun, meski terkejut dan sulit dipercaya, ia tetap mempercayai kejujuran muridnya ini. Sama seperti ia percaya pada ponakannya sendiri, Bara.
Maka laki-laki itu pun segera bangkit dari duduknya. Berlari menuju kamar Ida dan menemukan Endang yang cemas di depan sana. Tak menghiraukan kata-kata perempuan itu, ia segera mendobrak pintu di hadapannya sambil mengucapkan kabar yang dibawanya.
“Ari masih hidup,” katanya dengan suara keras dan sekali hentak berhasil mendobrak pintu itu hingga terbuka.
Ida yang mendengarnya melepaskan tambang dengan ekspresi terkejut. Endang yang masuk pun tak kalah terkejut melihat niat kakaknya yang hendak bunuh diri. Sementara Khairil yang bernapas tak teratur segera menganggukkan kepalanya. Membuat Ida turun dengan lemas ke ranjang dan ke lantainya. Segera berlari ke arah ruang keluarga dan mencari anaknya.
Ida berhenti di sudut ruang. Ia tersenyum takjub, tak percaya dan senang bukan kepalang melihat anaknya kembali hidup. Sementara laki-laki itu menatap balik ke arah ibunya dengan senyuman penuh arti. Ia pun kemudian menggumamkan sesuatu dan kembali membaringkan diri.
“Aku mengantuk, Bu. Aku ingin tidur dulu.”
Dan semua kembali menggelap.