Latar di sekitar Ari dan Bara kembali berubah, menampilkan sebuah lorong yang cukup asing di mata mereka. Sebuah lorong dengan pencahayaan remang yang menunjukkan Ida dan Prima yang sedang berjalan tergesa-gesa dari arah berlawanan.
Baru saja Ari dan Bara memikirkan bahwa cara berjalan keduanya yang terlalu buru-buru itu bisa membuat mereka bertabrakan, hal itu langsung menjadi nyata. Kedua orang itu tampak saling menubruk karena terlalu fokus dengan masalah mereka masing-masing.
Ida dengan penampilan dan kertas-kertas menumpuk yang dibawanya. Prima dengan ponsel dan nomor Khairil yang sedang dihubunginya untuk membawakan berkas yang lupa ia bawa dari rumahnya.
Bruk. Kedua orang itu menabrak satu sama lain hingga berkas di tangan Ida terjatuh begitu saja. Membuat Ari dan Bara saling berbagi pandangan sambil bersemu geli. Ya, ini adegan yang sangat klise bagi mereka. Namun, tetap saja selalu membuat yang menonton jadi tersipu.
“Maaf, maaf! Apa kamu baik-baik saja?” tanya Prima menyadari kesalahannya karena berjalan tanpa fokus ke depan.
Laki-laki itu segera membantu si perempuan merapikan berkas-berkasnya kembali. Sementara si perempuan masih terlihat fokus mengumpulkan berkas-berkasnya tanpa menjawab apa-apa. Hingga mereka selesai mengumpulkan lembaran kertas itu. Mata Ida dan Prima bertemu, membuat keduanya tampak terdiam beberapa saat.
“A ... Maaf, kamu Ida, kan?” tanya Prima mengakhiri sesi ‘saling diam’ mereka.
Tampak wanita yang disebut namanya itu awalnya hanya mengulas senyum sipu saja. Lalu kemudian Prima menyodorkan tangannya.
“Apa kamu masih mengingatku? Aku Prima, teman SMP-mu dulu. Ya, walaupun hanya satu tahun,” ucap laki-laki itu sembari pamer gigi dengan tangan yang masih mengulur kepada Ida.
Wanita itu menyambut tangannya dan mengatakan bahwa dirinya masih mengingat laki-laki itu. Lantas, ia menjadi lebih berani untuk menampilkan senyuman pada sang Prima. Membuat laki-laki itu semakin semringah bagai menemukan rembulan yang telah lama ia impikan.
Hingga dering telpon Khairil mengagetkannya. Mereka terpaksa berpisah satu sama lain. Lalu setelah Ari dan Bara mengikuti Ida, mereka mengetahui bahwa Ida ternyata baru saja melamar untuk bekerja di kantor tersebut. Sebuah badan penelitian yang tampaknya masih milik swasta.
Ari dan Bara kemudian kembali berharap bisa melihat sejauh mana keakraban yang tercipta di antara kedua orang tua mereka. Maka latar kembali bergulir menampilkan seorang perempuan yang sedang mencoret-coret kertas, Ida. Dan seorang laki-laki tengah mengetuk sendok di panci perebus mi instan milik mereka.
“Kamu masih suka mi yang setengah matang?” tanya Prima melirik ke arah Ida.
Perempuan itu terlihat berbalik dari duduknya yang sebelumnya membelakangi Prima.
“Kenapa tidak cup mie saja? Lebih praktis, tinggal seduh,” katanya, menjawab dengan pertanyaan lagi.
Prima tersenyum lirih dan menggeleng kecil melihat kebiasaan perempuan itu yang belum berubah. Menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.
“Dengan begini, aku bisa lebih leluasa memasak bahan makanan yang lainnya. Seperti sawi, telur, bahkan wortel. Bisa tambah sosis dan lain-lain juga. Menjaga kesehatan juga penting meski sesibuk apa pun.”
Rupanya, Ida memang tidak bisa memasak sejak dulu. Untung saja Prima mau memasakkan makanan untuknya. Karena dulu belum ada pesan-antar makanan seperti sekarang ini.
Maka latar itu pun kembali berubah dan menampakkan dua latar dalam satu waktu seperti dua bilik di atas sebuah panggung. Seperti menonton televisi yang membagi layar menjadi dua. Menampilkan dua sosok, Ida dan Prima yang sama-sama sedang memegang selembar foto berisi mereka berdua. Yang menampakkan keduanya sama-sama tersipu sembari mengusap lembut permukaan foto tersebut.
Hingga lamunan mereka membuat keduanya tiba-tiba membelalakkan mata. Lantas setelah mendapatkan bayangan itu, keduanya sama-sama meraih ponsel masing-masing dan menekan nomor lawannya. Beruntung, Ida sempat menunda keputusannya sebelum sempat menelepon Prima sehingga panggilan mereka tidak bertabrakan. Maka beberapa saat kemudian, dering telepon Ida lebih dulu berbunyi.
Teet ....
Ida mengangkat telepon itu. Suara Prima langsung terdengar dari seberang sana.
“Halo? Assalaamu'alaikum!” sahut laki-laki itu membuka percakapan.
“Wa’alaikum salam! Ada apa, Prim?” tanya Ida menanggapi.
“Kamu belum tidur?” Prima berbasa-basi.
“Belum. Aku baru saja ingin meneleponmu. Ingin membahas sesuatu.”
“Oh ya? Aku juga meneleponmu karena ingin membahas sesuatu. Kamu ingin membahas apa?” sekali lagi pria itu tak langsung masuk ke tujuannya menelepon si perempuan.
Sementara Ida kemudian menerangkan apa yang ingin disampaikannya agar tak membuang banyak waktu.
“Aku baru saja melihat foto kita dan menyadari sesuatu.”
Anak-anak mereka yang mendengar, mengira bahwa Ida hendak mengatakan perasaannya pada Prima. Kali ini mereka tak bisa mendengar isi hati kedua orang itu. Namun, ternyata dugaan mereka salah. Bukan itu hal yang ingin disampaikan oleh perempuan itu.
“Kamu lihat, benda seperti kamera bisa mengubah lingkungan di sekitarnya menjadi sebuah gambar. Itu berarti, gerak-gerik alam ini bisa saja direkam dan disimpan dalam sebuah memori. Dan tidak menutup kemungkinan, semua yang ada di dunia ini saling menyimpan memori terkait yang mereka saksikan. Ini membuat teori yang dikemukakan Ernetti menjadi mungkin. Kehidupan masa lalu direkam oleh bumi dan tugas kita adalah mencari cara untuk menerjemahkan data itu.”
Ida menjelaskan dengan panjang lebar. Prima yang mendengarnya hanya menyimpan takjub bahwa mereka berdua sedang memikirkan hal yang sama. Lantas pria itu bergumam dalam hati, bahwa mungkin, inilah yang disebut berjodoh.
Panggilan dari sang wanita pun menyadarkan Prima dari lamunan. Membuatnya terpaksa menjawab dan membeberkan ketakjuban yang baru saja ia pikirkan.
“Kenapa diam? Apa kamu mendengarkan?” tanya Ida penasaran.
“Iya, iya. Aku mendengarkan. Aku hanya sedang takjub saja, karena ternyata, kita memiliki pikiran yang sama. Aku juga baru saja melihat foto kita!” seru pria itu dengan bahagia.
Maka kali ini giliran Ida yang tersipu sendirian. Ia merasa sangat bahagia mendengar Prima baru saja melihat foto mereka berdua. Menunjukkan bahwa dia bukan satu-satunya yang senang dengan foto itu.
Maka Ari dan Bara pun semakin paham bahwa ibu dan ayah mereka punya perasaan khusus untuk satu sama lain. Hingga latar-latar itu berubah dan menunjukkan Prima dan Ida yang saling berhadapan sambil bersedih di ruang penelitian mereka.
Dua orang itu saling diam dengan menunduk. Membuat dua anaknya merasa simpati. Lantas sang pria mulai angkat bicara. Meski nadanya terdengar lirih, dan terasa sangat menyedihkan.
“Apa itu benar? Kamu tidak bisa menolaknya?” Prima menanyakan perihal kabar yang didengarnya soal perjodohan Ida. Perempuan itu terlihat masih terus menunduk dan menjawab hanya dengan gelengan lemahnya.
Lantas Prima kembali beralih diam. Hatinya berkecamuk ngilu, tak jauh beda dari perempuan di depannya. Ya, perempuan itu juga merasa sakit dan hampir tak bisa menahan air matanya lagi.
Maka saat sebuah ketukan terdengar dari pintu kerja mereka, Prima mengangkat kepalanya dan berusaha tegar.
“Mungkin kita memang tidak berjodoh untuk hidup bersama. Semoga Tuhan membawakan kebahagiaan dan jodoh yang baik untuk kita.”
Ida tak lagi menjawab pria itu. Ia hanya menarik napasnya menguatkan diri dan membawa kotak berisi barang-barang pentingnya dan keluar untuk menyambut Bowo yang telah menunggunya di depan pintu.
Lantas dua orang itu berpisah dan setelah itu, Nurma tampak masuk ke dalam ruangan itu dengan tatapan simpati. Wanita itu kemudian berusaha menghibur Prima hingga di masa depan, ia menjadi ibunya Bara.
“Itu ibumu?” tanya Ari setelah mendengar gumaman Bara yang terkejut melihat ibunya ternyata pernah bekerja di tempat yang sama dengan sang ayah. Laki-laki itu kemudian menjawab Ari dengan anggukannya dan memastikan bahwa itu adalah ibunya.
Kedua orang itu kemudian sempat kehabisan ide ingin menelisuri apa lagi dari masa lalu mereka. Karena kini mereka paham. Bahwa kata-kata Ida soal dirinya yang berharap tak pernah melahirkan Ari adalah karena Ari sendiri. Karena wanita itu tak tega melihat anak itu menderita. Pikirnya, tiada lebih baik daripada harus menanggung beban dari perpisahan orang tua.
Sementara Bara mulai mengerti, bahwa ayahnya hendak mencari ibu baru untuknya bukan karena dia tak mencintai sang istri. Namun, ,semua itu dilakukan demi Bara sendiri, agar anak itu bisa merasakan hangatnya kasih sayang seorang ibu.
Hingga keduanya teringat bahwa mereka masih harus menjawab satu pertanyaan lainnya. Sesuatu yang ingin mereka mengerti dari masa depan. Namun, sebelum itu, ada satu hal lagi yang membuat keduanya penasaran.
Maka kedua pemuda itu saling berhadapan untuk berbagi tatapan. Tatapan yang berisi isyarat, seolah bertanya jika mereka masing-masing punya pemikiran yang sama. Hingga Bara mengeluarkan suara untuk memastikan.
“Apa kita punya pemikiran yang sama? Aku penasaran pada hasil penelitian dan bahaya yang ibumu katakan soal mesin waktu itu,” ucap Bara menjelaskan isi kepalanya.
Sementara Ari membalasnya dengan anggukan cepat. Sebuah jawaban bahwa dia juga berpikir demikian.
“Dan ada satu hal lagi yang harus kita telusuri di sini, masa depan. Apa kamu tidak penasaran, kita akan menjadi seperti apa dengan kemampuan ini ke depannya?” tanya Ari kemudian mengingat tawaran yang diberikan oleh suara tadi.
Maka kali ini giliran Bara yang menjawab dengan anggukan cepatnya. Bahwa dia setuju dengan hal itu.
“Ya, aku juga penasaran dengan hal itu.”
Maka tak tunggu waktu lama, latar-latar itu berubah untuk mereka. Membentuk ruang penelitian kedua orang tua mereka. Menampilkan Ida dan Prima yang sedang membahas kelanjutan dari pembahasan mereka semalam.
Sepasang laki-laki dan perempuan yang memiliki perasaan khusus satu sama lain, yang tengah membahas soal mesin waktu bersama. Mengecek catatan-catatan memo yang telah mereka buat dan tempel di dinding ruangan.
“PR untuk TARDIS dan Lubang Hitam adalah materi penyusun mereka. Bila kita bisa meneliti gua tempat Ashabul Kahfi tertidur, mungkin kita bisa mengetahuinya.”
“PR untuk relativitas adalah energi yang dibutuhkan untuk bergerak dengan cepat. Karena menembus waktu berarti menembus ruang juga. Dan untuk itu, kita butuh tenaga. Untuk menejelajah dengan sedikit tenaga, kita harus menjadi ringan. Mungkin jika kita mati dan menjadi roh, kita akan bisa melakukannya.”
“Dan soal mati ini, aku punya sesuatu yang menarik. Ada banyak cerita soal kejadian orang mati suri. Ada yang dikatakan jadi lebih taat karena mengalami kejadian religius. Ada yang jadi aneh, beda dari dirinya yang sebelumnya. Ada yang semakin bijak juga. Bahkan, ada yang mengaku bisa melihat masa depan. Bahkan lagi, mengaku bahwa dia bukanlah si orang yang mati tersebut. Sehingga banyak juga yang meyakini bahwa jiwa orang mati ini, kemungkinan tertukar dengan jiwanya di masa depan. Ya, semacam reinkarnasi dan sebagainya.”
Prima menggeleng mencoba menolak pendapat itu masuk ke otaknya. Baginya mustahil reinkarnasi itu benar ada.
“Itu hanya pendapat orang-orang yang masih bersifat acak. Hanya rumor yang belum kulihat sendiri buktinya,” ucap pria itu membuat Ida merengut acuh.
“Aku juga tidak begitu peduli. Hanya saja, menurutku, kadaan seseorang ketika mereka mati suri ini cukup unik. Aku tak tahu bagaimana cara membuktikannya, tapi boleh jadi, kondisi saat seseorang mati suri membuatnya mampu melihat masa depan atau bahkan masa lalu. Jadi seperti kata-kata Ernetti, kejadian masa lalu berpendar jadi energi di alam. Tak menutup kemungkinan bahwa masa depan sudah tersedia di alam. Lalu dengan ruh, kita bisa bergerak ke sana kemari dengan cepat tanpa takut kecapaian. Ini cukup masuk akal.”
Prima kali ini mengangguk menyetujui. Kedua anak mereka menyeringai melihat orang tua mereka saat ini. Mengomentari bahwa dua orang itu terlihat seperti mereka.
“Ini seperti kita,” ucap Bara mengeluarkan suara.
“Ya, perbedaannya hanya pada embel-embel reinkarnasi itu saja. Dan mereka tidak mengaitkannya dengan tidur,” ucap Ari menambahkan penilaian mereka. Bara pun mengangguk setuju dengan itu.
“Lalu, bagian mananya dari penelitian ini yang disebut berbahaya?” tanya Bara kembali dengan keningnya yang mengernyit. Membuat Ari juga sepintas langsung ikut berpikir. Memegang dagu dan mengamati sekeliling.
Hingga mereka menemukan seorang pria berdasi memasuki ruang penelitian tersebut sambil menepuk tangannya memuji Ida dan Prima. Membuat mereka mengerti bahwa pria itu baru saja menguping pembahasan kedua orang itu. Membuat jantung laki-laki dan perempuan itu berdebar kencang dengan pernyataannya setelah itu.
“Pemikiran yang bagus, dan aku suka itu! Teruskan kerja bagus kalian! Aku akan mengurusi kelanjutannya.”
Dan pria itu berjalan keluar dengan seringaiannya yang entah kenapa, mengerikan.


0 Comments