Suasana rumah sakit tampak riuh oleh orang-orang yang membantu mengantarkan korban—Ari dan Bara. Mereka tampak panik dan empati melihat keadaan keduanya yang cukup mengenaskan. Lalu orang-orang yang melihatnya berbondong-bondong menanyakan penyebab luka yang remaja itu alami.
Sementara Dedi tampak cukup gusar memikirkan sesuatu. Dan Ginanjar terlihat sedang memberi keterangan pada dokter yang menyambut pasien. Lalu orang-orang lainnya kemudian terlihat saling berbicara, membahas keadaan Ari dan Bara. Orang-orang yang sebelumnya telah mendengar dari Dedi kini tengah menceritakan kejadiannya pada yang lain yang merasa penasaran.
Hingga kemudian, tampak seorang Andi yang berlari menuju ke arah mereka. Tatapannya bertemu dengan Dedi yang baru saja tampak berpikir keras. Gerak tangan Andi kemudian menunjukkan bahwa dia penasaran, butuh penjelasan. Dan Dedi hanya menghela napas lemahnya yang terlihat cukup resah.
“Apa yang terjadi? Kamu mengenali mereka?” tanya Andi saat ia tiba di depan Dedi. Laki-laki itu sebelumnya sudah dikirimi pesan, karena itu dia juga terlihat agak panik.
“Tidak, aku tidak tahu. Yang pasti, mereka sepertinya habis dikeroyok orang.”
“Siapa?”
“Aku tidak tahu. Hawanya sangat gelap. Ini memang musibah yang tak bisa dihindari.”
Andi hanya menatap aneh karena tak mengerti dengan ucapan Dedi. Dan tampaknya Dedi menyesali ucapannya tadi. Ia kemudian menggeleng dan meminta pria itu mengabaikan kata-katanya.
“Abaikan saja kata-kataku. Kamu sebaiknya mengecek mereka kalau bisa. Sepertinya mereka satu sekolah denganmu.” Dedi kemudian menawarkannya hal lain.
Andi kelihatannya sedikit abai dengan kata-katanya itu. Laki-laki itu merasa tidak begitu penting yang terkena musibah itu siapa, yang pasti, dia berharap mereka bisa segera sembuh dan keadaannya tidak begitu parah. Hingga matanya teralihkan oleh tas yang ternyata sejak tadi sudah dipegang oleh Dedi.
Dedi yang menangkap perhatiannya itu menunjukkan raut penasaran. Berbeda dengan Ginanjar yang datang ke arah mereka sambil memicingkan matanya menatap Andi. Seolah tidak percaya atau ingin memastikan sesuatu.
“Apa kau mengenalinya?” tanya pria itu membuat dua orang di hadapannya sama-sama terlihat terkejut ke arahnya. Laki-laki itu, Ginanjar, adalah seorang “Pendengar”.
Mendengar pertanyaan itu, kemudian giliran Dedi yang ingin memastikan pertanyaan itu kepada Andi. Andi yang mendapat pertanyaan kedua dengan narasi yang sama itu langsung merebut tas hitam dari tangan sang sepupu. Laki-laki itu kemudian tanpa ragu-ragu langsung membukanya.
Dia melihat nama di dalam buku catatan pemilik tas tersebut.
Bara Pramudia.
Membaca itu, dia langsung terperanjat dan panik. Ia kemudian menanyai lokasi Bara kepada kedua temannya. Sementara yang ditanyai, yakni Dedi kelihatan cukup terkejut juga dengan reaksi yang diberikan oleh sepupunya tersebut. Berbeda dengan ekspresi Ginanjar yang bisa membaca pikiran Andi.
“Dia ada di ruang operasi. Kamu tidak bisa ke sana, tidak bisa masuk. Lebih baik menunggu bersama kami di sini.”
Ginanjar mengambil alih untuk menenangkan Andi. Sementara Dedi terlihat mencuri tanya ke arah laki-laki itu. Seolah menyanyakan, apa yang telah didengarnya dari kepala sang sepupu. Namun, laki-laki itu tak bisa menjelaskan lebih panjang dari sekedar gelengan kecil untuk menunda penjelasannya. Ini saatnya menenangkan Andi yang tampak linglung dalam sekejap.
“Apa dia bersama orang lain? Ari? Maksudku, apa kalian punya ponsel mereka? Di mana tas yang satunya?”
Meski tak memaksa menerobos ke ruang operasi, Andi masih terlihat cukup kalut dengan pertanyaannya yang terdengar semrawut. Untungnya ada Ginanjar dan Dedi yang cukup sigap untuk langsung merespon pertanyaan darinya. Lalu keduanya sama-sama mencari ponsel yang telah mereka simpan dari kantung kedua remaja tadi dan memberikannya pada Andi.
Laki-laki itu kemudian berusaha membuka ponsel milik Bara. Untungnya dia tahu bagaimana pola kunci yang digunakan oleh sahabatnya itu. Ia lantas mencari nomor Prima, ayah Bara. Namun, terdengar bahwa nomor itu tidak menjawab. Pria itu, sedang berbincang dengan seorang wanita dengan membiarkan ponselnya dalam mode hening.
Andi mencoba lagi namun, masih tak mendapat jawaban. Akhirnya dia menelpon nomor Khairil, paman Bara. Berselang beberapa detik berdering, suara berat seorang pria mulai terdengar dari seberang sana. Andi kemudian dengan tak sabar memberitahukan semuanya. Ia bahkan terdengar mulai parau.
Kedua orang yang ada di depannya menatap dengan tatapan risau dan empati. Sementara pria di seberang sana terlihat terkejut dan segera berlari menuju sebuah ruangan tempat sang kakak sedang melakukan rapat. Ia bahkan tak lagi menempatkan ponsel itu di telinga.
Di dalam sana, ia melihat Prima dan Ida sedang menatap dengan kaget ke arahnya. Lalu dengan beberapa kali menarik napas dalam, ia mengucapkan kabar dukanya kepada orang-orang itu. Alhasil, mereka yang mendengar jadi terlihat lebih panik daripada dirinya.
Mereka segera bangkit dan melangkah menuju jalan keluar, mencari letak mobil mereka dengan kalap, kalut. Sementara Khairil kemudian berlari mengikuti mereka dan menarik keduanya untuk menjadi penumpang di mobilnya. Dia harus membuat keduanya tenang sebelum mereka merusak diri masing-masing.
Sementara dua orang itu terlihat sama-sama tak tenang. Ida meremas tangannya sendiri. Prima mengusap janggut dan hidungnya kasar, benar-benar gelisah. Dalam hati mereka berharap, semoga mereka masih diberi kesempatan untuk membahagiakan putra mereka di masa depan.
Ini sudah lebih dari 15 tahun sejak mereka memiliki anak-anak itu, dan mereka merasa belum pernah menjadi orang tua yang pantas. Belum mampu membawa kebahagiaan yang utuh. Mereka tak ingin anak-anak itu hilang begitu saja.
Hingga saat mereka sampai di rumah sakit, dua orang itu berlari menuju lobi dan menemukan Andi dan teman-temannya telah menunggu. Remaja itu kemudian dengan pelannya menghampiri kedua orang itu dan mengatakan sesuatu yang tak ingin didengar oleh orang lain.
“Ini semua karena saya,” ucapnya membuat kedua orang itu terkejut dan terheran-heran.
Dedi dan Ginanjar yang mendengar kata itu diucapkannya segera menyela dan membantah semua itu. Rupanya anak-anak itu sejak tadi memperdebatkannya. Tentang Andi yang merasa bersalah atas kejadian ini. Bahwa dialah yang membuat kedua pemuda itu tidak langsung pulang.
Bahwa bila laki-laki itu tak meminta mereka ke kafe, keduanya tidak akan berhadapan dengan para preman itu. Namun, Dedi dan Ginanjar membantahnya. Bahwa ini sudah terjadi, berarti memang sudah takdir mereka.
Bahwa apapun yang Andi lakukan, sekalipun Ari dan Bara menetap di rumah masing-masing, bila Tuhan sudah menghendaki, preman-preman itu akan tetap bisa mengeroyok mereka. Namun, Andi tetap bersikeras menyalahkan dirinya hingga di hadapan orang tua Ari dan Bara.
Meski demikian, Dedi berhasil mengambil alih. Dia menjelaskan pada Prima dan Ida bahwa kedua anak mereka sedang di ruang operasi. Mengajak mereka ke sana sembari menjelaskan keadaan keduanya saat ia menemukan mereka di gang itu. Membuat kedua orang tua itu merasa begitu khawatir, cemas anak mereka akan kenapa-kenapa.
Keduanya masih kuat berdoa. Berharap yang terbaik untuk anak masing-masing. Sementara Ginanjar dan Khairil sedang berjalan bersama Andi sembari menenangkan pikirannya.
Mereka pun terlihat menunggu dalam kegelisahan masing-masing. Berharap-harap cemas kabar yang akan dibawa dokter dari dalam sana. Sesekali, para remaja itu tampak memberi kabar pada keluarga masing-masing bahwa mereka sedang ada kebutuhan yang membuat mereka tak bisa pulang.
Hingga sekitar tiga puluh menit kemudian. Seorang dokter berjalan keluar dengan pakaian operasinya. Menampilkan raut murung sambil menunduk sebelum mengangkat wajahnya menatap keluarga para korban.
“Dokter, bagaimana keadaan anak saya?” tanya Ida yang langsung memburu keterangan dari sang dokter. Prima sendiri hanya bisa berharap yang terbaik untuk Ari meskipun ia terus mencemaskan anaknya, Bara yang sedang dioperasi di ruang sebelah.
Dokter itu terlihat enggan menjawab dan menatap wajah Ida dengan prihatin. Ia mencoba menarik napas dalam sebelum wanita itu kembali memburunya dengan pertanyaan sama dan nada yang lebih tinggi. Pertanyaan yang kemudian tak memberi jawaban yang menyenangkan.
“Maaf, kami tak bisa menolong anak Anda. Kami sudah berusaha sebisa kami,” jawab sang dokter membuat perempuan itu terkejut. Ia syok, tak mampu menanggungnya. Ia ambruk dan kehilangan kesadarannya begitu saja. Untung saja ada Prima yang kemudian menahan dan memegangi bahunya.
***
Gelap. Itulah yang dikeluhkan Ida saat ia mendapatkan kesadarannya kembali. Namun, ia belum membuka mata. Matanya masih terasa berat dan sulit untuk dibuka.
Hingga guncangan kecil sebuah tangan di pundak kembali menyadarkannya. Ia terpaksa membuka matanya meski agak sulit. Dan perempuan itu melihat sang adik, Endang yang sedang menatapinya dengan tatapan iba.
Ida tak menggubris tatapan itu. Dia tak begitu mengerti, tetapi dalam hatinya merasa seperti ada sesuatu yang hilang. Sesuatu yang ia lupa, yang membuatnya sampai jatuh pingsan seperti ini. Ya, Ida sejenak lupa perihal anaknya yang baru saja meninggal dan kemudian mengingatnya kembali. Maka pecahlah tangisan ibu itu.
Anak semata wayang, putra yang sebenarnya berhati baik. Yang selama ini memendam perseteruan dengannya. Yang selalu mendapat bentakan dan jadi pelampiasan kekesalannya, meski ia tak sengaja. Putra yang semestinya ia sayangi, meninggal sebelum dirinya benar-benar dapat memenuhi tugasnya sebagai ibu.
Membuatnya menangis pilu. Tersedu-sedu. Merasa bahwa hatinya robek, hancur, dan terkoyak. Alasannya tetap hidup selama ini kini hilang sia-sia. Dia menangis dan berteriak sekuat-kuatnya. Lalu adiknya tak sanggup lagi menahan ketika kaki berusia hampir 40 tahun itu berlari dengan kencang.
Memaksa menemui anaknya meski dia tak benar-benar tahu ke mana dirinya harus berlari. Alasan ia menanggung sakit selama ini, telah direnggut semudah itu darinya. Kakinya tetap berlari dan terus berlari. Hingga ia sampai di titik sadarnya. Bahwa anaknya telah pergi dengan semua luka yang belum sempat disembuhkan—baik di tubuh maupun di hati. Membuat dirinya kemudian berdiri mematung, lalu ambruk dan terduduk.
Prima, beberapa saat kemudian mendatanginya. Putranya, Bara dikatakan berhasil melewati masa kritis meski sekarang masih belum sadarkan diri. Laki-laki itu tampak menguatkan diri, meski bekas air mata di pelupuknya masih menampakkan diri.
Katanya, “Jangan terlalu bersedih. Mungkin di sana, dia sudah mendapatkan kebenarannya. Mengetahui segalanya dan mendapatkan kebahagiaannya. Doakan dia, sebagaimana kamu selalu berdoa untuknya selama ini.”
Tangannya menyentuh pundak Ida dan mengusapnya menguatkan. Khairil, Endang, Andi, Dedi dan Ginanjar juga ada di ruangan yang sama. Di hadapan mereka saat ini terbaring seorang pria muda. Tubuhnya terbujur kaku, hidungnya disumpal kapas, begitu pula dengan telinga dan lainnya.
Laki-laki muda bernama Ari. Yang telah pergi meninggalkan ibunya. Ke dunia lain. Membuat seseorang yang lama menatapnya—Andi—menjatuhkan air matanya semakin deras dengan dagu berkecamuk dan hati yang merasa penuh duka. Dia merasa bersalah dan berlari meninggalkan mereka.