Ari memukul dua pengawal yang tersisa di hadapannya dengan dua tangan sekaligus sampai mereka jatuh telentang di bawah sinar lampu yang remang. Di sekeliling halaman terlihat dipenuhi orang terbaring. Ada yang lemas, ada yang pingsan. Hanya beberapa yang berdiri di pinggiran sana, menatap Ari dengan ketakutan: Susi, Rani dan beberapa orang ilmuwan lainnya.
Ari kemudian tak mau berlama-lama, ia segera berlari ke dalam sana. Kecepatan larinya juga termasuk sangat cepat meski tak secepat sebelum ia merasuki Reza. Hingga ia tiba di dalam sana dan melihat Bagus sedang berjalan lurus di tengah-tengah para pengawal.
“Aku akan memberimu pelajaran!” gumam Ari dalam hatinya. Tatapannya menyalang tajam ke arah punggung laki-laki yang dikenalinya bernama Bagus itu.
Namun, tatapan itu dapat ditangkap oleh para pengawal yang melihatnya datang. Hingga saat dia mencoba mendekat ke arah Bagus, tangan para penjaga itu menahannya. Ia pun harus menghadapi para penjaga itu dulu sebelum ke sana.
Sementara Bara menatapinya dengan kening berkerut. Bagaimana bisa Ari berada dalam tubuh Reza, itulah yang ada dipikirannya saat ini. Hingga ia tak sadar bahwa Geri menggumam di sampingnya dan keluar dari ruangan itu membawa sebuah wadah kaca berbentuk silinder. Di dalamnya terdapat cairan yang ia racik sejak tadi yang diisi dengan gumpalan-gumpalan kain membentuk bola kasti.
“Siapa yang harus kulempar sekarang?” tanya Geri pada Bara tanpa sempat melihat keramaian di depannya. Namun, sesaat kemudian ia mengalihkan pandangannya.
“Ramai sekali!” gumamnya lirih dengan jantung yang mulai berdegup kencang. Lebih-lebih dengan Ruslan yang terlihat memandang ke arahnya.
Laki-laki itu terlihat mulai berjalan ke arah Geri. Membuat Bara sadar dan memperhatikan mereka. Raut wajah remaja itu tampak cemas. Ia kemudian mengingatkan Geri untuk segera menyadarkan diri.
“Kak, sadarkan diri Anda!” pinta Bara setengah berteriak.
Geri yang mendengarnya tak bisa balas memandanginya. Laki-laki yang masih lengkap dengan kacamata dan masker gasnya itu memasukkan tangannya ke dalam tabung racikan. Ia mengeluarkan kain bergumpal itu dan melemparnya ke arah Ruslan.
Lemparan itu sebenarnya ditujukan ke arah wajah si pria jangkung. Namun, tangan Geri tak bisa melemparnya dengan tepat. Kain itu terbang dan terjatuh sia-sia tanpa mengenai siapa pun. Membuat laki-laki itu kemudian terlihat begitu panik.
Ia segera meletakkan tabung racikannya ke lantai dan berlari ke belakang, lebih dalam ke arah kantin. Namun, langkah kakinya lebih lambat dan lebih kecil daripada Ruslan. Laki-laki yang kini meraih punggung bajunya dan berhasil menghentikannya. Memukulnya sekali di bagian perut dan membuatnya pingsan seketika.
Bara yang melihatnya hanya bisa terbelalak dalam kepiluan. Ia tak rela melihat Geri seperti itu. Namun, Ruslan memang sulit dikalahkan. Laki-laki itu kemudian berbalik untuk melirik ke arah Ari lagi. Melihat para penjaga bawahannya yang masih mencoba mengeroyoki satu orang itu.
Bahkan tanpa ekspresi apa pun, ia melangkah menuju kerumunan pria itu. Raut wajahnya bahkan sama seperti pria yang kini tengah berpapasan dengannya. Bagus, sang tuan yang berjalan dengan ekspresi kosongnya yang terkesan murung dan layu. Bahkan mereka tak saling melirik kawannya. Berjalan lurus menuju tujuan masing-masing.
Ari sendiri kini terlihat seperti pria kesurupan yang sedang dipengangi belasan orang. Selalu mencoba berontak, tapi tak kuasa mengalahkan mereka. Membuat Bara mengabaikan Bagus yang berjalan melaluinya. Fokus pada keadaan Ari dan berharap bisa menolongnya.
“Tuhan, berikan aku kekuatan untuk menolongnya!” Bara memejamkan mata dan menggumamkan sebuah permohonan. Ia benar-benar mengharapkannya dari dalam hati.
Hingga ia membuka mata. Ada yang berbeda dan dia merasakannya. Ia bangkit dari posisinya yang semula terbaring di lantai. Membuatnya sempat heran dan tercenung karena semula, ia sedang berdiri menghadap Ari. Namun, kemudian, ia paham bahwa dirinya sedang mendiami tubuh Geri. Terbukti dari pakaian lab berwarna putih yang kini ada di tubuh itu.
Laki-laki itu tak mengambil banyak waktu untuk berdiam diri. Dia mengarahkan pandangan ke kerumunan orang itu. Ruslan masih berjelan beberapa meter ke arah mereka. Dan itu membuat Bara tak mau memedulikannya.
Bara melirik ke arah tabung racikan dan berlari dengan cepatnya melewati Ruslan yang belum sampai ke sana. Mengambil tabung itu dan mengeluarkan dua gumpalan kain di dalamnya. Menghampiri kumpulan pria yang merubungi Ari dan menumpahkan racikan ke tengah-tengah mereka.
Dia telah mengusulkan ini sebelumnya. Dengan kemampuan Geri, ia mengusulkan untuk membuat obat bius berbahan kuat. Sehingga hanya dengan melempar kain yang basah dengan racikan itu ke wajah seseorang, orang itu akan langsung pingsan menghirupnya.
Dan itu terbukti. Orang-orang yang terkena cipratan itu, bahkan walau hanya menghirup sedikit aromanya, tampak mabuk bahkan langsung pingsan. Itu memberikan kesempatan pada Ari untuk melepaskan diri dari belasan orang itu. Mereka yang terlihat mabuk pun dengan mudah ia dorong hingga jatuh dan kesulitan bangkit lagi.
Kini, mereka bisa bernapas lega dan saling berhadapan lagi. Senang rasanya tahu kabar satu sama lain yang sama-sama baik. Namun, itu tak lama. Karena kemudian, Ari membulatkan matanya, menarik Bara ke belakang hingga terjatuh bersamaan. Dan ternyata, itu dilakukannya untuk menghindari tendangan dua kaki yang dilayangkan oleh Ruslan. Karena memang bila tidak begitu, mereka pasti sudah terkena tendangan hebat itu.
Kini Ruslan dan dua remaja itu sudah sama-sama terbaring. Namun, Ruslan bisa dengan cepat bangkit untuk kembali menyerang mereka berdua.
Untungnya, Ari berhasil dengan cepat mendorong Bara hingga laki-laki itu bisa menggelinding ke belakang dan berdiri di sana. Sementara dirinya sendiri masih sempat menahan injakan kaki Ruslan yang memakai sepatu tebal menyakitkan, khas para penjaga keamanan dan tentara.
Bara sendiri sudah berhasil bangkit. Ia melihat Ari dengan posisi tersudut itu. Terbaring di tanah dengan tangan menahan kaki seseorang yang hendak menginjaknya. Membuat Bara berpikir cepat mencari cara membantunya.
Laki-laki itu melirik tangannya yang menggenggam dua buah gumpalan kain yang sempat ia keluarkan tadi. Ia kemudian kembali melirik Ruslan dan mengingat masa kecilnya yang pandai melempar kaleng di taman bermain. Lantas ia menggunakan kemampuan itu untuk membidik wajah Ruslan. Memusatkan pikiran seperti saat dulu bermain, dan, plak! Lemparannya berhasil mengenai sasaran.
Sebuah gumpalan kain yang basah dengan cairan bius mengenai bagian bawah hidung pria itu. Hingga membuatnya pasti akan menghirup bahan yang dibawa olehnya. Dan berhasil membuat laki-laki jangkung bernama Ruslan itu mulai mengernyitkan dahi. Merasa pusing dan ... pingsan.
Ari bangkit dengan semringah. Ia melirik Bara yang juga semringah sepertinya. Kini hamparan ruangan itu berisi orang-orang jahat yang tergeletak tak sadarkan diri. Dan beberapa ruangan di dalam sana mungkin berisi orang-orang tak bersalah atau yang terpaksa bersalah.
Sementara di luar sana terdengar suara mobil-mobil polisi yang cukup ramai. Diiringi dengan beberapa saat kemudian suara langkah kaki mereka terdengar riuh dari lorong masuk. Sementara suara teriakan komando evakuasi di luar sana mulai ramai dan beberapa orang tampak sibuk menghubungi ambulans tambahan selain yang sudah datang bersama mereka.
Membuat Ari dan Bara sejenak ingin tenang hingga mereka teringat akan Bagus. Teringat pada seseorang yang kemudian membuat mereka mendapat penglihatan. Penglihatan yang menunjukkan bahwa pria itu menekan sebuah tombol sebelum menceburkan dirinya ke dalam kolam. Tombol yang kemudian menunjukkan gambaran sebuah bom waktu yang menghitung mundur dari angka sembilan menit kepada mereka.
Deg!
Jantung keduanya serasa diremas. Saat mereka menemukan para polisi yang memasuki gedung itu, langsung mereka mengabarkannya.
“Evakuasi semua orang! Ada banyak bom akan meledak dalam sembilan menit. Kita tidak bisa menghentikannya.”
Ari dan Bara berbicara bersamaan kepada masing polisi yang mereka hampiri. Sesaat para polisi itu terlihat kaget meski sesaat kemudian langsung tersadar. Mereka kemudian mengajak temannya untuk segera menarik orang-orang di lantai itu ke luar.
Sementara Ari dan Bara kemudian berlari menyisir gedung, mencari orang-orang yang harus diberitahu. Menemukan para ilmuwan di lab kimia dan menyuruh mereka segera keluar. Menemukan deretan ranjang dorong dan memanggil bantuan polisi untuk mengeluarkannya. Begitu pula dengan orang-orang di ruangan yang satunya. Lalu menemukan para pekerja di kantin untuk membantu mereka.
Orang-orang itu dengan susah payah keluar dan mengeluarkan orang lain yang dapat mereka bantu. Hingga sebagian besarnya telah keluar serta Ari dan Bara sudah mengeluarkan cukup banyak dengan tenaga dan kecepatan mereka yang tinggi.
Kini tersisi beberapa orang lagi yang harus mereka keluarkan. Hingga sesuatu tak terduga terjadi. Ruslan kembali bangkit. Matanya merah menatap Ari dan Bara di hadapannya.
Bara yang melihat itu kebingungan, ia melirik lantai dan menemukan sebuah gumpalan kain. Ia melemparnya ke arah Ruslan dan tepat sasaran. Namun, itu tak bekerja. Ruslan tak terpengaruh. Bara berdecih kesal. Ari melangkah ke depannya, memunggunginya.
“Kamu bawa semua orang ke luar! Aku akan mengalihkan perhatiannya,” gumam Ari kepada Bara.
Sebenarnya Bara tak ingin mematuhi itu. Namun, ia tak sempat berpikir lama karena harus memikirkan orang-orang yang harus mereka selamatkan. Maka laki-laki itu pun pasrah dan melakukannya.
Ia mendorong ranjang-ranjang itu dengan cepat ke luar gedung. Sementara Ari langsung maju untuk berhadapan dengan Ruslan.
Suasana itu pun berlangsung mendebarkan. Dengan waktu kurang dari dua menit lagi, Ari dan Bara harus menyelamatkan sebanyak mungkin orang yang ada. Bara harus berlari keluar masuk, mengantarkan orang-orang tak berdaya untuk selamat. Sementara Ari harus menahan pukulan demi pukulan dan bergerak menuju sebuah ruang agar pertengkaran mereka tak mengganggu jalannya evakuasi.
Bara berhasil mengeluarkan banyak orang. Kini tersisa dua orang lagi dan dia mendorong mereka di bawah tekanan bom yang akan meledak pada 45 detik lagi. Ia berteriak pada dirinya sendiri bahwa dia bisa. Hingga akhirnya ia sampai ke lorong menuju ke luar. Menyuruh para polisi yang ada di sana agar segera keluar sambil tangannya masih mendorong mereka yang di ranjang.
Ia berhasil mendorong orang-orang itu hingga ke luar, ke halaman depan gedung penelitian, bahkan agak jauh dari gedung itu untuk menjaga jarik dari pengaruh ledakan. Sementara Ari di dalam sana masih bertarung melawan Ruslan yang terasa begitu kuat, entah bagaimana. Ia merasa seperti melawan orang kesurupan seperti dirinya.
Lamanya pertarungan itu membuat Bara khawatir karena dia yakin bahwa bom itu sudah waktunya meledak. Namun, ia harus memastikan semua orang sudah menjauh dari gedung itu sebelum semuanya terlambat. Dan ia memastikannya. Maka saat ini adalah saat yang tepat baginya untuk masuk ke dalam sana dan membantu Ari.
Hingga ... Boom!
Ia terlambat. Gedung itu meledak. Tepat di depan mata. Menyala begitu terang, bersuara begitu nyaring. Menyesakkan. Membuatnya terkejut sekaligus terpukul. Kobaran api di matanya tak mampu menghentikan air mata dan kepalanya yang pening. Hingga ia memejamkan mata dan semua menggelap.