Lantas latar-latar itu tak menunggu lama. Mereka bergulir dengan cepat untuk mengubah bentuknya. Menampilkan seorang pria asing di sebuah kamar yang tampak berantakan.
Pria itu bernama Reza, seorang wartawan. Wajahnya terlihat sangat kusut pada saat itu, akibat tangannya yang beberapa kali mengusap kasar di sana.
Ari dan Bara yang melihatnya tampak memicingkan mata karena penasaran dengan tingkah pria itu. Karena kali ini, mereka tak dapat mendengar rintihan hati si pria yang berjalan mondar-mandir mencari sesuatu.
“Tunjukkan aku jalannya, Tuhan! Tunjukkan adikku! Bantu aku menemukannya kembali, dan selamatkan dia!” Itulah yang pria itu rintihkan dalam hati.
Maka tatkala pria itu hendak keluar dari ruang kamar itu, ia reflek terpental ke belakang. Laki-laki itu terkejut. Matanya membulat, membuat kedua orang di depannya juga ikut terkejut.
“Siapa kalian?” tanya pria itu dengan nada kasar.
Ari dan Bara tampak kebingungan. Sempat mereka melihat ke belakang untuk mencari tahu apakah laki-laki itu sedang melihat orang lain atau apa. Namun, ternyata tidak, tak ada seorang pun di sana.
“Apa Anda bisa melihat kami?” tanya Ari berinisiatif, bila-bila itu memang terjadi.
Laki-laki itu mengangguk. Namun, dengan ekspresi heran dan agak ragu. Ari dan Bara jadi semakin ragu, heran bukan kepalang.
“Bagaimana bisa?” tanya Ari lagi-lagi. Membuat laki-laki itu menjawab polos dengan gelengan cepatnya.
“Aku tidak tahu. Memangnya kalian ini apa?”
Ari dan Bara tampaknya saling memandang satu sama lain. Dengan apa mereka harus menyebut diri pada saat ini. Hantu? Roh? Malaikat? Jin?
“Kami manusia dari masa depan.” Entah dari mana kata-kata itu datang, tapi Bara sudah terlanjur mengatakannya. Dan itu membuat dia dan Ari sama-sama semringah. Menertawai pengakuan itu.
“Apa kita sedang berada di dalam film sci-fi barat sekarang?” tanya Ari membuat keduanya tergelak.
Sementara Reza hanya memandang mereka dengan tatapan bingungnya. Heran, tak percaya. Lalu ia kembali mendapat perhatian kedua pemuda itu. Yang lantas menanyainya kembali.
“Anda siapa? Kenapa kami harus datang kemari?” tanya Ari seolah Reza sudah pasti tahu apa jawabnya.
Maka Bara pun hanya memandangi mereka, menunggu interaksi lanjutan. Sementara Reza kemudian mengerjapkan matanya beberapa kali. Mencoba menguatkan dirinya. Dan bangkit untuk sekadar menyentuh teman bicaranya.
Pada saat itu, Ari dan Bara hanya menyaksikan dengan ragu apa yang ingin dilakukan oleh pria itu. Sementara laki-laki itu melangkah semakin maju dan mereka hanya mundur beberapa senti saja. Membuat dia akhirnya berhasil melakukan apa yang diinginkan, menyentuh keduanya.
Dan, tembus. Itulah yang terjadi. Laki-laki itu tidak dapat menyentuh keduanya meskipun bisa melihat mereka. Sementara para remaja itu baru pernah merasakan hal itu. Membuat mereka seperti diberikan sensasi baru. Disentuh, tapi tak tersentuh.
Reza pun kini kembali menggelengkan kepalanya. Sangat tak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini. Padahal seumur hidup, dia belum pernah melihat sosok hantu dan apapun itu. Tiba-tiba sekarang, dia bertemu dengan manusia dari masa depan.
Laki-laki itu terduduk lemah di atas ranjang. Ia menggelengkan kepala karena masih tak percaya dengan semua ini. Hingga sesuatu tiba-tiba datang dalam pikirannya.
“Apa mereka ini jawaban dari Tuhan? Tentang adikku?”
“Hei, apa kalian berdua bisa melacak orang? Aku butuh kabar tentang adikku. Dia menghilang.”
Laki-laki itu lantas membeberkan isi pikirannya. Membuat Ari dan Bara saling berpandangan. Saling mempertanyakan pertanyaan yang sama. Tentang apa ini semua sebenarnya?
***
Ari dan Bara tampak memikirkan sesuatu. Mereka baru saja mendengar cerita Reza perihal dirinya dan sang adik, Geri.
Dari ceritanya, kedua remaja itu bisa menangkap bahwa Reza ini adalah seorang wartawan lepas. Dia sering melakukan pengusutan kasus sendirian, layaknya detektif. Sementara sang adik adalah sarjana pengangguran, tepatnya sarjana sains dari jurusan kimia.
Reza sendiri mengaku bahwa dirinya akhir-akhir ini sedang mengusut kasus tentang orang hilang. Tentang belasan orang pria dengan rentang usia 20 sampai 40 tahun yang dikabarkan hilang setelah mendapat email gelap.
Menurutnya, kasus tersebut berhubungan dengan hilangnya sang adik. Karena laki-laki itu sebelumnya pernah menemukan email serupa dalam kotak email sang adik yang mereka pakai bersama.
“Aku melarangnya membalas email itu,” jelas Reza kepada Ari dan Bara.
“Dan dia tidak melakukannya,” kata laki-laki itu lagi menambahkan.
Dua pemuda yang mendengarkannya kini hanya memicingkan mata untuk terus menyimak. Lantas Reza kemudian menceritakan kejadian beberapa saat lalu, saat dia baru saja kembali ke rumah dari perburuan berita.  Laki-laki itu menemukan sebuah mobil hitam sedang dinyalakan di depan rumahnya.
Awalnya laki-laki itu mengira bahwa itu hanya mobil yang kebetulan parkir di depan rumahnya. Hingga ia masuk ke dalam rumah dan menemukan pintu terbuka hingga kamar yang sangat berantakan. Dan yang paling penting, Geri yang biasanya sangat jarang keluar rumah, bahkan kamar, kini telah menghilang dari rumah itu.
Reza kemudian mengaku telah mencari di seluruh ruangan di rumahnya, tapi tak ada tanda-tanda dari seorang Geri. Hingga ia kembali ke kamar itu dan menemukan selembar kartu nama yang berisi logo perusahaan yang sama dengan yang ada di email. Membuat dirinya kacau, hingga dia bertemu dua pemuda yang mengaku datang dari masa depan itu.
Maka kemudian Reza menanyai keduanya bila mereka bisa melacak seseorang atau melihat masa lalu. Dan kedua orang itu pun mengaku bahwa mereka mungkin bisa melakukannya. Hingga keduanya terkejut, bahwa mereka tidak lagi bisa melakukannya semudah beberapa saat lalu.
“Sebelumnya kami hanya perlu memikirkannya saja. Tapi sekarang kami tidak bisa.” Bara menjelaskan keadaannya dengan panik kepada Reza. Membuat laki-laki itu melemas seakan hilang harapan mendengarnya.
Sementara Ari memilih diam dan memikirkan alasan di balik terjadinya hal ini. Namun, karena belum mampu mendapatkan jawaban, laki-laki itu pun menceritakan isi pikirannya kepada yang lain agar mereka bisa membantu mencari jawaban yang dibutuhkan.
“Tunggu, apa kalian bisa membantuku memikirkan ini?” sahut Ari menarik perhatian dua orang di depannya.
“Jadi, sebelum dibawa ke sini, kami punya pertanyaan: bahaya apa yang diakibatkan oleh penelitian mengenai mesin waktu. Dan terakhir, kami menemukan seorang pria mengatakan bahwa dia akan meneruskan penelitian tersebut. Kami tidak tahu maksudnya dan kami dibawa ke sini untuk mencari jawabannya. Jika kasus ini terjadi, apa menurut kalian, ini adalah jawaban?”
“Maksudmu?” tanya Reza dengan cepat.
Lantas Ari pun kembali menjelaskannya dengan lebih lambat. Dimulai dari keterangan bahwa mereka di sini dipandu oleh sebuah suara yang mengantar mereka menjelajahi waktu. Lalu tentang orang tua mereka yang pernah membahas mesin waktu.
Bahwa dalam pembahasan itu, orang tua mereka menyinggung soal mati suri dan lainnya. Membuat seorang pria tiba-tiba masuk dengan semangatnya setelah menguping hasil analisa tersebut. Hingga pria itu mengatakan bahwa dia akan melanjutkan penelitian itu.
Dan setelah itu, Ari dan Bara kemudin dibawa lagi ke kamar Reza. Yang membuat Ari berpikir bahwa kasus yang dialami Reza ini tentunya berhubungan dengan bahaya yang dimaksud. Lantas penjelasan itu pun terasa cukup bisa dimengerti oleh Reza.
Wartawan dengan tubuh cukup bugar itu pun menoleh ke arah Bara yang terlihat masih fokus berpikir. Maka dia pun melontarkan tanya pada remaja muda itu.
“Apa yang kamu pikirkan, Bar?” tanya laki-laki itu. Ya, Ari dan Bara sudah memperkenalkan diri padanya.
“Aku berpikir, bila ini benar adalah jawabannya, maka yang perlu kita lakukan adalah mencari pria itu. Dia yang berkata akan meneruskan penelitian ini.”
Maka untuk mencari informasi mengenai pria itu, mereka pun mau tidak mau harus menggali dari sumber informasi yang paling mereka kenali. Sumber informasi tersebut tidak lain adalah orang tua mereka sendiri, Prima dan Ida.
Lantas Reza pun memulai perburuannya dengan menuju ke rumah orang tua Ida berdasarkan penjelasan Ari yang untungnya masih mengingat alamat kakek dan neneknya yang pernah ia kunjungi sebelum mereka meninggal.
Laki-laki itu tampak berpakaian rapi mengetuk pintu rumah Ida. Hingga muncul Endang dari balik pintu sambil menanyai keperluannya. Tak perlu waktu lama, Reza membeberkan identitasnya sebagai wartawan lepas dan mengarang sedikit cerita agar perempuan itu mau menerimanya baik-baik di rumah itu.
Katanya, “Saya harap, saya bisa mengulik informasi mengenai Ida untuk saya kirim ke media langganan saya. Jadi saya butuh informasi lebih mengenai beliau.”
Maka Endang pun dengan senang hati mengundang laki-laki itu masuk ke rumahnya. Dia kemudian menyuguhkan minuman sembari Reza menunggu di ruang tamu. Sementara Ari dan Bara sudah meluncur ke kamar sang ibu untuk mencari informasi yang berguna.
Dan mereka menemukannya. Sayangnya, alamat kantor yang mereka temukan tampaknya cukup panjang, sehingga agak sulit untuk dihafal. Itulah kenapa mereka kemudian merasa bahwa memiliki tubuh kasar adalah sebuah nikmat sehingga mereka bisa menulis.
Lantas kedua orang itu pun hanya bisa keluar untuk mengabari Reza lebih dulu mengenai berkas-berkas itu, agar laki-laki itu bisa memintanya pada Endang. Dan saat Endang datang, laki-laki itu pun tak membuang banyak waktu.
“Jadi, apa Mbak Ida ada di rumah?” tanya pria itu berbasa-basi.
Endang pun menjawab ramah dengan sebuah gelengan pelan namun, tegas.
“Kakak saya sudah menikah, Mas,” katanya pelan begitu ramah.
Penjelasan itu pun membuat Ari dan Bara paham bahwa kejadian ini terjadi setelah Ida keluar dari perusahaan penelitiannya. Hingga Endang pun menawarkan untuk memberikan alamat baru Ida. Membuat Reza mengangguk senang sebagai tanda setuju.
“Iya, Mbak, sepertinya saya cukup membutuhkannya,” kata Reza sopan pada perempuan yang beberapa tahun lebih muda darinya itu. Ya, karena Reza sejatinya dua tahun lebih tua dari Ida yang berusia 23 tahun.
“Sekalian, kalau boleh, saya juga ingin tahu alamat tempat kerjanya yang sebelumnya. Untuk tambahan informasi tempat kerjanya saja,” terang pria itu menambahkan.
Maka Endang pun dengan hati-hati menyebutkan alamat rumah baru Ida yang ternyata sama dengan alamat Ari sebelum pindah. Lalu perempuan itu masuk dan membawakan berkas-berkas yang berkaitan dengan tempat kerja sang kakak.
Reza kemudian dengan cepat menyalin alamat dan beberapa detail lainnya ke dalam buku catatan kecilnya yang bersampul kulit. Laki-laki itu juga sempat melihat foto pemilik perusahaan.
Ari dan Bara yang juga melihatnya, lantas dengan cepat memberitahukan Reza bahwa itu adalah orang yang harus mereka cari. Maka laki-laki itu pun mengingat wajah pria yang ada di dalam sana. Karena pria itu adalah kunci untuk membuktikan prasangka mereka.
Kemudian Reza dan kedua pemuda itu pun langsung melanjutkan ke alamat Ida pernah bekerja. Karena mereka mencari Ida memang hanya untuk mendapatkan itu.
Sementara Endang yang mereka tinggalkan di rumahnya, baru saja mendapat telepon dari seorang Bowo. Menanyakan apakah istrinya berada di rumah itu atau tidak. Karena Ida sudah beberapa hari ini tidak ada di rumahnya.