Angin sepoi mengalir lembut di luar sana. Ditemani langit malam dan bintang-bintang, mereka mengalun seakan tengah melantunkan lagu syahdu yang berharmoni lembut. Lirih, seolah tak terpengaruh oleh suasana hati Ari di dalam sana.
Ari Wijaya, pria muda berkulit kecoklatan dengan wajah tegas itu sedang menenangkan degup jantungnya. Pasalnya, ia baru saja menemukan ayahnya dilempar masuk ke dalam sebuah ruangan berisi orang-orang yang tampak terikat dengan mulut tertutup sumpalan yang terikat pula. Termasuk sang ibu. Dan itulah yang membuat Ari semakin tak karuan.
Baru beberapa saat ia memperhatikan ayahnya yang kini tengah diikat dan ibunya yang tampak merancau melihat suaminya diperlakukan demikian, ia melihat seorang petugas kemudian menarik salah seorang pria dari dalam sana. Seorang pria yang tampak sudah melemah dengan bagian bibir mengering pertanda dehidrasi.
Lantas pria itu menarik perhatian Ari, membuat laki-laki itu terpaksa meminta maaf pada ibunya karena dia harus mencari tahu apa yang akan dilakukan oleh orang-orang di luar sana pada mereka yang diculik.
Laki-laki berbibir kering itu kini terlihat dibawa ke sebuah ruangan. Di dalam sana terdapat sebuah tirai yang menutupi sebagian besar isi ruangan, menyisakan sebuah ranjang dorong dan ia dibaringkan di sana. Tangannya yang terikat kini dilepas, begitu pula di bagian kaki.
Tubuh pria yang lemas itu sejenak mencoba meronta, tapi tak punya banyak tenaga. Ia segera kembali melemas, bahkan meski tak diapa-apakan. Maka orang-orang yang membawanya pun memulai apa yang ingin mereka lakukan.
Di bagian tangan, mereka tampak menyuntikkan sesuatu. Sesuatu yang kemudian membuat Ari penasaran. Karena si pria yang disuntik terlihat semakin melemas, hingga akhirnya terlihat tidak sadarkan diri meski ia memang tak tampak bugar sebelumnya.
Si penyuntik pun kemudian mencoba mengecek detak jantung beserta napas pria itu. Lalu dia memberi tanda sebuah anggukan pada teman-teman yang lainnya. Maka mereka kemudian memindahkannya masuk ke bagian yang tertutup tirai. Dan betapa terkejutnya Ari melihat isi yang disembunyikan oleh tirai tersebut di dalam sana.
Ini? Ari tak percaya.
Di sana tampak berderet-deret ranjang berisi orang-orang yang terbaring lemah, entah masih hidup atau tidak. Membuat Ari menggelengkan kepalanya. Hingga laki-laki itu mendengar kata ‘Astaga!’ yang dilontarkan oleh Bara yang juga terkejut sepertinya.
Ari menatap Bara dengan tatapan linglung. Bingung mau berkata apa. Sementara Bara tampak mulai bersiap untuk mengeluarkan segala keluhannya.
“Apa-apaan mereka ini? Apa yang telah mereka lakukan pada orang itu?” tanyanya pada Ari karena tak sempat melihat adegan penyuntikan yang terjadi tadi.
Ari sendiri hanya menjawab dengan gelengan pasrah. Dia tak tahu harus menjawab apa selain apa yang dia lihat.
“Aku tidak tahu apa yang mereka lakukan pada orang-orang itu. Tadi mereka menyuntik satu orang pria dan setelah itu mereka memeriksa detak jantungnya. Sepertinya orang itu meninggal, tapi yang memeriksa malah menganggukkan kepala,” jelas Ari cukup terperinci.
Sejenak setelah itu, keduanya tampak diam memikirkan sesuatu. Hingga Bara kembali bersuara dan mengajak Ari ke ruang yang tadi dimasukinya. Kedua remaja itu kemudian bergegas ke sana dengan perasaan kalut setelah yang diajak menganggukkan kepalanya tanda setuju.
“Lihat! Mereka punya kolam. Di sana ada batu yang terikat tali tambang. Dan kamu tahu? Tadi ada seorang pria basah kuyup dibaringkan di sana. Kata bawahan Pak Bagus, mereka berhasil membangunkan orang itu. Tapi dia tidak mengingat apa-apa selain gelap dan sakit di tenggorokannya. Lalu mereka membawanya ke sini.”
Bara kemudian menarik tangan Ari untuk mengajaknya pergi ke ruangan tersebut. Lantas ketika sampai, Ari lagi-lagi dibuat terkejut, pemandangan serupa dengan ruangan yang tadi terlihat di sini. Perbedaannya, orang-orang di sini diberi perlengkapan berupa infus dan fasilitas medis lain. Sementara yang tadi, benar-benar seperti tempat tidur biasa, hanya dilengkapi jam beker.
Sejenak, Ari dan Bara kembali memikirkan tentang ini semua. Hingga mereka menyadari pergerakan Bagus yang hendak keluar setelah selesai mengikuti Ruslan yang menanyai objek-objek percobaan mereka.
Laki-laki itu tampak seperti gelisah dengan hasil yang dilaporkan oleh bawahannya. Namun, wajah gusarnya tak terlihat jelas seperti saat di hadapan Rani tadi. Maka dia pun memberikan sebuah pesan terakhir sebelum dirinya memutuskan untuk kembali ke rumah, pergi dari tempat penelitian yang aneh itu.
“Malam ini, aku ingin dengar sebuah cara yang menjanjikan. Dan besok, aku harus bisa mendapatkannya. Kalau tidak, kamu akan berharap bahwa kamu tidak pernah memiliki istri dan anak.”
Laki-laki itu melangkah tegas. Meninggalkan Ruslan yang menarik napas dalam. Antara lelah, tertekan dan cemas. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Dia dulunya hanya kepala keamanan, hanya karena pernah menjadi penjaga kolam, sekarang dia harus menjadi ketua tim yang meneliti hal yang sulit dibuktikan seperti ini.
Ari dan Bara yang melihat itu merasa selesai dengan urusan di ruangan tersebut. Mereka terlihat mengikuti Bagus hingga mendapati laki-laki itu hanya berniat pulang ke rumahnya. Maka mereka memutuskan untuk tak mengikuti. Lebih baik mengamati dan mencari informasi lebih tentang tempat ini dulu.
Kedua pemuda itu pun akhirnya memilih untuk menelusuri gedung secara bersamaan. Dimulai dari mengamati muatan layar komputer milik Susi, si asisten. Yang mana hanya terlihat permainan Pinbal saja di sana. Ya, walaupun di bagian Taskbar-nya terlihat ada beberapa dokumen word yang tidak aktif.
Lalu di layar-layar komputer para peneliti, mereka menemukan tabel-tabel berisi variabel yang tidak mereka pahami. Tak mau membuang waktu, mereka memilih melihat isi ruangan di depan ruang itu.
Hanya terpisah oleh lorong, terlihat sebuah ruang berisi kumpulan kardus bertanda khusus dengan label-label nama kimia. Membuat Bara memicingkan mata.
“Ini ... gudang bahan kimia,” gumamnya kemudian memberikan kesimpulan untuk Ari.
Laki-laki itu mengetahuinya dari berbagai nama yang terlihat di kardus tersebut. Salah satu dari deretan itu ada yang tertulis opium. Salah satu jenis obat penenang yang acap kali disalahgunakan. Lalu menyeberang sedikit, dari ruangan itu, menembus dinding, mereka menemukan ruang berisi lab kimia beserta beberapa ilmuwan yang sedang meneliti di dalamnya.
Di ruangan itu, terlihat sebuah papan mapping yang memuat tujuan penelitian mereka. Sebuah tujuan yang disebut “Juliet’s Poison”. Yang sepertinya mulai memberi sedikit petunjuk kepada kedua pemuda di sana.
Terbukti dengan keduanya yang kini saling berpandangan. Lalu membagi apa yang mereka pikirkan.
“Apa ini ...,” Ari menggantungkan kata-katanya.
“Ya, sepertinya mereka sedang membuat obat tidur Juliet. Tidur seperti mati, lalu bangun lagi.” Bara menanggapi dan melengkapi. Keduanya menjadi yakin.
Lalu setelah sedikit mengamati apa yang para ilmuwan itu lakukan, keduanya melanjutkan dengan menembus ke ruang berikutnya dan menemukan ruang berisi deretan ranjang tadi.
Di sana mereka mengamati nomor-nomor yang menempel di ujung ranjang. Seperti 45, 46 dan seterusnya. Hingga sebuah alarm berbunyi, menyadarkan seorang penjaga yang tampak duduk di ujung deret, tepat sebelum tirai dibentangkan.
Tak berapa lama, para ilmuwan dan dokter tambahan tampak mendatangi tempat tersebut. Dokter tersebut terlihat mengecek denyut nadi, detak jantung hingga pernapasan objek yang alarmnya berbunyi.
Lalu setelah melakukan itu, dia memberikan kabar kepada teman-temannya dengan menggelengkan kepala. Ari dan Bara yakin bahwa itu adalah tanda si objek telah meninggal. Entah untuk apa alarm itu sebenarnya dipasang, kedua remaja itu hanya menerka-nerka bahwa itu adalah perkiraan waktu si objek akan bangun kembali dengan obat buatan mereka.
Namun, meski begitu, objek tersebut tidak langsung dikeluarkan. Mereka masih membuat toleransi waktu dengan menambah alarm baru sekitar 8 jam kemudian. Mungkin mereka berharap ada perubahan yang terjadi pada rentang waktu tersebut.
Lantas setelah melihat itu, Ari dan Bara kembali melanjutkan ke ruang berikutnya, kamar jenazah. Ya, sepertinya korban dalam penelitian ini cukup banyak. Sekitar tiga puluh orang.
Melanjutkan lagi, mereka menemukan kantin di gedung itu dan setelahnya, ruang peristirahatan para pekerja yang tampak sederhana dengan ranjang bertingkatnya. Melihat hal itu, kedua remaja kini kembali menelusuri sisi lain.
Menemukan ruang dengan deret ranjang beserta perlengkapan medis tadi. Lalu setelahnya menemukan kolam yang mereka yakini sebagai tempat percobaan juga.
“Sepertinya mereka sedang berusaha membuat orang-orang mati suri untuk membuktikan pengalaman menelusuri waktu yang diceritakan ibumu,” ungkap Bara saat mereka hendak meninggalkan kolam itu.
Ari tampak menarik berat napasnya sebelum mengembuskannya kembali. Dengan berat hati, ia harus menyetujui itu. Dan mengingatnya, laki-laki itu pun segera menarik lengan kawannya untuk segera menuju ke ruang yang berisi ibunya.
***
Bara tampak terkejut. Dia melihat orang tua Ari sudah terikat dua-duanya. Ida tampak berusaha membangunkan sang suami, Bowo. Sementara laki-laki itu terlihat masih lena dalam tidurnya.
“Apa mereka akan baik-baik saja?” tanya Bara entah kenapa.
“Entahlah,” jawab Ari lagi sama anehnya.
Mereka pun kembali tersadarkan bahwa mereka masih mencari satu orang lagi, Geri. Lantas kedua pasang mata mereka mengamati sekeliling dan menemukannya. Seorang pria agak kurus yang tengah menengadahkan wajahnya. Menatap tepat ke dua orang remaja tersebut. Dengan mata yang membulat. Seolah heran, ketakutan dan tak percaya. Membuat yang ditatapinya sempat kebingungan.
“Apa dia bisa melihat kita?” tanya Ari pada Bara. Keduanya tampak tak percaya.
“Sepertinya begitu. Kita tanyakan saja pada orangnya,” sahut Bara membalasnya.
“Apa Anda bisa melihat kami?” Ari bertanya langsung pada pria itu.
Laki-laki kurus dengan mulut tersumpal itu kini mengangguk kuat dan cepat. Membuat beberapa mata yang melihatnya tampak picing karena pemiliknya sedang keheranan. Tingkah pria itu tentu bisa disebut janggal. Sedang bicara dengan siapa dirinya bila Ari dan Bara tak terlihat?
Maka Ari dan Bara terlihat berbagi senyuman. Mereka pun kemudian meminta Geri untuk tenang. Karena dua orang remaja ini datang untuk mencarinya atas permintaan sang kakak, Reza yang kini tengah menunggu bersama Prima di rumah mereka.
Lantas untuk memudahkan komunikasi mereka, Ari dan Bara menunjukkan cara melepaskan tali yang mengikat tangan Geri. Cara yang mereka tunjukkan adalah dengan menekuk kaki dan mencoba memindahkan tangan yang terikat di belakang menuju ke depan. Sayang, meski telah berusaha, Geri tampaknya tak mahir melakukannya.
Laki-laki itu merengut pasrah. Namun, kedua remaja di depannya tak kehabisan akal. Cara yang mereka tunjukkan barusan itu adalah untuk orang yang sendirian. Bila ramai seperti itu, mungkin mereka punya cara lain.
Lantas Ari melihat ibunya dan menyuruh Geri mendekati wanita itu. Ari kemudian menunjukkan cara melepaskan ikatan dengan memunggungi punggung Bara. Saling berpunggungan dengan tangan yang berusaha saling melepaskan.
Geri berseringai dan mencoba mengajak Ida melakukannya. Sementara perempuan itu terlihat ketakutan karena melihat tingkah tak wajar yang dilakukan oleh pria itu barusan. Siapa yang tak takut pada orang yang mengangguk sendiri, berseringai sendiri lalu tiba-tiba mengajakmu ‘bicara’ seperti itu?
Ya, walaupun begitu, Geri akhirnya berhasil membujuk dengan memberi isyarat sebisanya. Menunjuk Ida dengan dagu, lalu dirinya sendiri, lalu memutar tubuh dan menaikkan punggung. Kemudian mengangkat tangan yang terikat dan menggerak-gerakkannya, seolah menagih tangan lain sebagai lawannya.
Dan Ida mengerti. Walau sempat ragu dan masih merasa aneh pada Geri, wanita itu akhirnya mengangguk dan memutar tubuhnya memunggungi Geri. Keduanya saling bekerja sama, berusaha melepaskan ikatan di tangan lawan.
Orang-orang lain yang melihat mereka, yang tampak masih cukup kuat untuk memperhatikan, kini terlihat memperhtikan. Mereka yang mampu dan bertenaga, kini terlihat meniru gerakan itu.
Dan kini, saatnya mempersiapkan rencana pembebasan.


0 Comments