Dua mobil hitam berhenti di depan sebuah rumah mewah. Sebuah kaki dengan celana dan sepatu hitam mengkilat terlihat turun dari dalam mobil, disambut oleh penjaga dan beberapa pelayan yang berlari dari dalam rumah. Pria itu adalah Bagus, yang baru saja pulang dari tempat penelitian aneh miliknya.
Para pembantu dan penjaga yang melihat majikan mereka yang baru pulang segera menyapa dengan ucapan selamat sore mereka. Semburat jingga di ufuk barat baru saja sirna, menyisakan hingar kegelapan. Dan di saat seperti ini, merupakan saat-saat yang sulit bagi para pelayan. Itu karena majikan mereka sering bertingkah aneh setiap kali malam menyerang.
Bagus melangkah tanpa menjawab sapaan para pelayannya. Ia hanya melirik ringan sambil menggumamkan sebuah perintah untuk menyiapkan air mandinya. Raut wajah pria itu juga terlihat tidak seperti sebelumnya yang serba gusar dan kasar. Ya, walaupun masih sedikit gusar, tapi rautnya kini terlihat lebih didominasi oleh rasa lelah dan pening.
Ia pun kemudian melangkah cepat menuju kamarnya, tak mengacuhkan lagi pertanyaan dari pelayannya yang menawarkan minuman untuknya. Pelayan itu pun paham dengan kondisi ini. Itu berarti, Bagus sudah tak ingin diganggu lagi.
Sebenarnya, melayani Bagus sama saja dengan melayani majikan gila. Sikapnya yang dingin dan kasar membuatnya menjadi momok menakutkan. Belum lagi kesadisan kala dirinya diselimuti murka. Tak sedikit nyawa yang menghilang olehnya. Sudah begitu, tingkahnya yang tak bisa ditebak membuat para pelayan ikut berat menjalani pekerjaan mereka karena takut akan membuat kesalahan yang bisa membuat nyawa mereka terancam.
Sementara kemudian, laki-laki itu mulai bergerak ke arah kasurnya yang besar bak tempat tidur milik raja. Dengan pernak-pernik interior mewah bernuansa emas dan lembut, semua orang pasti menyukai tempat tidur itu. Namun, itu semua tak berarti bagi Bagus saat ini. Ia tengah mengalami sakit kepala, pusing di bagian sisi kepalanya. Sebuah efek dari lelah, tekanan dan tindak kasarnya sendiri.
Bagus kemudian mencoba merebahkan tubuhnya di sisi atas ranjang yang serba empuk dan lembut. Namun, itu tak bisa menghentikan kepalanya. Hingga ia memaksa membaringkan kepalanya dan mendapatkan sebuah mimpi yang mengejutkan.
“Apa kamu sedang membutuhkanku?” tanya sebuah suara membisiki Bagus.
Tempat itu terlihat penuh dengan kegelapan. Membuat Bagus mengernyitkan dahi karena heran.
“Apa yang membuatmu berpikir seperti itu? Dan siapa kamu? Aku ada di mana?” tanya pria itu mencoba bertindak congkak. Ia tak terima bila dirinya bisa langsung diserang dengan kata-kata merendahkan seperti itu.
Bantuan? Huh, aku tak butuh itu. Pikirnya sembari menahan berat dan sakit yang menukik di kepalanya.
“Aku adalah apa yang ada di pikiranmu. Bila kamu ingin menemukan jawaban dari apa yang kamu cari selama ini. Pergilah ke kolam tempat bawahanmu meneliti saat ini. Dan ikuti semua perintahku!”
Sejenak kemudian suara itu menghilang dan seakan sebuah sosok telah ikut menghilang karenanya. Di dalam kegelapan itu perlahan mulai muncul cahaya yang cukup menyilaukan. Hingga saat Bagus bisa melihatnya jelas, ia sadar bahwa itu adalah sebuah gambaran dari apa yang akan terjadi nantinya. Di sana, ia menemukan dirinya sedang berjalan di tengah hamparan orang yang terbaring di tanah maupun yang sedang baku hantam di hadapannya. Laki-laki itu entah mengapa merasa bahwa semua itu benar; benar akan terjadi. Maka ia pun menutup mata dan menerima semua yang ingin masuk ke dalam tubuhnya. Seketika, kegelapan itu sirna dan merasuki tubuhnya.
***
Bagus turun dari mobil hitamnya dengan raut hampa terkesan muram. Auranya menggelap dengan tatapan yang kelabu. Ia sadar ada orang-orang yang berkelahi di hadapannya. Namun, ia memilih tak menghiraukan mereka dan masuk ke dalam gedung penelitian yang sudah kacau balau itu.
Di dalam sana, lagi-lagi masih ada pertengkaran. Ada pula seorang pria dari luar yang masih mengejarnya. Bagus tak peduli. Ia masih berjalan lurus dengan wajah itu. Dia sendiri merasa bingung dalam hatinya.
Kenapa aku begini? Katanya dalam hati walau tak berniat ambil pusing.
Laki-laki itu kali ini melangkah melewati Ruslan dan seseorang yang terbaring di lantai sana. Langkahnya fokus menuju ruang pengujian yang berisi kolam. Mengambil tali tambang yang terletak di pinggir kolam dan mengikatnya ke kaki dengan ikatan kuat. Rautnya masih tampak kosong sementara hatinya sempat bertanya heran.
Untuk apa aku melakukannya? Namun, lagi-lagi, ia tak mau ambil pusing.
Kini, Bagus seperti menyaksikan tubuhnya bekerja sendiri. Dengan keyakinan bahwa ia akan menemukan semua yang dicarinya selama ini, pria itu rela melakukan semua ini.
Tak apa, asal aku bisa mengakhiri semuanya. Ucap hatinya pasrah dengan semua kisah kelamnya selama ini.
Dan begitulah. Ia mengeluarkan sebuah remot kontrol yang merupakan sebuah pemicu bom dari dalam saku jasnya. Menekan tombol merah mencolok pada remot berwarna hitam itu dan langsung menceburkan dirinya ke dalam air kolam.
Dan semua terlihat buram. Hingga pelan-pelan, ia mengerjapkan mata. Dengan raut yang masih kosong. Bloom! Napasnya mengalir keluar, menghabiskan sisa oksigen di dalam perutnya. Bagus akan mati dan dia masih berdiam diri. Dengan raut hampanya. Dan pejaman matanya.
Semua menggelap. Dan ....
Boom! Suara itu menggelegar di luar sana. Terjadi guncangan yang cukup hebat, terutama di dalam air sana. Gedung penelitian itu hancur berkeping-keping dengan rangkaian bom yang entah ada berapa banyak dan disimpan di mana saja. Yang pasti, Bagus paham, bahwa inilah akhirnya.
***
Ari dan Bara melihat kegelapan lagi. Keduanya saling pandang dan berbagi pertanyaan heran. Tentang kenapa mereka ada di sini dan apa yang terjadi di luar sana. Dan mereka segera mendapat jawabannya, tentang kenapa mereka ada di sini.
Ya, di hadapan mereka ada seorang Bagus yang kini terlihat duduk bersimpuh dengan wajah lesu. Ia tak mendongak congkak untuk kali ini. Ia menunduk lesu, letih, kecewa, dan menyesal.
Aku minta maaf, Tuhan! Bisiknya dalam hati. Dapat didengar oleh dua orang remaja yang menatapnya.
Lantas latar belakang gelap itu pun berguling di hadapan mereka, berganti dengan yang lainnya. Sebuah pemandangan dari masa lalu. Di sebuah rumah mewah, rumah Bagus di masa lalu.
---
Di dalam rumah itu, di perjalanan menuju sebuah kamar, terlihat seorang pria muda berwajah mirip dengan Bagus. Membuat kedua remaja yang melihatnya langsung paham bahwa itu adalah Bagus di masa lalu. Lebih-lebih saat sosok ‘Bagus Tua’ terlihat sedih memandangnya. Laki-laki itu kini sudah menjadi seperti mereka, sosok halus yang berkeliaran menyaksikan masa lalunya sendiri.
Bagus Tua pun kemudian bergerak cepat menuju ruang kamar yang dituju pria itu. Ari dan Bara pun mengikutinya. Di dalam sana, ada seorang pria yang tengah terbaring lemah di atas ranjang. Di sisi ranjangnya terdapat sebuah infus. Sementara dua orang pria lainnya sedang berdiri di sisi-sisi ranjang.
“Maaf, Pak. Saya tidak berani mengatakannya. Apalagi, dengan kondisi Bapak yang seperti ini.” Salah seorang pria yang berdiri di sampingnya terdengar meminta maaf.
“Ayolah, Sam! Hanya itu yang paling ingin aku tahu sekarang. Aku takut tak tenang di alam sana nantinya.” Pria yang ada di atas ranjang meminta lagi. Ia terlihat memelas. Ari dan Bara masih tak mengerti. Sementara Bagus Tua sudah terlihat tak tenang dengan kerapuhan dan air di matanya yang mulai menggenang.
“Tapi ...,” Sam menahan kata. Ia ragu. Pria di ranjang itu memandangnya dengan tatapan melas. Menyedihkan sekali.
“Baiklah. Tapi, sebaiknya Bapak tenangkan diri dulu. Yang akan saya katakan ini, bisa saja terjadi dan bisa saja tidak. Tidak ada yang tahu tentang hal yang pasti sebelum itu benar-benar terjadi. Saya sendiri tak pernah ingin meramal, tapi kebanyakan dari yang saya lihat, selalu saja terjadi. Tapi tidak menutup kemungkinan bahwa saya salah.”
“Ayo, Sam! Katakan! Kau membuatku gelisah.” Pria yang dipanggil ‘Bapak' itu kembali mendesak dengan menjelaskan perasaannya. Sementara Bagus Tua di sana sudah tak mampu membendung kesedihannya. Dia membekap mulutnya sendiri dan mulai menangis menjadi-jadi.
Sementara Sam yang tak tega pun, akhirnya membeberkan apa yang ia lihat tentang masa depan yang ditanyakan oleh Deni, si pria pesakitan di atas ranjang.
“Ini mungkin bergantung pada apa yang putra Bapak pilih. Tapi ....” Sam kembali menarik napas berat. Ia tak tega mengatakannya. Namun, melihat Deni mendesaknya, ia harus melakukannya.
“Saya lihat, anak Bapak nantinya akan menjadi bencana. Pembunuh berdarah dingin yang rela melakukan segalanya demi mencapai apa yang dia inginkan. Dia bahkan akan mengancam untuk membunuh Pak Trisna kalau penglihatan saya ini tidak salah. Tapi ada yang lebih penting, Pak. Dia akan membunuh puluhan orang bila dia berhasil menduduki kursi Bapak. Jadi tolong jangan wariskan harta Bapak ke tangan dia, Pak. Saya mohon!” Sam akhirnya berani melanjutkan dan benar-benar membeberkan apa yang telah dilihatnya.
Trisna yang mendengar itu melongo karena terkejut. Ia sempat tak percaya dengan ramalan itu. Sementara di bawah sana, di tempat tidurnya, Deni membulatkan mata. Jantungnya sesak, napasnya tersengal. Ia butuh pertolongan.
Trisna dan Sam yang melihat itu berubah panik. Si pengacara mengambil langkah sigap dengan menghubungi nomor dokter pribadi kliennya. Sementara Sam mulai berteriak panik memanggil nama Deni dan mencoba menenangkannya atau membuatnya tetap tersadar.
Hingga laki-laki muda yang ada di luar sana memasuki kamar tersebut dengan tergesa-gesa. Memanggil nama sang pria yang ada di ranjang dan mendorong kasar tubuh si peramal untuk menggantikan posisinya.
Laki-laki itu menangis memanggil-manggil pria itu dengan sebutan ‘ayah’. Sementara sang ayah masih dengan napas tersengal, berusaha menatap sang putra. Ingin menyentuh surainya lembut. Berharap bahwa yang dilihat oleh si peramal adalah salah. Bahwa putranya itu akan tetap baik-baik saja. Seperti yang ada selama ini.
Sayang, dia tak bisa bertahan lebih lama lagi. Meninggalkan sang putra yang bagai dipenggal seluruh kepalanya. Kehilangan akal sehatnya. Berteriak sejadi-jadinya memanggil “Ayah!” dan “Ayah!” sekuat-kuatnya.
Menjadikannya seperti gila dengan kisah-kisah berikutnya yang membuktikan itu semua. Bagus mengancam Trisna, pengacara ayahnya. Membunuh Sam si peramal. Para pelayan di rumahnya yang tak becus melayaninya. Bawahannya di kantor. Menculik pesaingnya dan membunuhnya secara keji. Hingga ia benar-benar dipenuhi dengan kemaksiatan dan kebengisan.
Bagus Tua mengingat semuanya kembali. Dan kedua remaja itu melihatnya semua. Mereka kini akhirnya paham bahwa setelah itu, Bagus menjadi benci pada dirinya, tapi tak mau mengakuinya.
“Tidak, aku tidak akan menyesalinya!” ucap Bagus dalam salah satu ingatannya. Di sana, ia kemudian membulatkan tekadnya untuk mencegah kematian dan penyesalannya itu. Ia mencoba mencari cara untuk melihat masa depan. Dan teringatlah soal meramal. Maka ia pun membentuk tim penelitian mesin waktu yang kemudian terisi oleh Ida dan Prima.
Itulah yang kini membuatnya berakhir dengan penelitian gilanya. Bagus kemudian bersimpuh dalam diam lagi. Ia sudah lelah dengan tangisnya. Berkutat dengan lantai lagi. Menatapnya lekat seolah tak berniat mengangkat wajah lebih tinggi. Hingga sang ayah tampak sekilas berdiri di hadapannya. Mencoba meraihnya.
“Anakku, jangan bersedih!” pria itu mengulurkan tangan. Bagus dewasa terlihat mengangkat wajahnya. Ari dan Bara menatapi dengan saksama.
Sang ayah tersenyum sedih. Tipis nan pilu. Ngilu melihatnya.
Namun, hanya itu yang bisa pria itu katakan. Ia kemudian menghilang dan menyisakan Bagus yang menangis semakin menjadi dan menjadi. Hingga ia berubah kembali menjadi bengis dan aneh. Berteriak seperti orang gila. Mengatakan bahwa dia tidak akan menyesalinya. Namun, kemudian menyangkalnya lagi. Bergumam bahwa ia bersalah dan menyesal lagi. Berbalik lagi dan menyangkalnya. Dan seterusnya. Dan seterusnya.
“Ya, aku tak menyesalinya,” katanya sambil tersenyum gila.
“Tidak,” katanya menggeleng, “aku menyesalinya,” lanjutnya lagi sembari menangis sedih.
Dan seterusnya ia mengulangi semua itu sambil sesekali berteriak letih dalam pekikan tertinggi. Hingga Ari dan Bara mengatupkan mata mereka. Berharap pria itu dapat tenang di alam sana. Entah, apakah Tuhan akan mengabulkan doa mereka atau tidak. Yang pasti, mereka lebih mengharapkan hal lain setelah ini.
Mempertanyakan apa yang terjadi dengan Geri dan Reza di ‘luar' sana.