Ida mengetuk pintu kamar
putranya. Namun, Ari tak menjawab. Bukan hanya karena tak mau, tapi karena dia
sudah terlelap dalam mimpi. Laki-laki
itu sudah cukup menghabiskan tenaga dengan tawuran tadi. Dan yang baru saja, ia
kembali menjotos boneka yang ada di kamarnya.
Omong-omong tentang
boneka, bagi Ari, boneka itu bukan sekadar
boneka. Dia adalah teman sekaligus samsak tinju yang dibuat khusus oleh Ari ke
ahlinya. Jadi agar tidak bosan meninju bantal guling, ia pun menerapkan idenya
untuk membuat samsak berbentuk manusia.
Ari menamai boneka itu ‘Tuan Pendiam’. Karena sejak dia menerimanya, tak
pernah sekali pun boneka
itu terdengar berkata-kata. Tentu saja. Sejak kapan ada boneka yang bisa
bicara? Tidakkah Ari itu lucu? Bahkan
pelatihnya dulu menertawainya saat dia menamai boneka itu Tuan Pendiam.
Ya, waktu itu umurnya
masih 13 tahun. Ari memenangkan sebuah turnamen tinju yang diadakan oleh
pelatihnya sendiri. Lalu ia dihadiahi sebuah samsak tinju untuk digunakan di
rumahnya.
Namun, Ari tak mau hanya
di situ saja. Laki-laki
itu meminta pelatihnya untuk mengganti bentuk samsak hadiahnya dengan karakter
seorang pria dalam kuda-kuda petinju. Dan pelatihnya pun menyebutkan angka yang
harus dibayarkan untuk itu.
Ari pun bekerja di toko
keluarga Deni, membantu mengangkat barang dan lainnya demi mengumpulkan uang
tanpa meminta pada ibunya. Lalu sedikit demi sedikit menyisihkan uang jajannya
setiap hari. Setelah terkumpul cukup banyak, dia memberikan
uang itu kepada sang pelatih. Dan betapa sayang pelatih itu kepadanya, dia
langsung diberi hasil kerja itu tanpa diambil uangnya.
Ari sebenarnya tak mau
melakukan itu. Dia hampir memaksa pelatihnya untuk tetap menerima uang itu. Namun,
sang pelatih tetap menolak. Baginya, itu adalah hadiah khusus untuk kerja keras
Ari. Dan satu hal yang lebih penting, itu adalah kado perpisahan mereka sebelum
dirinya pindah ke luar negeri.
Ari pun dengan sedikit
layu melakukan yang diminta sang pelatih. Ia mengantongi kembali uangnya dan
mulai menyapa kado dari pelatihnya tadi. Bibirnya
bergumam kecil menanyai Tuan Pendiam itu.
“Apa kamu akan
menggantikan pelatih? Apa kamu bisa melatihku sebaik pelatih? Pelatih, dia tak
mau menjawab. Apa dia memang seorang pendiam? Aku akan memanggilnya Tuan
Pendiam,” katanya sambil menghadap sang pelatih. Berusaha keras menutupi
kesedihannya. Si pelatih sendiri hanya bisa mengacak kecil rambut kepala anak
itu sambil sedikit tertawa kecil.
Dan begitulah. Kemudian
Ari membawa boneka itu pulang. Hendak menggantungnya, tapi dihalangi oleh sang
ibu. Dan lagi, terjadi pertengkaran di antara mereka berdua. Ya, hanya karena
masalah kecil.
Ari waktu itu berhasil
menjadi pemenang. Ia mengaku membeli samsak itu dengan uang tabungannya, hasil
kerjanya pada keluarga Deni, dan hadiah yang diberikan padanya setelah
memenangkan turnamen tinju yang diadakan oleh pelatihnya. Ia juga menggumamkan
bahwa boneka itu mungkin akan menjadi satu-satunya yang bisa menemani
kesendiriannya di rumah ini.
“Dan
mungkin dia bisa menggantikan ayah saat aku sendirian di rumah!”
Itulah yang dulu membuat
ibunya terdiam dan membiarkannya menggantungkan boneka itu di kamarnya.
Kini Ari telah tenggelam
dalam mimpi, sementara ibunya memilih berkutat dengan komputer dan beberapa
lembar kertas surat setelah lelah membangunkan anak itu. Remaja yang terkenal
nakal itu bahkan terlihat berkelahi dalam mimpinya.
Ya, setelah melihat
sebuah sekolah yang sangat asing, sama sekali berbeda dengan sekolah-sekolah
yang selama ini pernah ia kunjungi, Ari dibuat heran mengapa dirinya merasa
seperti pernah melihat sekolah itu sebelumnya. Namun, laki-laki itu tak
tahu di mana atau kapan. Ia hanya
meneruskan langkahnya untuk
menjelajah semakin dalam.
Berjalan semakin dalam,
tak terasa dia sudah berada di belakang sekolah. Lagi-lagi pemuda itu berpikir
bahwa dirinya seperti pernah merasakan ini semua. Dari caranya berdiri, caranya
berpikir hingga apa yang dia lihat. Dia merasa seperti deja vu, tapi tak yakin
itu deja vu.
“Apa yang kalian lakukan
di sini?” katanya yang diikuti pertanyaan heran dari dirinya sendiri.
Kenapa
aku sok ikut campur urusan mereka? Katanya bingung pada diri
sendiri.
Di sana ia menemukan tiga
orang laki-laki—dua orang sedang merundung satu lainnya. Tampang kedua pria itu tampak jelas
saat mereka menghadap ke arah Ari.
Keduanya terlihat bengal
dengan tatapan mata yang sangat tajam. Namun, itu bukan hal yang mengerikan
bagi Ari. Orang-orang yang pernah ia lawan banyak yang memiliki tatapan yang
jauh lebih tajam.
“Memangnya apa urusanmu?”
sahut kedua orang itu pada Ari. Dan setelah itu, tak jelas.
Ari hanya melihat dirinya
memukuli kedua orang itu hingga kabur. Mereka berlari sambil menunjuknya
menunggu pembalasan dari mereka. Ari tak menghiraukan hal itu. Ia tak peduli.
Yang ia pedulikan hanyalah perasaannya sendiri.
Kenapa
aku ada di sini? Kenapa aku merasa seperti ini? Apakah ini deja vu? Tidak, ini
bukan deja vu. Ari melirik tangannya yang bergetar kian
hebat. Noda darah di sana tak menjadi perhatian, ia hanya bingung dengan
perasaannya sendiri.
“Terima kasih! Namamu siapa?” tiba-tiba sebuah pertanyaan melayang
kepadanya.
Itu dari laki-laki yang
baru saja ia tolong.
Laki-laki itu mengulurkan tangan sambil tersenyum penuh harap. Ari hanya
menatapnya kosong tak percaya.
Kenapa
aku merasa pernah melihat anak ini? Perasaan aneh apa ini?
“Hei, kenapa melamun?
Namaku Bara.”
Namaku
Bara. Namaku Bara. Namaku Bara. ....
***
Ari tersentak. Ia terjaga
dari tidurnya. Mimpi itu seakan menjadi mimpi buruk baginya. Mimpi yang
benar-benar aneh. Ia merasa semua itu benar-benar nyata. Tangannya diletakkan
di dada, mencoba merasakan detak jantungnya sendiri.
Ini
gila, kenapa aku jadi begini? Itu hanya mimpi. Tak perlu berlebihan. Tapi, itu
mimpi tentang apa?
Ari dengan gugup menanyai
dirinya sendiri. Jantung masih berdetak kencang meski tak sekencang pertama
bangun. Ia menggelengkan kepala. Menanyai diri sendiri soal mimpi yang baru
saja ia alami. Mimpi itu dengan cepat terlupakan oleh alam sadarnya.
Padahal
mimpi itu terasa sangat nyata, tapi kenapa aku tak bisa mengingatnya?
Gumamnya dalam hati.
Ari melirik jam digital
di samping tempat tidur. Sudah pukul sepuluh malam. Ia sudah tertidur cukup
lama. Kakinya lantas melangkah keluar dari kamar yang dibiarkan dengan
penerangan temaram dari lampu malam yang bisa menyala otomatis.
Di ruang tengah, ia
menemukan jendela yang terbuka, membiarkan angin malam masuk dan meniup gorden
coklat mereka berkibar-kibar. Untung saja jendela itu dipasangi besi-besi.
Kalau tidak, rumah mereka mungkin sudah kecolongan pencuri sejak tadi.
Langkah pria itu pun
berlanjut ke arah toilet yang berdekatan dengan dapur. Menuju ke sana, ia harus
melewati dua kamar lagi. Kamar ibunya dan satu kamar tamu. Di depannya ada
ruang kerja sang ibu.
Pintu di ruang kerja itu
dibiarkan terbuka. Ia menengok ke dalam dengan perlahan. Hanya ingin mengecek
keberadaan ibunya. Dan yang ia temukan, seorang perempuan berumur 39 tahun yang
tampak terlelap di atas meja kerja.
Hati pemuda itu sempat
sakit melihat ibunya sampai terlelap seperti itu. Ia sebenarnya tidak membenci
sang ibu, hanya tak kuat mendapat perlakuan wanita itu yang seolah tak
menghiraukannya. Memilih lebih sibuk dengan pekerjaan dan mengabaikan
tugas-tugasnya sebagai ibu di rumah.
Untuk sejenak, mungkin
hanya sejenak, Ari merasa bahwa dirinya perlu berbaikan dengan Ida. Merendahkan
egonya sendiri dan mulai memahami keadaan mereka berdua. Ia pun lantas memasuki
kamar perempuan itu untuk mencari selimut.
Tangannya dengan
hati-hati memakaikan selimut itu kepada ibunya, takut dia terjaga. Ia bersyukur, wajah Ida
menampilkan senyuman. Mungkin wanita
itu
merasa nyaman telah dipakaikan selimut.
Ari pun kemudian sedikit
mengamati meja kerja ibunya. Beberapa lembar catatan menghiasi permukaan meja.
Sebuah buku catatan bersampul kulit serta pena yang terlihat antik tampak ikut
memeriahkan pandangannya.
Sempat ia membaca sedikit
tulisan di dalam sana. Tulisan yang berkata bahwa mimpi adalah dunia khayal
yang dibangun dengan bekal pengetahuan alam bawah sadar. Bahwa sejatinya,
orang-orang yang terlihat dalam mimpi adalah orang-orang yang sebenarnya pernah
dilihat oleh si pemimpi.
Kadang, mungkin si
pemimpi merasa bahwa mereka tak mengenali orang-orang itu. Namun, yang tak
mengenali orang-orang itu adalah alam sadarnya. Ia mungkin tak tahu nama
orang-orang itu. Namun, alam bawah sadarnya telah merekam wajah-wajah itu dan
kemudian menggunakannya saat hendak membangun mimpi.
Ari tersenyum sinis
membaca tulisan itu. Antara lucu, membenarkan dan meremehkan. Lucu bahwa
ternyata ibunya sedang ‘bermain-main’ dengan hal yang disebut mimpi.
Membenarkan bahwa, orang yang dia impikan tadi, entah siapa, mungkin memang pernah ia lihat di suatu tempat.
Dalam beberapa saat,
laki-laki itu sempat berpikir sendiri. Ia bahkan tak bisa mengingat kejadian
dalam mimpinya. Namun, masih terbawa suasana yang dialami tadi. Bahwa ia
penasaran dengan sosok yang ada dalam mimpinya.
Belum sempat mengakhiri
pergulatan pikirannya, sebuah
notifikasi membuat layar komputer ibunya menyala. Sebuah pesan dari teman kerja
perempuan itu terpampang dengan jelas di atas layar.
“Apa
keputusanmu sudah bulat? Kamu yakin ingin keluar?”
Pertanyaan itu
menimbulkan tanya sendiri dalam benak Ari. Keluar dari mana yang dimaksud oleh
teman ibunya tersebut? Lantas ia membaca pesan-pesan sebelumnya. Dan mendapati
bahwa Ida berniat mengundurkan diri dari pekerjaannya.
Ari bahkan baru menyadari
bahwa layar komputer perempuan itu sedang membuka fail berisi surat pengunduran diri. Bahkan
di atas meja di hadapannya, terdapat sebuah amplop putih yang sudah tersegel
rapat-rapat. Di luarnya tertulis judul surat: Surat Pengunduran Diri.
Ari menggeleng kecil, tak
percaya pada apa yang dilihatnya. Ibu yang selama ini dianggapnya gila kerja,
sedang menyiapkan surat pengunduran diri.
Apa
karena aku? Kalau bukan, lantas kenapa? Ia kembali bergumam dalam hati.
Matanya menatap kosong pada layar komputer dengan tatapan yang melanglang entah
kemana.
Apa
ibu mencoba berkorban demi aku? Bila memang iya, aku tak boleh begini. Kami
akan sama-sama bahagia seperti sebelumnya. Aku akan membuatnya bahagia meski
dengan keadaan yang sama seperti sebelumnya.
Itulah
yang Ari putuskan. Dia akan menunggu sampai esok tiba untuk bisa
membicarakan hal ini dengan sang ibu. Agar ia bisa memperbaiki segalanya.


0 Comments