Ketiga pemuda itu tiba di sekitar halaman perusahaan bekas Ida bekerja. Reza dengan sepeda motornya, sementara Ari dan Bara hanya dengan kaki telanjang mereka yang bisa berlari secepat kilat tanpa perlu merasa lelah.
Sebenarnya, kalau mereka tahu arahnya, lebih baik hanya dua orang itu saja yang pergi ke mana-mana. Lebih cepat dan hemat tenaga. Namun, karena mereka sejak tadi selalu berada di dalam gedung tanpa tahu alamatnya, terpaksa mereka harus mengandalkan Reza untuk mencari alamat tersebut. Toh, bila kesulitan, Reza bisa bertanya ke orang sekitar. Tidak seperti mereka yang tak terlihat.
Maka dengan mengandalkan itu, Ari dan Bara pun memutuskan untuk mengamati suasana di dalam kantor. Kantor yang terlihat agak jauh dari lingkungan warga, serta menyimpan sebuah pos satpam di depan pintu masuknya yang berbentuk lorong remang.
Lantas tak perlu waktu lama, Ari dan Bara segera kembali untuk melaporkan. Bahwa Bagus, pria berjas hitam yang mereka cari sedang berada di dalam sana. Dari yang mereka dengar, laki-laki itu hendak keluar dalam beberapa menit lagi.
Mendengar penjelasan itu, Reza sempat menanyai keduanya apakah ada tanda-tanda adiknya di dalam kantor itu atau tidak. Berbekal foto Geri yang ditunjukkan pria itu sebelumnya, Ari dan Bara pun hanya bisa menjawab dengan gelengan. Bahwa di dalam sana semua terlihat tenang-tenang saja. Bahkan Prima dan yang lainnya bekerja seperti biasa dengan seorang peneliti lain yang terlihat menggantikan posisi Ida.
Hingga dari kejauhan di belakang mereka, Ari melihat sebuah mobil melaju dengan cukup kencang. Sebuah mobil yang lambat laun ia kenali sebagai mobil ayahnya, Bowo. Maka Reza pun mencoba menepikan sepeda motornya lebih dalam agar tidak terlalu menarik perhatian laki-laki itu.
Dan setelah Bowo melewati mereka, Ari dan Bara bergegas mengikuti pria itu yang rupanya sedang mencoba mencari Ida ke dalam sana. Sayang, niatnya itu dihalangi oleh pihak keamanan kantor yang rupanya punya sistem keamanan yang cukup ketat.
“Tapi saya ingin mencari istri saya, dia pernah bekerja di sini. Saya pernah ke sini beberapa bulan lalu.” Bowo menjelaskan maksud kedatangannya ke tempat itu dengan tergesa-gesa. Ia tampak khawatir, membuat sang anak yang mengamatinya juga ikut khawatir.
Apa yang membuat ayah melakukan ini? Pikir Ari dalam hati.
Apa tadi ayah bilang, ingin mencari ibu? Ibu, di mana? Apa ibu juga menghilang? Laki-laki itu menggerutu sekali lagi di dalam hatinya.
Tatapan matanya yang tajam dan raut wajahnya yang tegang terbaca dengan jelas oleh Bara. Namun, itu tak membuat mereka bersuara. Keduanya masih fokus melihat Bowo yang kini tengah diusir oleh dua anggota keamanan.
“Kami tidak peduli apakah istri Bapak atau Bapak pernah kemari. Kalau Bapak bisa menunjukkan tanda pengenal Bapak, kami akan membolehkan lewat. Kalau istri Bapak ada di dalam, suruh beliau keluar!”
“Oh, ayolah! Saya hanya ingin bertemu istri saya. Dia pasti datang ke sini untuk bertemu temannya,” sahut Bowo lagi tak bisa terima dengan peraturan yang dijelaskan oleh satpam tersebut.
“Maaf, Pak, kami tidak bisa membiarkan Anda masuk.” Kali ini, para satpam mencoba untuk meminta maaf untuk menenangkan pria berusia hampir tiga puluh tahun itu. Hingga pria itu terpaksa mengepalkan tangan dan menggigit bibirnya dengan kecewa. Hingga sesuatu muncul di pikirannya.
“Tunggu, apa Prima bekerja di dalam sana? Tolong panggilkan dia, saya tidak punya kontaknya. Tolong saya, karena saya harus menemukan istri saya. Dia mungkin tahu keberadaan istri saya, saya mohon!”
Kali ini laki-laki itu memilih memohon agar bisa meluluhkan hati para penjaga itu. Dan ternyata usahanya itu berhasil. Terbukti dari wajah para penjaga yang melembut, yang kemudian mengangguk mengiyakan permintaannya.
Sayangnya, baru saja salah satu dari penjaga itu berbalik hendak masuk, sebuah suara terdengar menahannya. Dan itu membuat si penjaga terdiam, tak bisa menyanggah. Karena itu adalah perintah dari Bagus, atasan yang paling mereka takuti.
“Tunggu, siapa orang ini?” tanya laki-laki yang baru saja keluar itu.
“Dia—”
“Saya Bowo, Pak. Saya ke sini untuk mencari istri saya, Ida. Saya tidak tahu lagi harus mencari ke mana. Jadi saya pikir, mungkin Ida ke sini, atau mungkin Prima tahu di mana dia sekarang berada.”
Bowo memotong kata-kata si penjaga untuk menjelaskan tentang dirinya. Laki-laki itu mencoba bersikap sopan agar sang bos yang ada di hadapannya mau bersimpati dan membantunya memperlancar tujuan. Namun, Bagus punya pemikirannya sendiri.
Laki-laki berusia hampir 40 tahun, yang berbeda 10 tahun di atas Bowo itu memicingkan mata. Di sampingnya terdapat empat orang pengawal yang tampak menakutkan. Dan dalam sekali perintah, ia membuat keempat orang itu bergerak meringkus Bowo, laki-laki di hadapannya.
Membuat laki-laki itu pingsan tanpa melakukan perlawanan berarti dan kemudian memasukkannya ke dalam bagasi mobil. Memberi perintah pada para penjaga kantornya untuk merahasiakan kejadian itu dari karyawan lain, terutama Prima. Ya, karena Bagus tahu kedekatan Ida dengannya.
Lalu laki-laki itu pun masuk ke dalam sebuah mobil hitam yang sejak tadi terparkir di halaman kantor. Membuat orang-orang yang sejak tadi mengamatinya dengan kekagetan—Ari, Bara dan Reza—akhirnya harus menyadarkan diri.
Lantas Ari dan Bara pun memutuskan untuk mengikuti mobil itu dan berpesan agar Reza menunggu di sini. Menunggu hingga Prima keluar dan mengajak pria itu ke rumah Reza. Karena Ari dan Bara akan ke sana setelah mengikuti mobil Bagus.
“Bawa dia masuk!” titah Bagus saat mereka sampai di sebuah gedung terpencil di tengah hutan. Gedung yang di dindingnya terdapat lambang palang merah—lambang yang sama dengan yang ada di email dan kartu nama yang ditemukan Reza.
Mendengar perintah bos mereka, para pengawal itu pun tampak bergegas mengeluarkan Bowo yang dibawa dengan mobil lainnya. Laki-laki itu tampak masih tak sadarkan diri setelah tadi tengkuknya dipukul keras oleh salah satu pengawal tersebut.
Ari dan Bara kemudian mengikuti orang-orang itu ke dalam sana. Dimulai dari pintu masuk serupa dengan kantor yang tadi, berupa lorong dengan satu tempat keluar. Menuju lorong itu, seseorang harus melewati palang yang dijaga oleh dua orang satpam.
Palang itu kemudian dibuka untuk membiarkan Bagus dan para pengawalnya masuk. Hingga di dalam sana, sekitar sepuluh meter, terdapat sebuah pintu ke arah samping. Pintu yang membagi lorong itu jadi dua sama panjang.
Memasuki pintu itu, Bagus langsung disambut oleh asistennya, Susi. Seorang perempuan yang terlihat duduk di sebuah meja, berhadapan dengan komputer sederhana. Sementara di belakangnya, terlihat beberapa orang dengan jas lab putih yang sedang duduk berhadapan dengan komputer seperti dia. Hanya satu orang yang tampak sedang berdiri, sedang memantau pekerjaan yang lain. Dia yang kemudian menghampiri Bagus bersamaan dengan perempuan tadi.
“Bagaimana progresnya?” tanya Bagus tanpa menghentikan langkah.
“Masih belum sempurna, Pak. Objek yang berhasil tidak ada yang mengaku mendapat penglihatan apa pun. Mereka kebanyakan merasa seperti di dalam sebuah kegelapan. Seperti tidur yang dalam dan sulit untuk bangun. Kecuali ...,” kata-kata Rani—perempuan berjas putih itu—tertahan.
Bagus menghentikan langkahnya sejenak. Berbalik memandang perempuan yang sudah berhenti di belakangnya. Matanya tampak dipicingkan.
“Kecuali apa? Katakan!” Dia meninggikan suara.
“Kecuali objek 39, dia mengaku melihat ibunya di rumah sedang menangis mencarinya. Tapi dia tidak bisa berinteraksi dengan beliau. Lalu beberapa saat setelah sadar, kondisinya memburuk dan meninggal.”
Air muka Bagus berubah masam. Kecewa dan amarah menyatu menjadi sebuah keheningan yang menakutkan. Tegas rahangnya membuat para bawahan bersiap menerima perintah dengan suara tinggi.
“Kembali bekerja! Aku mau, malam ini juga, kalian sudah menemukan caranya. Dan besok, aku sudah harus bisa mendapatkannya.” Laki-laki itu menarik napas dalam menahan amarahnya agar tidak lepas begitu saja. Dia masih membutuhkan para ilmuwan itu untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
Rani yang mendengar itu segera mengangguk pelan dan segera undur diri untuk kembali ke deretan teman satu seragamnya yang tengah berusaha manganalisa data hasil uji coba mereka. Setidaknya mereka punya sebuah hipotesis yang belum bisa dibuktikan dengan bahan uji coba yang ada. Jadi mereka perlu memikirkan hal itu matang-matang dan menyiapkan proposal yang meyakinkan agar atasan mereka tak mengamuk ketika mendengarnya.
Sedangkan sang atasan tampak mengembalikan fokusnya dan menanyai sang asisten tentang Ruslan, kepala keamanan sekaligus salah satu ketua tim dalam penelitian mereka.
“Di mana Ruslan?” tanya laki-laki itu kembali menghadap depan, berniat kembali menelusuri lorong.
“Sedang di kolam, Pak.”
Susi menjawab dengan cepat dan kembali mengikuti langkah sang atasan yang sudah mulai bergerak.
“Kalian, bawa laki-laki itu ke istrinya!” kali ini sebuah komando dikeluarkan pria itu untuk empat pengawalnya. Lantas ia berjalan semakin cepat ke arah depan, begitu pula dengan asistennya.
Mendengar kata ‘istri’ yang diucap oleh Bagus, Ari tampaknya memusatkan fokus. Ia hendak mengikuti dan mencari tahu di mana sang ibu tengah berada. Bara yang dapat melihat ekspresi tersebut kemudian mengusulkan agar mereka berpisah. Ari mengikuti sang ayah, sementara dirinya mengikuti Bagus.
Usulan itu diterima oleh Ari dengan anggukannya. Wajah pria itu tampak cemas dan Bara terlihat empati padanya. Namun, Bara juga harus tahu apa yang terjadi di kolam sana. Maka ia pun segera mengikuti Bagus dengan langkah-langkah super cepatnya.
“Pak!” Ruslan mempercepat langkah menyambut sang atasan yang baru saja membuka pintu. Laki-laki itu terlihat baru saja bersama beberapa orang di pinggir kolam di ruangan itu.
Bara yang mengamati mereka tampak memandang sekeliling. Ruang berdinding beton biasa menyembunyikan sebuah kolam di dalamnya. Lalu di sana terdapat sebuah ranjang dorong yang terlihat sedang mengangkut seseorang yang sudah basah kuyup.
“Bagaimana?” pertanyaan Bagus kembali keluar. Ruslan bersiap untuk menjawab.
“Kami berhasil membangunkannya. Tapi dia masih belum ingat apapun selain gelap dan sakit di tenggorokannya. Kami akan mencoba menanyainya lagi setelah ia cukup bertenaga.”
“Baik, bawa aku ke objek-objek yang berhasil sadar!” Pinta sang Bos lagi kemudian. Ruslan tampak mengangguk patuh dan mengambil alih untuk menuntun jalan.
Laki-laki itu kemudian keluar ruangan diikuti oleh rombongan anggotanya yang mendorong ranjang tadi. Setelah berjalan beberapa meter, mereka kembali memasuki sebuah ruangan. Ruangan yang membuat Bara kaget, melihat deretan orang yang terbaring lemas dilengkapi infus dan perlengkapan medis lainnya. Bahkan ada beberapa orang suster dan dokter juga.
Ini apa? Katanya keheranan di dalam hati. Itu adalah pertanyaan yang memang pantas ia lontarkan. Karena memang sejak tadi, mereka hanya mengikuti orang-orang itu tanpa tahu, sebenarnya apa yang mereka lakukan?


0 Comments