Ari, Bara dan Geri kini terlihat berbisik-bisik membahas apa yang hendak mereka lakukan agar bisa membebaskan diri dan para korban lain dari tempat itu. Setelah bersusah payah melepaskan ikatan bersama pria itu, kini Ida sendiri hanya bisa menatap aneh ke arahnya. Sebab laki-laki itu begitu fokus dengan perbincangannya bersama makhluk yang tak bisa Ida lihat.
Mereka yang lain yang melihat itu pun tak peduli lagi siapa yang diajaknya bicara. Yang pasti, mereka telah terbantu olehnya. Maka yang perlu dilakukan pun tinggal membantu mereka yang tampak lemas tak bertenaga, yang bibirnya sudah kering pecah tanda dehidrasi.
“Membawa polisi kemari sangat berisiko. Bila tidak berhasil mengepung dan menyudutkan orang-orang jahat ini, bisa saja mereka menjadi korban seperti kita. Kita tidak tahu jumlah penjaga di tempat ini sebanyak apa.”
Geri menjelaskan risiko rencana mereka dengan suara terang meski agak berbisik agar tak terdengar orang luar. Dia menyebut kata ‘mereka' untuk menggantikan Reza dan para polisi yang diusulkan Ari dalam rencana mereka.
Sementara Ari, setelah mendengar itu, dia langsung mengalihkan pandangan ke arah seseorang di samping Geri. Seorang laki-laki berbibir kering pecah yang terlihat menyimak tiap kalimat yang dilontarkan oleh Geri meski tak bisa mendengar balasan dari Ari dan Bara.
Mendapati tatapan lawan bicaranya yang teralih, Geri jadi ikut melihat ke arah objek yang ditatap. Ia mendapati laki-laki itu tersentak halus lalu menunjukkan seulas senyum. Geri sedikit mengernyitkan dahi meski masih mengulaskan senyum.
“Kamu tidak tahu jumlah penjaga di tempat ini? Setidaknya aku bisa memberitahumu.” Laki-laki itu segera membuka mulut. Membuat raut wajah Geri berubah semringah meski tak benar-benar kentara.
“Benarkah?” tanya pemuda itu memastikan dengan nada berbisik. Laki-laki itu kemudian mengangguk mengiyakan. Lalu membalasnya dengan bisikan pula.
“Namaku Harun, sudah disekap delapan hari di sini. Dulu waktu pertama datang, ada seseorang yang berusaha kabur. Dia mencoba di pagi hari dan delapan orang penjaga terlihat mengepungnya. Dia mencoba sekali lagi di malam hari dan hanya empat orang yang mengepungnya.” Laki-laki bernama Harun itu menjeda penjelasan karena harus mengambil napas lagi. Ia kemudian kembali berbisik untuk melanjutkan.
“Melihat penjaga yang sedikit, kami pun ikut membantunya. Sampai di depan, ada dua orang satpam mencoba mencegah kami. Tapi jumlah kami masih lebih banyak, sekitar belasan. Sayangnya, belum sempat melewati palang, kami sudah dikepung penjaga tambahan yang jumlahnya lebih dari dua puluhan. Ditambah kepala keamanan mereka yang sangat tangguh. Dia merobohkan sebagian dari kami, termasuk aku yang langsung pingsan terkena tendangannya.”
Ari dan Bara yang mendengar cerita itu langsung teringat sosok Ruslan. Laki-laki itu memang terlihat jangkung dengan tubuh yang cukup kekar. Pasti pukulan dan tendangannya sangat menyakitkan sampai membuat seseorang bisa langsung pingsan.
Sementara itu, mereka kembali teringat pengawal pribadi Bagus. Mungkin empat orang itulah yang membuat jumlah penjaga di pagi hari lebih banyak. Itu berarti, saat Bagus istirahat di rumahnya seperti sekarang ini, penjaga di sini hanya tersisa empat orang.
Namun, dengan keberadaan Ruslan, mungkin rasanya seperti ada tambahan sepuluh orang penjaga lagi. Ari dan Bara pun menggelengkan kepala secara serentak. Harus tetap fokus! Batin mereka bersamaan.
“Kalian dengar itu?” Geri terlihat menyahuti kedua remaja yang tak tampak oleh Harun dan kawan-kawan. Ketiga pemuda itu kemudian kembali ke fokus rencana mereka.
“Bila tidak bisa menyudutkan puluhan penjaga itu, Reza dan polisi yang dibawanya akan menjadi korban. Mereka bisa saja dibunuh dan Reza dikambinghitamkan. Kita tidak tahu otak kriminal itu selicik apa.”
Ari dan Bara mendengarkan penjelasan itu dengan saksama. Kemudian mereka terlihat berpikir keras. Ya, itu masuk akal. Bila mereka tidak bisa menyudutkan orang-orang jahat ini, akan berakibat fatal nantinya. Namun, untuk membawa polisi sebanyak itu, bagaimana caranya?
Kedua remaja itu terlihat berpikir keras. Hingga sesuatu seperti datang ke kepala mereka. Sesuatu yang datang seperti ide baru.
“Aku tahu,” sahut Bara terdengar lebih dulu.
“Untuk dapat membujuk polisi mengirim banyak bantuan, kita harus menyediakan bukti dan saksi yang bisa dipercaya oleh para polisi itu sendiri. Caranya, kita bisa meminta Pak Reza untuk menyusup dengan membawa kamera miliknya.”
Ari mengangguk menyetujui karena baru saja dia mendapat pemikiran yang sama. Sementara Geri terlihat menggelengkan kepala. Rencana itu masih kurang matang.
“Bagaimana cara dia menyusup? Selain itu, bagaimana caranya keluar lagi dan memberi bukti itu kepada para polisi?” tanya Geri keheranan. Itu pertanyaan yang tepat.
Bara terlihat berpikir sejenak dan teringat sesuatu.
“Pak Reza mungkin sedang bersama bapak saya. Kita bisa membujuknya untuk membantu Pak Reza masuk. Dia punya alibi untuk itu. Kita bisa mengatur dan mengarangnya nanti. Yang jelas, kita bisa menggunakan profesinya sebagai bawahan Pak Bagus.” Bara menjelaskan dengan yakin. Sementara Geri masih terlihat ragu.
“Begini, bapaknya bisa membawa Pak Reza masuk untuk alasan tertentu. Entah untuk alasan apa pun, bahkan menyamar sebagai calon korban juga bisa. ID pegawai milik bapaknya akan mengurangi kecurigaan penjaga. Beliau bisa mengatakan bahwa itu perintah Pak Bagus. Para penjaga pasti akan menurutinya.”
Kali ini, semua itu masuk di akal Geri. Ya, cara itu bisa dicoba.
“Lalu bagaimana dengan buktinya? Bagaimana cara mereka mengeluarkannya?”
“Hal itu mudah diatur. Bapak saya seorang ilmuwan. Beliau sering membawa tas besar di punggungnya atau ditentengnya. Hasil potret bisa dimasukkan ke dalam sana.”
Kali ini mereka merasa yakin dengan rencananya, tak terkecuali Geri. Ia terlihat mengangguk pelan meski terlihat masih agak cemas. Namun, kemudian, apa yang dibahas oleh Bara setelah itu terdengar sedikit menenangkannya.
“Untuk rencana cadangan, bila-bila sesuatu yang buruk terjadi, saya sudah memikirkan sesuatu yang mungkin bisa Anda lakukan,” ucap Bara terlihat fokus ke arah Geri. Laki-laki yang diajak bicara itu terlihat mengernyit sejenak. Sementara Ari terlihat menyimak karena dia sendiri tidak punya rencana cadangan seperti itu.
“Pak Reza bilang, Anda adalah seorang sarjana. Dan saya lihat, di dalam kamar Anda ada beberapa poster bahan kimia, tabel unsur hingga beberapa gelas percobaan. Apa Anda mempelajari kimia?” Bara bertanya hati-hati dengan penuh pengharapan.
Geri kemudian mengangguk kecil dengan tempo cepat karena penasaran dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Bara.
“Aku mengambil jurusan Kimia, tapi sebenarnya minatku ada pada farmasi. Jadi, aku lebih tertarik dengan reaksi dalam obat-obatan dibanding yang biasanya diajarkan padaku. Memangnya kenapa?” Laki-laki itu kemudian bertanya, mengungkapkan rasa penasarannya. Sejenak kemudian, Bara menampilkan senyumannya sebagai tanda bahwa itu adalah kabar baik baginya.
***
Dengan bantuan metode mengingat yang diajari oleh Reza, kini Ari dan Bara bisa mengingat jalan menuju rumah pria itu tanpa hambatan yang pasti. Hingga saat mereka sampai di rumahnya, pria itu langsung beringsut untuk menyambut mereka.
“Bagaimana?” katanya dengan cepat.
Reza langsung bertanya sesampainya Ari dan Bara di sana. Kedua remaja itu memberikan gestur memintanya tenang.
“Kami akan menjelaskannya!” kata mereka diwakili oleh mulut Ari.
Sementara setelah itu, perhatian Bara tampak tersedot oleh orang lain yang ada di ruangan itu, Prima. Laki-laki yang merupakan ayahnya. Seorang pria tangguh yang kemudian dipeluknya meskipun itu tak membuahkan hasil karena mereka tak bisa saling bersentuhan. Seorang Prima yang kini tengah menatap heran ke arah Reza yang tampak berbicara sendirian.
“Apa kamu masih waras?” tanya Prima kurang sopan, membuat kedua pemuda tak kasat mata di depannya tertawa terbahak-bahak pada Reza. Sementara laki-laki yang ditanya itu membulatkan matanya penuh. Dia gemas, dan ingin sekali menampar Prima dengan kenyataan yang ia tahu. Namun, sayang, hal itu sangat sulit dibuktikan. Ya, meski demikian, dia tetap berusaha.
“Jangan meremehkanku! Mereka ini informanku. Justru aku lebih baik darimu karena bisa melihat mereka. Kalau tidak, mungkin kamu tidak akan tahu nasib Ida dan suaminya sekarang.” Reza berhasil membalikkan keadaan.
Kini Prima hanya memberi senyum pasrah. Ia telah diberi sedikit bukti yang bisa meyakinkannya tentang hilangnya Ida dan sang suami. Bukti dengan pengakuan Endang saat ia hubungi, bahwa Ida tidak bisa dihubungi dan bahkan suaminya juga sedang mencarinya.
Saat laki-laki itu meminta kontak Bowo dan mencoba menghubungi, kini Bowo lah yang tak bisa dihubungi. Tak percaya dengan itu, ia meminta alamat rumah Bowo untuk mengeceknya sendiri. Alhasil, pembantu di rumah itu menjelaskan bahwa Bowo sedang mencari Ida yang hilang.
Sempat Prima mencurigai Reza sebagai dalang di balik ini semua. Namun, penjelasan Reza soal Bagus yang kemungkinan terobsesi dengan proyek mesin waktu menjadi hal yang cukup masuk di akalnya. Pria itu teringat ekspresi Bagus saat menguping hasil kajiannya dengan Ida tempo hari. Lebih-lebih, Reza mengaku bahwa mereka perlu melibatkan polisi dalam jumlah cukup banyak dalam hal ini.
“Jadi, apalagi kabar yang dibawa oleh informanmu itu?” Prima menurunkan egonya dan memilih fokus pada masalah mereka.
Selain Prima, Ari sebelumnya juga sempat terlihat murung mengingat tentang ayah dan ibunya yang masih tersekap di tempat sana. Namun, dia berhasil cepat-cepat mengembalikan kesadarannya untuk tetap fokus dalam pemecahan masalah.
“Di sana ada banyak orang yang disekap. Banyak juga yang sudah dijadikan objek percobaan. Salah satu yang ingin mereka buat adalah Racun Juliet. Obat tidur yang bisa membuat orang mati suri dalam kisah Romeo dan Juliet.” Ari melaporkan dengan sigap.
“Selain itu, ada kolam renang yang sepertinya dijadikan percobaan pembunuhan dengan menenggelamkan objek. Kemungkinan mereka memberikan pertolongan pertama untuk para korban yang dinyatakan meninggal. Jadi efek beruntunnya akan seperti mati dan hidup kembali, alias mati suri. Yang ingin mereka buktikan sepertinya adalah pengalaman mistis yang dikatakan oleh ibuku. Pengalaman mistis orang-orang yang pernah mati suri, termasuk menjelajah waktu.”
Reza menulis semuanya. Tangannya begitu lihai dengan mengubah kata ‘ibuku’ menjadi ‘Ida’ dalam catatannya. Kemudian tulisan itu dia tunjukkan kepada Prima sekaligus mengulanginya kembali pada pria itu.
Prima yang mendengarnya langsung membulatkan mata. Ia merasa semua ini masuk akal dengan segala petunjuk dari kejadian-kejadian tempo hari. Yang membuatnya kini risau adalah nasib Ida dan suaminya. Sementara Reza sendiri terlihat memikirkan adiknya, sarjana pengangguran bernama Geri.
Lantas, Ari dan Bara pun segera menyampaikan hasil diskusi mereka soal rencana pembebasan para korban. Reza yang mendengarnya sesekali menambahkan agar rencana itu bisa lebih baik. Begitu pula dengan Prima. Mereka membahasnya dan segera melaksanakannya.