Angin dingin dan gelap malam seolah menyudutkan orang-orang di hutan itu. Sementara detektif Pram menunggu-nunggu tanda yang disebutkan oleh Reza. Setidaknya, mungkin mereka bisa mendengar suara bising dari dalam sana. Atau, bila tidak, mereka akan menunggu datangnya bantuan yang bisa menyudutkan jumlah penjaga yang disebut Reza.
Sementara Ari dan Bara, meski dengan jiwa yang sedikit kacau, mereka mencoba tetap fokus dan lebih dulu menghampiri Geri yang ada di dalam sana. Memberitahukan bahwa ada kejadian di luar rencana sehingga mereka harus beralih ke rencana cadangan.
Geri awalnya sempat syok mendengar kabar yang mereka bawa. Ia terlihat pucat seketika dengan mata yang ikut membulat. Apakah kakakku akan ikut menjadi korban juga? Itulah yang dia pikirkan.
Untungnya, Ari dan Bara dengan sigap mengetahui dan mengatasi itu.
“Kak, tolong, kendalikan diri Anda!” ucap Bara pada laki-laki yang berusia sekitar 23 tahun itu.
“Kita harus melakukannya!” tambah Ari menguatkan serta menyadarkannya pada rencana.
Geri menatap keduanya dengan saksama. Ia cemas dan juga gelisah. Di sisi lain, ia juga harus kuat dan tidak gegabah. Sementara Ida dan yang lainnya, tampak khawatir melihat tingkahnya yang demikian. Mereka penasaran apa yang terjadi dengan pria itu.
“Apa semuanya sudah siap?” tanya Geri mengejutkan mereka. Tampang laki-laki itu terlihat serius. Membuat orang-orang itu harus memfokuskan diri.
Mereka mengingat apa yang tadi dijelaskan oleh Geri kepada mereka. Bila pintu itu nantinya terbuka, mereka akan segera menghadang dan sebagiannya berlari keluar semampu mereka. Termasuk Bowo yang sudah terjaga.
“Ya,” bisik beberapa orang sambil semuanya mengangguk lirih sekuat mereka.
Dan dalam beberapa langkah kemudian.
Cklk ....
Kunci pintu dibuka, kenopnya terputar. Geri dan seisi ruangan telah bersiap di balik dinding. Hingga saat pintu itu terbuka lebar, mereka semua menghadangnya.
Para penjaga yang membawa Reza dan Prima terperanjat dan melepaskan dua orang itu. Hingga Geri, Ida dan Bowo memilih membantu mereka. Sementara yang lain langsung menyudutkan para penjaga itu dan sisanya berlari ke arah luar.
Sayang, beberapa di antara mereka yang berniat lari itu harus menderita lebih dulu. Tangan dan kaki mereka dengan mudah di tendang dan dipukul oleh pria yang berada di depan mereka: Ruslan yang rupanya berjalan agak lamban di belakang para penjaga yang membawa Reza dan Prima.
Pria jangkung itu berhasil merobohkan sebagian yang berniat lari. Sementara sebagian lagi langsung ciut dan memilih mundur. Langkahnya mendekati para penjaga yang kini dirubungi para korban. Para penjaga itu kewalahan hingga mereka tak terlihat melawan sedikit pun. Mereka terkulai babak belur oleh tangan-tangan para lelaki meskipun tangan-tangan itu menderita dehidrasi.
Ari yang melihat Ruslan mendekati mereka, kemudian segera berteriak menyadarkan Geri dari kesedihannya di depan Reza yang masih pingsan. Laki-laki itu berteriak sekuat tenaga hingga Bara yang fokus cemas pada ayahnya ikut mendengarnya juga. Bara pun kemudian membantunya menyadarkan Geri.
“Kak, sadarlah! Pak Ruslan sudah mendekat. Ingat rencana kita! Jangan sampai kita tertahan oleh penjaga tambahan mereka!”
Bara menyahut panik, ia kemudian melirik kembali ke arah Ruslan dan melihat Susi tampak sedang menelepon jauh di belakang sana. Ia yakin bahwa wanita itu pasti sedang memanggil penjaga bantuan mereka saat ini. Ia kembali melirik Geri dan bersyukur melihat laki-laki itu sudah sadarkan diri.
Geri melirik Bara sekilas. Lantas ia bangkit dari posisinya yang semula duduk di hadapan Reza. Ia segera masuk ke lab kimia yang tepat berada di depan mereka saat ini. Di dalam sana, ia melihat para ilmuwan itu sedang berdiri berkumpul di pojokan dengan posisi ketakutan.
Geri mengembus napas pelan. Ia melihat sekeliling dan menemukan seragam lab putih, masker gas, kaca mata dan sarung tangan yang tergeletak di atas sebuah meja. Entah milik siapa.
Yakin dirinya tak akan diganggu oleh para ilmuwan penakut itu. Sekalipun mereka berani, sepertinya ia tidak akan segan-segan bertindak kasar untuk saat ini. Tangannya kemudian dengan ulet memilih-milih bahan dan media yang ada di hadapannya.
Ia hendak membuat sesuatu yang ia harap bisa membantu banyak orang untuk saat ini. Sesuatu yang diusulkan oleh Bara sebelumnya. Sedang laki-laki muda itu sedang mengamati gerak tangannya dan mengangguk-angguk mengingatnya.
Sementara di lorong, di luar ruangan itu, Ari dan yang lainnya masih menatapi Ruslan yang entah mengapa sengaja berjalan lambat untuk mengintimidasi mereka. Laki-laki itu entah mengapa juga tampak semakin jangkung dan menakutkan tatkala langkahnya semakin mendekat.
Bug!
Tak diduga, sebuah tendangan melayang dari belakang Ruslan. Itu dari Pram dan berhasil membuat Ruslan tersungkur ke depan. Laki-laki itu kemudian terlihat meringis dan kembali bangkit. Wajahnya terlihat bengis dan begitu gusar. Sementara orang-orang di hadapannya tak berani maju ke arahnya meskipun ia sudah tersungkur demikian.
Ruslan pun kemudian kembali bangkit. Ia berbalik membelakangi orang-orang yang semula ditujunya. Menghadapkan dirinya kepada lawan yang baru saja datang meninjunya: Pram.
“Apa kau mau cari mati?” tanya pria itu kemudian mendengus geli dan meremehkan.
Pram yang memang hemat bicara hanya mengetatkan senyum amarahnya diiringi kuda-kuda yang kemudian ia pasang. Membuat laki-laki yang bertanya padanya itu jadi naik pitam karena pertanyaannya diacuhkan. Laki-laki itu pun berdecih sebelum kemudian memasang kuda-kuda seperti Pram.
“Aku akan membunuhmu!” katanya lantang.
“Kalian sedang apa? Ayo cepat pergi dari sini!”
Sementara Pram dan pria jangkung itu beradu tatap bersiap saling jotos, salah seorang polisi yang dibawanya mengambil kesempatan untuk mengevakuasi korban. Orang-orang yang disahuti itu pun melirik paham. Mereka kemudian berlari teratur mengambil tempat yang tak dijangkau oleh Ruslan yang fokus pada Pram.
Satu orang polisi lagi tampaknya membantu orang-orang yang telah lemah setelah dipukuli oleh Ruslan tadi. Untung saja panggilan telepon di ponsel Reza masih belum terputus. Sehingga mereka bisa mendengar suara bising tadi dari luar sana.
Ida dan Bowo sendiri terlihat berusaha membantu Reza yang tak sadarkan diri dan Prima yang masih kesakitan. Mereka tampak tertatih untuk melangkahkan diri ke luar sana. Sementara Ari kini kembali fokus dengan duel Pram menghadapi Ruslan.
Kedua orang itu terlihat sengit dengan posisi Ruslan memukul dan Pram mencoba menghalau. Pram yang terbilang lebih pendek sejenak mencoba memainkan lutut untuk menghajar apapun yang bisa diraihnya. Namun, Ruslan masih terlalu lihai untuk hal itu. Pria jangkung itu dengan mudah menahannya dengan sebelah tangan.
Tak berhenti di situ saja, Pram kembali berusaha memanfaatkan peluang dengan memainkan tangan kanannya untuk meninju ke arah wajah lawan. Namun, ia hanya hampir berhasil. Karena meski tak bisa menahan atau menghalau, Ruslan masih bisa menghindarinya dengan memiringkan kepala ke samping kanan.
Laki-laki jankung yang terjepit itu kemudian memilih mendorong posisi mereka agar kembali berjauhan dan memberi ruang untuknya menyusun ulang strategi. Ari sendiri sebenarnya masih cukup penasaran dengan hasil pertarungan di antara kedua orang itu. Namun, suara teriakan ibunya dari luar sana seakan menyadarkannya dari lamunan.
“Ibu?!” gumam laki-laki itu kemudian beralih untuk segera ke halaman depan gedung. Ia mendengar suara ibunya dari luar sana.
Laki-laki itu berhenti. Ia menemukan ibunya terduduk di atas tanah. Susi dan beberapa orang yang berkutat dengan komputer tadi sedang menyaksikan dengan tidak tega. Sementara dua puluhan penjaga berseragam hitam terlihat mendominasi.
Mereka telah memukul rata para korban hingga tergeletak lemas di atas tanah. Beberapa di antaranya juga terlihat sedang memukuli Bowo hingga laki-laki itu pingsan. Tersisa Ida yang ketakutan dan Ari yang kini naik darah dan berteriak dengan penuh amarah.
“IZINKAN AKU MENOLONG MEREKA, TUHAN!!!” teriaknya lurus menghadap atas. Langit seolah menjawabnya; hujan dan petir seketika turun dengan begitu menggelegar. Membuat semua orang yang melihat akan tercenung dan terguncang. Ari memejamkan mata dan membukanya lagi. Ia merasa seperti ada sesuatu yang telah berubah.
Ari bangkit, ia baru saja berada dalam posisi telentang. Membingungkan, padahal tadi ia sedang berdiri dan mendongak ke arah langit. Dan kini ... Ari terkesiap. Ia melihat dirinya telah berada di dalam tubuh Reza.
Apa aku merasukinya? Tanya hatinya kebingungan.
Namun, ia tak punya waktu untuk itu. Karena suara deru dua buah mobil terdengar membelah derasnya hujan di hutan ini. Ari mengamati kedatangan mobil itu, di sekitarnya sudah tak ada penjaga lagi. Mereka sudah masuk ke dalam gedung.
Sementara mobil yang baru datang tersebut ternyata milik Bagus dan para penjaganya. Pria kepala empat dengan setelan jas hitam itu terlihat turun dari mobil dengan wajah kosong pasrahnya. Sementara para pengawal langsung turun dan berjalan di sekeliling untuk melindunginya.
Para pengawal itu tak mengerti dengan tingkah tuan mereka saat ini. Yang mereka tahu, laki-laki itu harus dijaga agar tidak murka saat sadar nanti. Mereka tak mau menerima risikonya.
“Biadab!” Ari yang merasuki Reza mengatakan itu dengan lantang dan keluar dari mulut Reza.
Pria itu berjalan ke arah Bagus, berniat menerobos dan menghancurkan laki-laki itu. Sayang, ia lebih dulu dihadang oleh empat orang pengawal yang mempunyai kelihaian cukup tinggi. Terbukti dengan salah satu dari mereka yang dengan cepat bisa mencekik leher Ari.
Ari melirik tangan di lehernya, itu benar ada di sana. Namun, dia tak benar-benar bisa merasakannya, tidak ada sakit sama sekali. Ia kemudian menggerakkan tangannya, berniat melepaskan tangan itu dari lehernya. Namun, yang terjadi membuatnya jadi amat sangat terkejut.
Bukan tak berhasil, itu berhasil. Justru, hasilnya terlalu berlebihan. Tangannya menjadi cepat dan penuh tenaga. Ia seperti menggerakkan tangannya tanpa beban. Ini seperti menggerakan sesuatu yang tak bermassa, tapi, mempengaruhi yang bermassa. Seperti menggerakan yang kecil dan ringan, tapi, berakibat besar.
Tak!
Suara pertemuan tangannya dengan tangan pria itu hingga tangan si pria di hadapannya terasa seperti terkilir. Membuat pria itu meringis kesakitan. Dan memberikan keterkejutan bagi tiga orang lainnya.
Ia sendiri bahkan masih tak percaya. Melihat tangan yang kini digerakkannya.
Kenapa bisa jadi sekuat ini? Pikirnya.
Bug!
Sebuah pukulan mengenai bagian bawah rahangnya. Ia tersentak karena itu. Namun, tak benar-benar merasakan sakitnya. Dengan wajah terkejut, ia mencoba membalas. Mengambil ancang-ancang dan meninjukan tangannya ke arah pria di hadapannya.
Tak tertahan. Layangan tinjunya itu tak sempat ditahan ataupun dielak oleh si pemilik wajah. Hasilnya, hidung pria itu remuk karenanya. Membuat dua orang lain yang tersisa jadi naik pitam. Keduanya mengangkat tangan, hendak meninju secara berbarengan. Dan, yang terjadi malah Ari yang berhasil memukul mereka lebih dulu dengan kedua tangannya yang meninju serempak.
Sementara di dalam sana, Bara terlihat panik ketika dirinya menyaksikan Pram yang sedang melawan Ruslan. Pram kecolongan saat melakukan tendangan lurus ke depan yang hendak mengenai perut Ruslan. Itu terjadi karena Ruslan dengan cepat memundurkan posisi dan menangkap tendangan miliknya.
Ia pun akhirnya dijatuhkan dan kemudian ditendang oleh laki-laki jangkung itu. Ruslan seperti tak kenal ampun, sementara Pram terlihat hanya bisa menahan tendangan-tendangan itu sebisanya. Hingga entah bagaimana, dari belakang para penjaga yang ramai, Bara melihat Ari yang datang menggunakan jasad Reza. Membuat Bara keheranan. Penasaran dan cukup kebingungan.
Apa yang terjadi? Tanyanya dalam hati.