Pagi di keesokan hari, rumah sakit kedatangan tamu dari kepolisian. Mereka dibawa oleh Dedi dan Ginanjar yang memilih melaporkan kasus pengeroyokan tersebut dan membuat Andi menjadi salah satu saksinya.
Itu mereka lakukan karena Andi mengatakan bahwa ia tahu siapa pelakunya—dilihat dari kejadian kemarin lusa yang diceritakan oleh Bara kepadanya. Selain itu, Dedi dan Ginanjar juga berharap bahwa Andi akan berhenti menyalahkan dirinya sendiri setelah ini.
Namun, mereka gagal. Andi memang menyebutkan nama para pemuda yang telah mengeroyok temannya, tapi dia tetap menyalahkan diri sendiri atas kejadian itu. Hingga kemudian, para polisi tampak bergerak cepat dan berkoordinasi dengan sekolah demi menangkap pelaku yang sudah terlalu bebas menggunakan tangan mereka.
Sementara Ida sudah mulai membawa anaknya pulang untuk dipersiapkan untuk pemakaman. Prima sejatinya ingin membantunya dalam hal itu, tetapi dia harus menunggui anaknya di rumah sakit. Selain itu, Ida juga tidak mau menerima kehadirannya bila harus mengabaikan Bara sebagai harganya. Sehingga laki-laki itu menunjuk Khairil untuk membantu teman lamanya itu, menggantikan dirinya.
Khairil sendiri kemudian membantu Ida bersama Endang dan para tetangga di kediaman Ida yang baru. Mereka memandikan dan mengafankan remaja itu hingga tersisa waktu disalatkan. Sementara Dedi dan Ginanjar hanya membantu sedikit karena harus menenangkan Andi yang masih tak henti bersikap murung. Laki-laki itu tampak hanya menatapi Ari dengan tatapan kosong berisi air mata yang mengalir dengan sendirinya.
Sungguh, bagi keduanya, situasi ini adalah hal yang sangat sulit. Mereka menjadi saksi kematian seseorang yang membuat ibunya begitu lemah dan teman yang merasa bersalah. Andai bisa, mereka berharap—hampir semua orang yang menyayangi Ari berharap—bahwa laki-laki itu akan terbangun kembali. Atau setidaknya, kejadian itu tidak pernah terjadi.
Andai saja Andi bisa melihat masa depan, dia tidak akan mengajak keduanya bergabung di kafe itu. Andai Ida tahu hal ini akan terjadi, ia mungkin tidak akan berpindah satu senti pun dari rumah mereka yang dulu. Namun, begitulah. Takdir bukan sesuatu yang bisa dirubah dengan kata Andai. Begitu pula dengan kematian, ia tak bisa dihindari dengan meramalkan atau kembali ke masa lalu untuk mencegahnya. Itu tidak akan bekerja tanpa izin Tuhan.
***
Sunyi. Di sana hanya ada kegelapan. Hingga saat Ari membuka mata. Cahaya begitu terang. Ia berada di suatu tempat yang penuh dengan latar putih. Tak ada warna lain di tempat itu. Satu-satunya yang berbeda hanya warna kulitnya. Bahkan pakaiannya, ia memakai ihram. Tanpa alas kaki meski rambutnya tak dicukur seperti orang-orang yang melaksanakan ibadah haji.
Bara, dia juga mendapatkan hal yang sama. Di suatu tempat yang penuh dengan cahaya putih. Pakaian putih. Tanpa seorang pun menemani.
“Apa aku sudah mati? Aku di mana? Ayah, ibu? Tuhan, aku di mana?”
Dua orang itu menanyakan pertanyaan yang sama dalam benak mereka. Namun, tak ada jawaban yang didapatkan. Sempat mereka merasa begitu rapuh, ingin menangis, ingin pulang.
“Aku ingin pulang, Tuhan!” pinta keduanya berbarengan tanpa mengetahui keadaan masing-masing.
Tiba-tiba, sebuah suara terdengar mulai menjawab mereka. Sebuah suara yang hanya dapat didengar oleh keduanya. Laksana seorang penasihat membisiki telinga, suara itu datang membawa kabar.
“Tenanglah! Kamu berada di tempat yang aman berkat Tuhanmu! Maka bertasbihlah dan memuji-Nya! Dan kami membawakan berita gembira kepadamu. Katakanlah, apa yang paling ingin kamu mengerti dari masa-masa sebelum kamu berdiri di sini dan sesudahnya?”
Suara itu menjawab dengan panjang. Membuat Ari dan Bara terperanjat, selagi bibir dan hati berucap tasbih dan tahmid dengan refleknya.
“Subhanallaah. Alhamdulillah, ya Allah, Engkau tempatkan hamba di tempat yang aman. Semoga kelak, Engkau izinkan hamba kembali ke sisi keluarga hamba di dunia! Amin!
Bagai telah terstruktur dan terprogram, keduanya mengucap dengan fasihnya dan dengan sama dan seirama. Meski, lagi-lagi, keduanya tak saling berdekatan dan tak tahu letak masing-masing di antara mereka.
Maka berjalanlah mereka ke bagian pertanyaan dari jawaban itu. Pertanyaan yang membuat mereka memikirkan tentang hal-hal yang ingin mereka mengerti dari masa lalu. Pun dari masa depan.
Dan tanpa diminta, keduanya mengingat hal-hal yang membekas di kepala masing-masing. Maka tatkala mereka menatap lurus memikirkan hal itu, latar putih pada tempat itu perlahan berubah. Dan setelah mereka sadari, keduanya, masing-masing telah berada di masa yang berisi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mereka.
***
Ari memandang sekeliling dengan penasaran. Ia mengenal tempat dirinya dibawa. Tempat kakinya sekarang berdiri, rumahnya di masa kecil.
Apa aku sedang berada di masa lalu? Katanya dalam hati. Dan entah bagaimana, ia merasa ada yang menjawab “Iya” kepadanya.
Lantas pria muda itu mulai melangkah mencoba mencari sesuatu di sana. Dan dalam beberapa kali melangkah, ia menemukan seorang wanita sedang menangis merengek kepada suaminya. Ya, itu Ida dan Bowo—ayahnya.
Ari mengatupkan mulut, menelan ludah memandangi pemandangan itu. Melihat ibunya yang mencoba mencegah sang suami pergi. Hingga harus berlutut dan memeluk kaki pria itu.
Ari hampir tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia terkejut mendapati ayahnya yang seperti itu. Meninggalkannya saat ia tertidur pulas. Membiarkan istrinya menangis begitu saja.
Lalu tampak di keesokan harinya, saat Ari menanyai Ida tentang sang ayah. Dan perempuan itu menjawab bahwa laki-laki itu telah berangkat kerja lebih awal. Membuat Ari mulai menggigit kepalan tangannya demi menahan bulir air mata, bukti rasa perih yang dialami hatinya saat ini.
Lalu kemudian tampak hari-hari berikutnya, saat dia menanyakan tentang sang ayah pada ibu yang tampak mulai kasar padanya. Yang kemudian diiringi saat-saat ia melampiaskan kekesalannya dengan tinju dan kekerasan di jalanan. Sementara sang ibu sering kali tersiksa sendirian. Lelah membohongi anaknya sendiri. Dan hancur melihat anaknya yang semakin lama semakin membencinya.
Wanita itu membuat Ari menangis resah, berharap bisa cepat pulang dan meminta maaf kepadanya. Teringat bagaimana ia begitu benci pada wanita itu, sementara ia tidak tahu bagaimana perihnya perempuan itu menanggung bebannya sendiri.
Maka timbullah satu pertanyaan lagi di kepalanya. Tentang apa yang membuat sang ayah pergi. Apakah semua kesalahan sang ibu? Atau semua memang sudah takdir?
Lantas latar-latar itu kembali berubah lagi, seiring dengan kenangan-kenangan yang disaksikan Ari. Kali ini, Ari menemukan dirinya dibawa ke kediaman sang ibu saat masih muda. Kediaman kakeknya.
Saat itu, di ruang kamar yang remang, terlihat wanita itu sedang menangis memeluk sesuatu. Sebuah pigura foto. Hingga seorang perempuan yang lebih dewasa, neneknya Ari, memasuki ruangan itu.
“Jangan menangis lagi! Lakukan ini demi ayahmu! Dia itu pria yang baik. Ibu lihat, anaknya penurut juga. Kamu pasti bahagia bersamanya.”
Ida tampaknya tak terlihat membantah ucapan itu. Ibunya hanya mengusap wajah perempuan itu agar air matanya tak tampak lagi. Lalu perlahan, ia dibawa keluar ruangan. Tangannya terlihat sempat membuang pigura yang tadi dipeluknya ke atas ranjang.
Namun, Ari tak mempedulikan pigura itu lagi, dia penasaran, ke mana ibunya akan dibawa. Dan mereka pun tiba di ruang tamu. Tempat beberapa orang dewasa kelihatannya sedang berkumpul membicarakan sesuatu. Dan di sana, ada Bowo, ayah milik pria muda yang tengah mengamati semua itu.
Laki-laki itu kelihatan tersenyum sopan kepada Ida yang baru saja tiba. Dia juga sempat berdiri dan berinisiatif menjabat tangan wanita itu sebelum kemudian duduk kembali. Sementara di dekatnya terlihat ayah dan ibu—kakek dan neneknya Ari—yang tampak semringah memuji kecantikan Ida. Lebih-lebih bapaknya Bowo, ia benar-benar semangat memujia calon menantunya itu pada calon behsannya. Dan bapaknya Ida tersenyum penuh semangat menyambuti
Ari menggeleng tak percaya dengan kesimpulan yang ia dapatkan di otaknya. Ya, kedua orang tuanya dijodohkan. Atas dasar persahabatan kedua kakeknya. Hingga latar itu berubah lagi dan mengantarnya ke masa kepergian kakeknya, 6 tahun lalu.
Bowo terlihat bersedih di pemakaman sang ayah. Meski begitu, di hati pria itu tersemat kelegaan. Bowo kemudian ditampilkan tengah melamar kekasihnya sebelum benar-benar meninggalkan Ari dan Ida.
Ari tampak sedikit roboh saat melihat kelakuan ayahnya. Seorang pria yang sangat disayanginya, memilih cinta yang lain dari pada dirinya dan sang ibu.
Maka laki-laki itu pun terlihat murung. Bertanya-tanya dalam hati, dengan apa bisa menebus dan membahagiakan hati ibu yang selama ini menanggung luka. Berharap salah pahamnya selama ini dapat diperbaiki dengan senyuman untuk sang ibu.
Tapi dengan apa? Hatinya kembali bertanya-tanya.
Lalu sebuah bisikan terdengar. Sebuah suara yang memintanya bersabar, dan lihat apa yang terjadi. Maka latar-latar itu kembali berubah-ubah. Menunjukkan detail masa yang mungkin berguna untuk ia saksikan.
Sementara itu, di sisi lain, saat Bara memikirkan apa yang ingin ia mengerti dari masa lalu, remaja itu tampak terkejut melihat dirinyadibawa kembali ke masa saat dia bermain dengan sang ayah di sebuah taman permainan.
Bara kecil saat itu sedang menatapi sepasang ibu dan anak. Sementara dirinya sendiri sedang ditatapi oleh sang ayah. Dia mengingat bagaimana dirinya berpikir saat itu. Berharap dia dan ibunya bisa seperti kedua orang itu.
Dan saat menatap sang ayah, entah bagaimana, ia bisa mendengar kata hati pria itu. Kata hati yang dulu pernah ia pertanyakan.
“Tuhan, apakah aku harus mencarikan ibu untuknya?” Prima bertanya dalam hati sambil memandangi anaknya dengan tatapan pilu. Begitu sebaliknya, Bara remaja kini sedang menatapinya dengan raut sama.
Hingga tiba-tiba, Bara merasakan kehadiran Ari di sampingnya. Seperti tiba-tiba muncul, konsentrasi Bara langsung tertarik olehnya.
“Ari? Bagaimana bisa kamu di sini?” tanya Bara seakan lupa pada kejadian yang mereka alami sebelum ini. Dan sama sepertinya, Ari sendiri tak bisa banyak menjawab selain sebuah gidikan bahu dan jawaban yang sama penasarannya.
“Aku tidak tahu, aku baru saja diantarkan ke masa lalu saat ayah dan ibuku dijodohkan. Dan sekarang, aku di sini berharap bisa menemukan obat yang bisa menyembuhkan luka di hati ibuku.”
Sebuah jawaban yang cukup mengejutkan—namun, tak asing lagi bagi Bara. Jawaban yang aneh, tetapi masih dapat ia terima. Karena yang terjadi sejauh ini selalu sebuah kejutan yang sulit dipercayai. Seperti kejutan yang kemudian mereka dapatkan. Namun, sebelum itu ….
“Aku harap, suatu hari kamu bisa berbagi kisah itu denganku. Karena sepertinya, kali ini kita akan menelusuri kisahku bersama-sama.”
Dan dimulailah perjalanan mereka menelusuri kisah yang ingin dimengerti oleh Bara. Kisah tentang ayahnya yang tak tega melihat dirinya merindukan kasih saya seorang ibu. Kisah tentang Bara, yang ternyata tengah menatapi Ida dan Ari, sepasang anak dan ibu yang tengah menikmati liburannya di taman yang sama dengan mereka.