Waktu itu jam tangan Ari menunjukkan pukul 16.22 WIB. Keterangan itu didukung juga oleh matahari yang sudah condong, tak sabar ingin bersembunyi melewati ufuk barat. Ditambah angin sepoi yang juga, seakan tak sabar ingin menjemput dingin malam.
Sementara kedua sahabat itu masih berjalan dan baru saja keluar dari gerbang sekolah. Keduanya tampak bahagia sembari mengomeli takdir yang seharusnya membawa mereka bertemu lebih cepat. Karena Ari baru menyadari bahwa melakukan kajian seperti ini rupanya sangat menarik. Dan Bara akhirnya bisa memahami, apa yang telah terjadi pada dirinya. Setidaknya, ini adalah penjelasan terbaik yang pernah ia dapatkan.
Hingga tiba-tiba, di kepala Ari terpintas sebuah pertanyaan. Dan dalam sekejap, ia ucapkan begitu saja kepada Bara.
“Ngomong-ngomong, saat ini kita hanya bisa menjelaskan bagaimana mimpi kita bisa menjadi nyata. Menurutmu, apa suatu hari nanti, kita bisa melihat masa lalu yang belum pernah kita lihat?” tanya Ari setelah banyak bersahut gembira.
Bara yang mendengar itu tampak berpikir sejenak. Lalu mengangguk pelan sebelum menjawab.
“Itu semua akan jadi kehendak Tuhan. Bila Dia mengizinkan, kita akan mendapatkannya,” katanya berusaha bijak. Ari sendiri hanya mengangguk mengerti saat mendengar kata-kata itu. Namun, kemudian, satu pertanyaan lagi ikut muncul dalam pikirannya.
“Lalu, kalau seandainya suatu hari nanti kita diberikan kesempatan untuk melihat masa lalu, masa yang mana yang paling ingin kamu jelajahi?” katanya dengan polos kepada Bara.
Bara yang mendengar itu kembali berpikir sejenak sebelum ia memberikan jawaban. Ari berharap-harap dengan penasaran pada jawaban yang akan diberikan oleh Bara. Hingga laki-laki itu menjawab tak sesuai dengan yang diinginkan.
“Kata Andai adalah kata yang tidak disukai oleh Tuhan. Jadi, jangan berandai-andai, karena itu dapat membuatmu terlena dalam lautan khayalan,” ucap laki-laki itu bijak. Namun, raut yang ia berikan adalah raut menertawai. Ya, dia menertawai ekspresi Ari yang tampak sekali kecewa dengan jawaban suci tersebut.
Meski begitu, baik Ari maupun Bara, keduanya sama-sama kembali memikirkan soal pertanyaan tersebut. Apa yang paling ingin mereka lihat? Apa yang paling ingin mereka pahami dari masa lalu mereka?
Tak sadar, langkah kaki akhirnya mengantar keduanya ke depan sebuah tongkrongan sebelum mereka sampai ke kafe Dukun. Dan berita buruknya adalah, terdapat dua orang yang tak asing di tengah-tengah kumpulan remaja di tongkrongan itu. Dua orang yang kemarin merundung Bara, yang menunjuk Ari untuk menantikan pembalasan dendam mereka.
Kedua orang itu tampak bangkit saat melihat Ari dan Bara yang belum juga menyadari mereka. Hingga kemudian mereka mengomandoi teman-temannya untuk mengepung kedua remaja itu. Barulah dua pria itu sadar, mereka sedang berhadapan dengan anggota preman sekolah. Parahnya, ada beberapa preman kampung juga yang ikut mengepung bersama mereka. Sontak, itu membuat Ari dipenuhi kebingungan.
Di satu sisi, Ari merasa bahwa mungkin dia bisa menghajar beberapa orang di kerumunan itu. Di sisi lain, ia teringat Bara yang tak mungkin mampu melawan satu pun di antara mereka. Lalu ia memikirkan cara keluar dari kepungan itu. Khawatir bila mereka gagal dan harus menerima risikonya.
Laki-laki itu pun berinisiatif memegang bahu temannya. Sementara yang dipegang hanya bisa membalas dengan tatapan lemas. Ia mungkin pernah beberapa kali dirundung, tetapi belum pernah menghadapi yang seperti ini.
Alhasil, laki-laki itu mulai ketakutan meski berusaha keras menutupnya. Kakinya bergetar hebat seakan dirinya hampir roboh. Lebih-lebih karena ia teringat mimpinya semalam.
“Ayo lari!” Sahutan dari Ari kini tak didengar lagi olehnya. Hanya kakinya yang melangkah mengikuti tarikan pria itu. Kini ia bagai boneka yang diseret kemana-mana. Hilang, kosong, bingung begitu saja. Sebuah boneka yang harus dilindungi.
Ari sendiri tampak kewalahan karena mencoba menembus lingkaran yang mengurung mereka berdua sembari memastikan Bara baik-baik saja. Ia tak berani menyerang lebih dulu karena belum siap menerima serangan musuh. Sesekali ia berdecak kesal yang dibalas dengan seringai kemenangan oleh lawannya.
Sementara Bara masih belum bisa memulihkan dirinya. Kepalanya dipenuhi pikiran soal mimpinya semalam. Dan raut wajahnya tampak begitu hampa dalam keheningan.
Sebenarnya, bila ia sadar, ia akan mengucapkan maaf dan meminta Ari untuk melakukan hal sama. Sementara Ari tak akan memikirkan hal itu. Karena dia tahu, orang-orang yang mengepung mereka sekarang, tidak akan ada yang mau melepaskannya.
Ya, itu dia. Gumam Ari kemudian setelah mendapatkan ide yang baik baginya.
Laki-laki itu lantas berhenti, mengamati sekeliling. Tangannya yang menyeret Bara ia lepas seketika. Meluruskan berdirinya dan membuka mulutnya untuk bernegosiasi.
“Kalian hanya punya urusan denganku. Lakukan apa yang kalian inginkan denganku, tapi lepaskan temanku!”
Baru kali ini. Baru kali ini Bara bisa menyadarkan dirinya. Kata-kata itu entah bagaimana merasuk dan membuatnya tersadar dari lamunan kalutnya. Sontak saja kepalanya menggeleng.
“Aku tidak akan melakukannya,” katanya menyanggah apa yang sedang diharapkan Ari.
“Kalian terkena masalah karena aku! Lepaskan dia pergi!” katanya kembali, mengambil alih komando Ari.
Hal itu membuat lawan mereka mulai menyeringai sinis menertawai drama aneh itu. Seolah melihat film-film heroik yang begitu lamban dan berlebihan. Sifat yang sangat mereka benci.
“Jangan banyak omong!” teriak si tinggi yang kemarin sempat dihajar habis-habisan oleh Ari.
Laki-laki itu kemudian melangkah maju untuk memberikan pukulan kepada Bara. Namun, tangan Ari dengan cepat menahan tangan kurus panjangnya. Kemudian, perkelahian di antara mereka tak terhindarkan. Sementara yang lain masih memilih untuk diam menyaksikan.
Ari berhasil memelintir tangan kanan si tinggi. Namun, tangan kiri pria kurus itu tampaknya memegang pisau dan bersiap untuk menusukkannya ke perut kiri milik Ari. Beruntung remaja itu lebih dulu melihat gerakannya.
Dalam sekejap, Ari menepis tusukan itu dengan tangan kanannya yang memukul tepat di otot lemah tangan si tinggi. Otot itu berada beberapa senti dari titik nadi tangan. Bukan otot yang begitu tebal, bukan pula nadi yang tidak banyak merasakan sakit.
Lantas rasa nyeri itu membuat si tinggi tak kuasa menahan pisaunya. Setelah pisau terlepas dari tangan pria itu, Ari kemudian meninju dadanya hingga ia terpental mundur, lebih jauh dari posisi semula ia mengepung tadi.
Kini Bara kelihatannya memandangi pisau yang terjatuh tadi. Sementara beberapa lawan yang melihat temannya terjatuh, tampak mulai tak jelas merubungi Ari untuk mengeroyokinya. Ari yang mendapati itu, sedapat mungkin berusaha untuk mengimbangi jumlah mereka. Sementara Bara masih menimbang-nimbang apakah dia harus mengambil pisau itu atau tidak.
Aku akan mengambilnya. Ucap hatinya memutuskan. Namun, itu tampaknya sudah cukup terlambat. Saat dirinya hendak berjongkok untuk meraih pisau di hadapannya, sebuah tangan terasa berayun keras memukul pelipisnya.
Bara berdesis keras. Ia terjatuh, tersungkur ke atas tanah. Pelipisnya mulai berdarah. Dan seiring dengan itu, kaki-kaki lawannya berbondong-bondong datang untuk memberinya pelajaran. Mereka menendangnya dengan membabi buta.
Membuat Ari dipenuhi amarah. Sontak kekuatan pria itu seakan meningkat drastis. Dalam sekali hentak, ia mampu membuat lawan-lawannya terpaksa melepaskan tangan mereka dari tubuhnya. Membuat dia bisa bergerak cukup bebas untuk melancarkan serangan balasan.
Berhasil beberapa kali membuat mulut seseorang mengalirkan darah. Sedikit mampu membuat perut beberapa orang terasa mual dengan tendangannya. Dan beberapa pelipis harus mengeluarkan darah amis mereka.
Namun, beberapa usaha itu akhirnya hanya bisa ia hentikan saat merasakan sebuah tikaman pisau memasuki perutnya. Tak cukup sekali, pisau itu mengulangi aktifitasnya untuk membuat lubang kedua di tubuh pria itu. Sementara setelah itu, mereka yang merasa kesal kemudian tak memberi ampun.
Dalam lemahnya Ari, ia hanya bisa menatap Bara yang masih ditendangi beberapa orang sembari dirinya sendiri masih menerima pukulan dan tendangan di sekujur tubuh dan wajahnya. Membuat bagian wajahnya dilumuri begitu banyak darah. Hidung, mulut, pelipis, pipi, dagu, semua merata di sana.
Penampilannya tak jauh beda dengan Bara sekarang. Dan satu hal terakhir yang membuat kesadarannya semakin menciut, sebuah tikaman pisau dari si pendek—yang kemarin—ke perut Bara. Tikaman yang dilakukan pria itu sambil memberi seringai kemenangan pada Ari. Seolah berkata bahwa ia menang, mereka menang, Ari tak mampu melindungi Bara.
Sementara Bara, laki-laki itu, sejak tadi terus berusaha melihat Ari meskipun dirinya menerima banyak tendangan. Dan kini ia harus menerima sebuah rasa sakit yang belun pernah dialaminya selama ini. Rasa sakit yang tiada tara. Seolah seluruh tubuhnya disetrum listrik yang menyakitkan. Ngilu dan menyengsarakan.
Kini kedua pemuda itu, dibiarkan terbaring berhadapan. Masih sama-sama membuka mata. Untuk dapaty melihat keadaan satu sama lain. Dan untuk dapat mengatakan doa di dalam hati. Sambil menyadari sesuatu. Bahwa ini adalah apa yang mereka mimpikan semalam. Dan itu membuat hati mereka seolah tak bisa berhenti berucap.
“Jangan ambil dia dulu! Jangan ambil dia dulu! Tuhan, jangan ambil dia dulu! ....”
***
Sekitar pukul 4 sore, beberapa saat sebelumnya. Di sebuah pom bensin sebelum ke kafe Dukun. Seorang remaja tampak sedang mengetik pesan untuk sepupunya. Seorang sepupu yang sedang bertanya di mana posisi dirinya saat ini.
Dedi—nama remaja itu, hanya membalas dengan mudah bahwa dirinya sedang mampir mengisi bensin di sekitar tempat bertemu.
“Sebentar lagi sampai.” Tulisnya pada layar yang menampilkan nama Andi sebagai penerima. Sesaat kemudian temannya yang mengendarai motor datang dan menyuruhnya naik untuk melanjutkan perjalanan. Sementara balasan pesan dari Andi juga tampak ikut masuk.
“Ok.” Hanya seperti itu yang dibalas oleh yang di sana.
Dedi dan Ginanjar pun melanjutkan perjalanan mereka hingga mereka sampai di sebuah gang kecil sebelum tiba di kafe Dukun. Gang kecil itu terlihat biasa saja di mata Ginanjar, si pengendara. Namun, berbeda dengan yang dilihat oleh Dedi.
Laki-laki itu melihat aura gelap menyeruak dari dalam sana. Serasa seperti setan-setan sedang berkeliaran mencari mangsa di tengah matahari yang beranjak tenggelam. Dan kegundahan hatinya yang melihat itu pun dapat dirasakan oleh sahabatnya di depan. Hingga laki-laki itu memilih mempercepat laju motornya dan berbelok tepat di gang yang mengeluarkan aura buruk tadi.
Tepat saat mereka sampai, Ari dan Bara sudah tergeletak lemas di atas tanah. Para remaja dan beberapa preman tampaknya bersiap untuk meninggalkan mereka. Membuat Dedi dengan cepatnya berlari menuju keduanya. Lalu membacakan beberapa doa dan Ginanjar segera mencari pertolongan sembari menghubungi Andi.
Sejenak kemudian orang-orang yang lewat di jalanan berhenti memenuhi panggilan Ginanjar. Mereka berbondong datang memenuhi gang kecil yang cukup sepi itu. Membantu menaikkan para korban dan membawa mereka ke rumah sakit.