Angin berembus kencang. Reza mengendarai motornya dengan laju cepat. Mengenakan jaket kulit warna hitam dan segala aksesori seorang wartawan. Ia memboncengi Prima menuju kantor polisi.
Hal pertama yang akan mereka lakukan adalah membuat laporan dan mengajak setidaknya dua orang polisi bersama mereka. Hal itu menjadi lebih mudah dengan adanya seorang detektif yang dikenali oleh Reza. Ya, sebagai seorang wartawan, adalah hal yang sangat bagus untuk memiliki banyak koneksi.
“Aku mohon bantu aku!” pinta Reza setelah menjelaskan keadaannya pada seorang pria berjaket kulit hitam sepertinya. Laki-laki itu ia panggil dengan nama Pram.
“Apa dia akan menyetujuinya?” gumam Ari sekedar berkata. Ia berniat memperdengarkan gumaman itu hanya pada Bara. Sementara Bara hanya diam tanda tak bisa menjawabnya.
Reza tak banyak berkata, dia hanya menjelaskan bahwa ada kasus yang baru-baru ini diselidiki olehnya. Sebuah kasus penculikan yang mirip dengan penculikan adiknya hari ini. Sebuah penculikan yang mungkin juga terjadi pada Ida, sahabat Prima.
Dengan motif Bagus yang seperti orang kurang waras, ia mencoba meyakinkan Pram bahwa hal ini benar adanya. Sementara Prima menjadi penguat agar laki-laki itu mau mempercayai mereka.
Pram tak banyak menjawab. Dia melangkah membelakangi Reza dan Prima, menghampiri seorang pria berpakaian sepertinya dan meninggalkan pesan.
“Gantikan aku untuk beberapa saat! Katakan aku ada kasus penting bila seseorang menanyakan!” Entah itu rekan atau bawahannya. Laki-laki yang diberi pesan itu hanya melontarkan satu pertanyaan sebelum kemudian mengiyakan.
“Kasus penting apa, Pak?”
Dan Pram tak menjawabnya. Membuat laki-laki itu membungkuk, setengah mengangguk. Kemudian Pram mengeluarkan ponselnya. Menekan-nekan sebentar.
“Kita mau ke mana?” tanya Pram sebelum panggilan di ponselnya terhubung. Reza semringah mendengarnya. Pram memang mengakui kejujuran pria ini. Karena itu dia mau berteman baik dengannya. Dan siap membantu ketika dia butuh bantuan.
Reza menyebutkan daerahnya. Pram mengulanginya dan meminta orang di seberang telepon untuk menunggu di jalan menuju ke sana. Kemudian mereka bergegas. Reza masih bersama Prima dan Pram mengendarai motornya sendiri.
Di jalan sebelum menuju ke hutan, Pram berhenti sejenak untuk bertemu dengan dua orang polisi yang dipanggilnya dalam telepon. Ia meminta kedua orang itu untuk bersiaga dan menjelaskan rencana mereka. Kedua orang itu mengangguk tak lama kemudian dan mereka kembali melanjutkan perjalanan dengan Ari dan Bara menjadi penunjuk jalan.
Selama perjalanan, salah satu polisi yang dipanggil oleh Pram terlihat sibuk mengirim pesan ke temannya di kantor. Rupanya itu adalah salinan petunjuk jalan yang tengah mereka lalui sebagai persiapan bila keadaan darurat terjadi dan mereka membutuhkan bantuan.
Tak berapa lama, orang-orang itu pun sampai ke titik belasan meter sebelum gedung penelitian. Pram dan polisi yang dibawanya mematikan motor dan menyembunyikannya ke tempat yang aman. Lantas mereka mengendap ke bagian hutan di sekitar halaman depan gedung. Mereka berusaha sebaik mungkin agar bisa melihat sisi depan gedung dengan jelas.
Sementara Reza dan Prima bersiap dengan peran yang akan mereka mainkan. Di dalam tas Reza yang agak terbuka, terdapat ponselnya yang sudah terhubung dengan ponsel Pram via panggilan suara. Itu akan dijadikan alat sadap suara oleh detektif itu.
Maka Prima dan Reza pun melanjutkan perjalanan. Hingga suara motor itu terdengar berdecit dan berhenti di depan gedung. Membuat kedua penjaga palang segera menghampiri mereka.
“Permisi! Apa benar ini gedung penelitian milik Pak Bagus?” Prima memulai perannya dengan cermat. Ia menanyakan itu dengan pertanyaan lembut dan sopan. Sementara dua orang di hadapannya saling memandang dengan ekspresi heran.
Tak menunggu lebih lama, Prima menggunakan kesempatan itu untuk mendekati keduanya. Sebelah tangannya digunakan untuk merogoh saku, sementara lainnya memberi isyarat agar kedua satpam itu mendekat sehingga dia bisa membisiki mereka.
Kedua satpam itu mendekat dengan ragu.
Tenang, aku tidak bisa asal menghajar kalian! Gumam Prima dalam hatinya.
Lalu dia membisikkan apa yang telah Ari, Bara dan Reza rencanakan.
“Aku membawakan kalian objek percobaan,” bisik Prima seolah tak akan membiarkan Reza mendengarkan. Kedua satpam di hadapannya tempak kaget dan masih ragu. Sebelum kemudian Prima mengeluarkan kartu ID dari sakunya.
“Kami datang ke sini atas perintah Pak Bagus,” sahutnya dengan suara terang.
“Aku akan bawa dia ke dalam dan kalian urus sisanya,” sahut Prima kembali berbisik ke arah dua orang satpam itu. Sementara Reza masih berdiri dengan tampang sok polosnya di belakang sana.
Kedua satpam itu kembali memberengut. Mereka heran dan bingung. Prima memanfaatkan kondisi itu untuk mencoba menerobos. Tangannya meraih Reza dan memberi isyarat mengajaknya masuk.
Sayang, belum sempat aksinya berhasil, kedua orang itu kembali sadar. Mereka segera menghadang Prima dan Reza. Membuat kedua orang itu tersentak ke belakang. Cahaya remang lampu pos menyorot wajah mereka yang gugup.
“Bila Anda diperintah oleh Pak Bagus, pasti Pak Bagus sudah memberitahukannya kepada Bu Susi. Jadi, silakan tunggu di sini, teman saya akan memanggilkan Bu Susi sebentar.”
Deg!
Salah satu satpam itu berjalan masuk. Mata Prima dan Reza membulat penuh meskipun tak sampai lupa untuk menjaga raut mereka. Hingga tanpa sadar, Prima mengeluarkan kata-kata.
“Jangan!” sahutnya menghentikan langkah si satpam yang hendak masuk memanggil Susi. Semua orang yang melihat dan mendengar jadi ikut terkejut dan berdebar. Seperti Reza, si satpam di hadapan mereka, para polisi dan detektif yang mengintip mereka hingga kedua remaja mengambang itu—Ari dan Bara.
“Maksudku ... jangan! Ya, jangan. Pak Bagus tidak sempat mengabarkannya kepada orang lain. Dia bilang, dia tidak ingin diganggu. Kalian tahu, kan, orang itu seperti apa?!”
Prima mencoba memberikan alasan yang cukup untuk menahan satpam itu masuk semakin dalam. Pihaknya terlihat gugup menunggu reaksi dari lawan. Hingga si satpam di depannya angkat bicara.
“Benarkah?” Dia bertanya dengan wajah berpikir. Sepertinya sulit juga baginya menghadapi situasi seperti ini. Sementara Reza dan Prima tampak berharap-harap cemas dengan raut wajah mereka yang agak tegang.
“Baiklah,” satpam itu mulai menyerah. Dia menyetujuinya dan membuat Prima dan kawan-kawan semringah, termasuk Ari dan Bara. Mereka kemudian dipersilakan dan hampir saja berhasil masuk saat seseorang yang tak terduga keluar dari bangunan itu.
Bukan Susi atau Rani. Itu Ruslan, si kepala keamanan sekaligus ketua di salah satu tim penelitian. Laki-laki itu awalnya terlihat gusar dengan raut yang tertekan. Sepertinya itu karena beban dan ancaman yang diberikan oleh Bagus beberapa saat tadi.
“Pak!” Satpam yang hampir masuk tadi reflek memanggilnya. Ruslan yang semula semrawut kini memulihkan fokusnya. Reza dan Prima menegang, begitu pula dengan Ari dan Bara yang menyaksikannya. Mereka merintih dalam hati.
Bagaimana ini? Gumam mereka bersamaan.
Ruslan mengangkat alisnya, ia baru saja menemukan dua, tidak, satu sosok asing di depan gedung ini. Ia pernah melihat Prima sebelumnya. Bahkan dia juga tahu bahwa laki-laki itu punya hubungan dekat dengan Ida. Itu membuatnya heran dengan keberadaan sosok pria itu di sini. Untuk apa? Pikirnya sembari mengangkat sebelah alis.
Prima masih menegang, Ruslan berjalan mendekat ke arah mereka sembari mendengarkan si satpam yang mencoba menjelaskan niat dua orang itu kemari dengan berbisik padanya.
Mendengar kata ‘objek’ yang dibisikkan oleh bawahnnya, Ruslan menoleh. Lalu kembali melirik Prima dan rekannya. Laki-laki itu tersenyum sinis sambil mempercepat langkah.
Ruslan berdiri di hadapan Prima dan Reza. Kedua orang itu gugup setengah mati, terutama Prima. Ia merasa kenal dengan sosok Ruslan si kepala pengawal milik Bagus itu. Namun, apakah dia akan dibahayakan di sini?
Prima mencoba tersenyum. Senyumnya kaku dan terlihat seperti cengiran kaku. Ia mencoba mengadu nasib. Mendekatkan tubuhnya ke arah Ruslan sembari sedikit berjinjit untuk bersiap membisikkan sesuatu. Ruslan sendiri terlihat meladeninya dengan merendahkan kuping ke arah Prima.
“Aku diperintahkan oleh Pak Bagus untuk membawakan objek ini,” bisik Prima yang dibalas anggukan mengerti oleh Ruslan. Pria itu kemudian menegakkan tubuhnya dan melirik Reza serta mendekatinya. Prima yang melihatnya mulai berharap-harap cemas, begitu juga dengan kawan-kawannya, termasuk Ari dan Bara.
Sementara Reza berusaha memikirkan cara untuk mencairkan suasana. Ia berpikir untuk menjulurkan tangan dan memperkenalkan diri sebagai wartawan yang ingin meliput perihal penelitian penjelajah waktu oleh Bagus. Ingin dia mengarang bahwa ia telah mendapat persetujuan dari Bagus dan menggambarkan citra ketidaktahuannya atas segala tindak kriminal yang terjadi di dalam sana.
Sayang, ia tak sempat melaksanakannya. Ia keduluan Ruslan yang mengeluarkan suara terang tegasnya.
“Apa ini objek yang kamu bawakan?” tanya Ruslan melirik Prima. Semua orang terkejut, termasuk dua satpam dan dua remaja tak kasat mata di sekitarnya. Reza dan Prima bahkan membulatkan mata mereka. Sementara para polisi dan detektif mengernyitkan kening menyipitkan mata.
“Kau membawa apa saja? Ada kamera juga?” tanya Ruslan sembari mempermainkan tas selempang milik Reza. Intimidasinya terasa begitu nyata. Reza bahkan hampir bergetar ingin menjawab Ruslan. Ia ingin berusaha tetap menunjukkan karakter yang diperankannya, seorang pria yang tidak tahu apa-apa.
“Objek? Mak-sud A-nda ... apa?”
Sial! Batinnya.
Kenapa aku segugup ini? Ayolah Reza, kamu bisa! Sahutnya lagi dalam hati.
Baru saja ia mengatakan itu, orang yang berada di hadapannya berseringai menang. Ia menatap Reza dengan senyuman. Membuat pria itu semakin cemas mendapatnya.
Bug!
Sebuah pukulan telak mengenai tengkuk Reza hingga membuatnya pingsan dan Ruslan yang melakukannya. Ia kemudian menoleh ke arah Prima. Memberikan senyuman menyeramkan. Mencurahkan kekesalan dan segala tekanan pada dirinya dengan bertindak bengis pada orang-orang itu.
Prima kehilangan kendalinya. Ia mengernyit heran melihatnya.
“Apa yang kamu lakukan?!” tanyanya dengan nada tinggi dan kasar. Tanda bahwa dia tak menyukai yang dilakukan oleh Ruslan barusan. Namun, reaksinya itu justru membuat Ruslan semakin semringah.
“Bukankah kamu sudah mengetahuinya? Objek di sini tidak akan ada yang pulang hidup-hidup,” katanya ramah sambil berjalan ke arah Prima. Laki-laki itu berjalan mundur, langkahnya mengarah lebih dalam ke dekat gedung dan dua orang satpam yang sejak tadi sudah dibelakanginya.
Kedua orang polisi yang melihatnya hendak bangkit dan menolong Prima. Namun, Pram si detektif mencegah mereka.
“Panggil bantuan saja!” katanya berbisik kepada dua orang itu. Mereka yang mendengar segera melaksanakan perintahnya.
Sementara Prima di depan sana telah dipegangi oleh kedua satpam di sekitarnya. Ia kemudian dipukuli di bagian perut oleh Ruslan karena telah mencoba berontak. Membuat sang putra, Bara, terlihat syok. Membuat Ari juga demikian. Membuat mereka marah dan sedih, serta semuanya bercampur aduk.
Kedua laki-laki itu kemudian dibawa ke dalam oleh Ruslan dan beberapa anak buahnya yang keluar sesaat kemudian. Sementara Pram si detektif teringat akan rencana cadangan yang sempat dijelaskan oleh Reza.


0 Comments