Taman itu penuh dengan warna-warni. Didominasi oleh warna cerah, merah muda, biru, kuning, dan hijau muda. Warna-warna yang cocok untuk keceriaan anak-anak. Ya, karena taman itu memang dikhususkan untuk liburan keluarga, khususnya anak-anak.
Ada beberapa permainan dan hiburan yang disediakan di taman itu. Bahkan lengkap dengan komedi putarnya juga. Membuat suasana begitu ramai dan riuh. Sorakan, tawa, kecewa, rengekan dan sesekali tangisan anak-anak.
Salah satu dari anak-anak itu, ada Bara yang sedang bermain di sebuah kemah. Bermain lempar kaleng dengan imbalan sesuai banyaknya kaleng yang berhasil dia tumbangkan. Salah satu hadiah yang paling diincar adalah miniatur pesawat yang tergantung di kemah itu sendiri.
Salah satu anak yang menginginkan miniatur pesawat itu adalah Ari kecil. Laki-laki mungil yang merengek-rengek pada ibunya ingin bermain lempar kaleng yang sama dengan Bara. Lantas sang ibu mengabulkan keinginan sang anak.
Pada saat itu, Prima belum mengenali sosok perempuan itu. Dia hanya berkonsentrasi pada anaknya sendiri. Menghitung berapa kali sang anak telah merobohkan susunan kaleng di depannya hanya dengan sekali lempar saja.
Maka mulailah Ari mencoba permainan itu. Dia melempar untuk pertama kali, dua dari enam kaleng terjatuh. Ke dua kali, meleset. Ke tiga, hanya satu yang terjatuh. Laki-laki itu cemberut, membuat ibunya gemas dan tertawa kecil melihat ekspresinya.
Anak itu pun merengek minta dibantu oleh sang ibu. Menyadari anak di sampingnya yang ribut dan melihat kedekatan anak itu dengan sang ibu, sejenak perhatian Bara jadi teralihkan. Ia terlihat diam memandangi orang-orang itu.
Ida yang mendengar anaknya merengek, kemudian mencoba menuruti keinginannya. Perempuan itu mencoba melempar semampunya untuk dapat merobohkan susunan kaleng di depan sana. Demi sang anak, dia berusaha semaksimal mungkin membidik piramida kaleng itu.
Lemparan pertama, empat kaleng terlihat terjatuh. Lemparan kedua, satu lagi tampak terpental. Namun, pada lemparan ke tiga, ia gagal. Lemparannya meleset. Maka mereka pun hanya mendapat hadiah kecil karena memang pesawat itu hanya bisa didapat dengan merobohkan susunan kaleng dalam satu kali lempar.
Belum mau menyerah, Ari meminta sang ibu untuk membeli satu paket kesempatan lagi. Sang ibu pun mengabulkan. Sayang seribu sayang, hasilnya tak jauh beda dari sebelumnya.
Akhirnya Ari kecil hanya bisa memasang wajah kecewa yang tak terobati. Sang ibu yang melihatnya hanya bisa memberi simpati sambil berusaha menghibur dalam sesekali. Dan saat itu, Prima sudah dapat mengenali Ida, tapi ia urung menyapa karena merasa takut akan menjadi canggung.
Sayangnya, secanggung apapun jadinya, laki-laki itu tetap harus menyapa si perempuan karena sang takdir telah menunjukkan jati dirinya. Melihat Ari yang pergi dengan kekecewaannya, segera saja Bara kecil menyadarkan diri dan melakukan lemparan terakhir dengan sisa bola di tangannya. Ketepatan lemparannya pun cukup menakjubkan hingga mendapat sahutan dari si penjaga, bahkan sebelum Ari datang tadi.
Lantas tak mau membuang banyak waktu, laki-laki mungil itu segera meminta miniatur pesawat dan beberapa hadiah lain yang berhak ia dapatkan. Dan tepat setelah dia mendapatkan hadiah itu, tangannya menarik tangan sang ayah menuju sepasang anak dan ibu tadi. Dan mereka pun berhasil memanggil kedua orang itu ke arah mereka.
Berbalik dan melihat seseorang memegang benda yang diidamkannya, awalnya Ari kecil merasa cukup iri dan sempat curiga bahwa si Bara kecil hendak pamer saja kepadanya. Untungnya, kecurigaan itu tidaklah benar. Justru laki-laki kecil itu terkejut bukan main saat tangan mungil Bara menyerahkan hadiahnya barusan dengan senyum tulusnya.
“Aku mengambil hadiah ini untukmu, ambillah!” ucap Bara sembari terus memberikan senyum ceria.
Ari yang sempat terkejut terlihat perlahan-lahan mengulurkan tangannya untuk menerima pemberian itu. Sempat dalam hatinya, ia tak percaya dengan kejadian itu. Namun, saat hadiah itu sudah berada di tangannya, dia mendadak merasa gembira dan sangat berterima kasih kepada Bara kecil.
Mereka pun kemudian berkenalan dan memperkenalkan orang tua masing-masing.
“Aku datang bersama ibu dan ayahku. Ini ibuku,” ucap Ari menunjuk Ida yang hanya membalas senyum kecil pada Bara dan mengulas senyum canggung pada Prima, “dan ayahku sedang ke suatu tempat sebentar,” katanya melanjutkan.
Bara kecil tampaknya hanya bisa tersenyum kecil di sana. Sama seperti Ari beberapa saat lalu, ia merasa cukup iri dengan anak di hadapannya saat ini. Punya keluarga yang lengkap, ada ayah dan ibunya. Sementara dia, belum pernah merasakan kasih sayang seorang ibu.
Lantas Ari dan Bara remaja yang kini menyaksikan ulang masa itu hanya bisa saling pandang dengan raut sedih. Entah bagaimana, mereka bisa mengerti isi pikiran dalam tokoh-tokoh yang mereka saksikan saat itu.
Hingga detail lain tentang kedua orang tua mereka waktu itu, kini dapat mereka tangkap kembali. Ya, detail bahwa orang tua mereka sempat saling menyapa dengan canggung membahas putra mereka dan kabar masing-masing saat kedua anak itu membahas miniatur pesawat. Lengkap dengan suasana hati keduanya yang dapat mereka rasakan hingga membuat mereka merasa iba.
Hingga Bowo tampak berjalan ke arah mereka dan memecah kebersamaan itu. Sempat bersalaman sedikit dengan Prima, lalu mengajak anak istrinya melanjutkan bermain ke tempat lain. Membuat Ari terpaksa mengucapkan salam perpisahan pada Bara dengan ucapan Terima Kasih yang bertubi-tubi.
Lalu anak itu berlalu bersama ayah ibunya sambil memuji Bara dan memamerkan hadiah yang diberikan oleh teman dadakannya itu. Sementara Bara mungil menatap keluarga—lebih-lebih pasangan anak-ibu—itu dengan tatapan irinya. Ya, dia memang belum pernah merasakan sentuhan kasih sayang seorang ibu. Itulah yang membuatnya iri pada Ari.
Sementara Prima menatapi anaknya itu dengan tatapan iba. Bertanya-tanya di dalam hatinya. Apakah ia perlu mencarikan ibu baru bagi putranya itu atau tidak.
Dan reka ulang masa itu membuat Ari dan Bara remaja kembali bertatapan untuk ke sekian kalinya. Dengan Bara menunjukkan raut lemah, seolah mengatakan bahwa itulah dirinya dahulu yang memang begitu menyedihkan. Dan Ari yang menunjukkan simpatinya. Yang kemudian tak terkendali dan memeluk sahabat barunya itu dengan pelukan penguat yang benar-benar tulus.
“Aku tidak akan membiarkanmu bersedih sendirian, teman,” ucapnya kemudian mencoba menguatkan Bara. Ia kemudian berharap bahwa Tuhan mau menunjukkan hari-hari berat dalam hidupnya yang baru saja ia saksikan sebelum datang kemari.
Lalu latar taman itu pun berubah-ubah kembali. Menunjukkan isi rumah dan tampilan Ida yang tengah memohon agar Bowo tidak pergi. Maka Ari pun melepas pelukannya dan membiarkan Bara menyaksikan semuanya. Menunjukkan betapa Ida tersiksa sejak kepergian suaminya. Begitu pula dengan Ari yang tak mengetahui semua kebenarannya. Lalu laki-laki itu mengharapkan Tuhan menunjukkan masa ayahnya yang melamar kekasih lainnya. Lalu pertengkarannya dengan sang ibu karena absennya sosok sang ayah dalam keluarga mereka.
Sebuah pertunjukan yang membuat Bara menatap penuh tanya kepada Ari. Seolah ingin memastikan bahwa itu benar. Dan laki-laki itu pun menjawabnya dengan sebuah anggukan, bahwa itu benar. Mereka hidup dalam sebuah nasib yang seirama, meski tidak saling berbagi cerita.
Ya, setidaknya, kini mereka saling berbagi tentang kisah itu. Maka kemudian, bertanyalah Ari tentang apa yang membuat Bara melihat masa lalu, masa kecil mereka tadi. Dan Bara menjawab dengan mudah.
“Karena aku ingin mengerti tentang satu hal. Sesuatu yang membuatku meragukan ayahku.”
Bara kemudian mengingat-ingat kejadian itu dalam otaknya. Dan berangsur-angsur latar-latar di sekitar mereka kembali berubah menunjukkan latar rumah Bara yang tampak sudah menggelap di malam hari.
Sekitar 4 tahun yang lalu. Di sana, di atas sebuah ranjang di dalam kamar, tampak seorang Bara tengah berbaring dan tertidur. Sang ayah baru saja masuk dan duduk di tepi ranjang sambil sedikit merapikan tempat tidur sang anak. Laki-laki itu memandangi sang anak yang tertidur lelap sambil terlihat memikirkan sesuatu.
Hingga kemudian sang anak tiba-tiba membuka mata dan mendapati ayahnya tampak sedang berpikir keras.
“Apa yang sedang ayah pikirkan?” tanya anak itu kemudian karena penasarannya. Matanya tampak masih sedikit menyipit karena masih cukup mengantuk untuk ukuran orang yang baru saja membaringkan diri.
Sang ayah yang mendapat pertanyaan itu terlihat berpikir sejenak sebelum kemudian memberikan jawabannya. Jawaban berupa sebuah pertanyaan. Pertanyaan yang bentuknya berupa pernyataan.
“Ayah penasaran saja, apa kamu baik-baik saja di rumah selama ini? Ayah penasaran, apa kamu mau punya ibu baru? Itu demi kebaikan kamu. Tapi kalau kamu tidak mau ...,” Prima tampak menghentikan kata-katanya. Laki-laki itu terdiam saat melihat ekspresi sang anak yang tiba-tiba melemah dengan senyum datarnya.
Anak yang saat itu merasa cukup terkejut. Karena hari ini, ia tidak lagi begitu iri pada Ari. Ia sudah lupa rasanya perasaan itu. Dan tiba-tiba sang ayah menanyainya soal seorang ibu baru?
Bara hanya bisa membalas dengan kata-kata yang cukup dingin kepada ayahnya. Kata-kata dingin yang cukup ampuh membuat ayahnya yang telah berpikir cukup lama untuk mempertimbangkannya, kini harus kembali bingung karenanya.
“Aku senang bila ayah senang.” Sebuah kata yang diterima sebagai sebuah penolakan oleh ayahnya. Namun, tak benar-benar jelas bila itu penolakan. Sebab selama ini, sang Bara memang selalu mematuhi segala nasihat dan keinginan ayahnya.
Maka jelaslah di keesokan hari, saat Bara terlihat murung menatapi foto ibunya. Saat dia memilih berangkat lebih pagi ke sekolah demi menghindari sarapan bersama sang ayah. Sebuah kebiasaan kecil yang akan ia lakukan saat tak mampu menghindari pertikaian atau perselisihan dengan ayahnya. Ya, walaupun seringnya hanya berupa perselisihan kecil tanpa tanda-tanda peperangan yang nyata. Mungkin, bisa disebut saat-saat mereka tak saling bicara.
Melihat kenangan itu, kini, tampaknya Ari remaja kembali menatapi Bara yang tampak memasang wajah tegarnya. Karena kemudian, setelah itu, muncul kenangan-kenangan lain lagi. Yaitu kenangan saat ayahnya berdoa pada salat malamnya.
Saat di pojokan kamar pria itu bersimpuh, sambil mengadu pada istrinya di surga, bahwa anak mereka mungkin akan kehilangan kesempatannya merasakan kasih sayang dari seorang ibu untuk selamanya. Dan bahwa, meskipun mengetahui hal itu, jiwa pecundangnya yang takut, membuat pria itu tak bisa mengambil keputusan untuk mengambil langkah tegas mencarikan seorang ibu baru bagi anaknya atau tidak.
Maka menangislah pria itu kepada Tuhan dan istrinya. Menceritakan segala resah alam pikirnya bagi kehidupan sang buah hati. Haruskah ia memiliki istri baru atau tidak. Sementara ia hanya seorang ilmuwan yang tidak begitu pandai bersosialisasi. Hingga dirinya tak bisa menanyai saran banyak orang atas masalah pribadinya sendiri. Sebuah kondisi rumit yang harus dihadapi oleh seorang pendiam yang tidak lagi hidup sendirian. Ya, dia juga harus memikirkan sang anak dalam langkah-langkah kehidupannya, karena itu adalah tanggung jawabnya.
“Lalu, sekarang, bagaimana jadinya? Apa kita bisa menemukan solusinya?” tanya Ari kemudian menyadarkan Bara dari lamunannya. Membuat pria muda itu menghadap ke arahnya. Bertanya-tanya, soal hubungan antara ayah dan ibu mereka.