“Sayangnya, Chronovisor hanya bisa menangkap gambar masa lalu. Tidak dijelaskan apakah mereka mampu mengambil gambar masa depan atau tidak. Selain itu ada dugaan bahwa Ernetti hanya memberi klaim kosong. Klaimnya dianggap penipuan dan bukti yang ia tunjukkan dicurigai buatan. Contohnya seperti gambar yang ia yakini sebagai Yesus ketika disalip. Namun, gambar itu dikatakan mirip dengan patung pahatan seorang seniman.”
“Hingga hari ini, Chronovisor tidak dapat ditemukan dan menuai kontroversi. Namun, ada beberapa peneliti yang kabarnya sedang coba mengembangkan Chronovisor baru menggunakan dasar teori yang diberikan Ernetti. Sayangnya, detail mengenai itu tidak dibeberkan ke publik, jadi kita tidak bisa menelaah konsepnya lebih jauh selain yang telah diberitahukan.” Bara kembali menjelaskan kelemahan data di tangannya dengan begitu fasih.
Ruangan laboratorium itu masih betah menampung dua remaja itu di sana. Dua remaja yang kini terdiam sambil berpikir keras. Hingga kemudian, salah satu di antaranya mulai mengambil alih.
“Kalau begitu, mungkin sekarang saatnya kita mengumpulkan kesimpulan dari semua data ini dan kita gabungkan semuanya?” tanya pria itu berinisiatif. Dia adalah Ari. Bara sendiri baru saja ingin mengiyakan saat laki-laki itu tiba-tiba berubah pikiran.
“Tapi,” katanya menjeda, “bagaimana pendapat agama soal Chronovisor itu?” tanyanya kemudian melengkapi.
Bara sendiri sempat terkejut melihat Ari yang mengungkit itu. Ia kira laki-laki itu tidak akan mengharapkan pernyataan atau dasar agama untuk data kali ini. Tapi Ari ternyata cukup jeli untuk menantikannya.
Namun, itu tak berarti bahwa Ari akan mendapatkannya. Bara hanya bisa menggeleng untuk menjawab pertanyaan itu.
“Teman-temanku sepertinya tidak bisa menemukan dalil yang berkaitan dengannya. Aku juga tidak terlalu paham dengan energi yang dimaksudkannya. Tapi sekalipun ada dalilnya, tak menunjukkan bahwa kita bisa menjelaskan kemungkinan dari mesin waktu itu sendiri,” jelas Bara tampak sedikit kecewa.
Ari menatap pria dan argumennya itu dengan tatapan tak percaya. Ia tak mengira bahwa Bara akan salah memposisikan diri kali ini.
“Kamu harus ingat bahwa kita tidak sedang memihak satu posisi pada saat ini. Bila memang memungkinkan untuk mesin waktu, maka kita mendapatkan jawabannya. Bila memang tidak, berarti kita harus bersabar dan menganalisa jawaban lain!” katanya menjelaskan posisi mereka saat ini pada Bara.
Bara sendiri tampak hanya terkejut sekali lagi. Kini dia lebih tampak seperti sadar bahwa yang ia lakukan barusan adalah sebuah kesalahan. Dan dia menerimanya dengan lapang dada dan menganggukkan kepala. Sayangnya, laki-laki itu kini kehilangan ide mau melanjutkan penjelasan dengan apa lagi.
Sementara Ari, dia tiba-tiba teringat pada sesuatu.
“Siapa yang jadi saksi bagi kita di hari akhir nanti? Selain anggota tubuh kita sendiri?” tanyanya dengan raut yang masih fokus berpikir. Dia sekaligus terkejut mendapat ingatannya tentang hal itu.
“Tentang bumi yang menjadi saksi. Apa kamu tahu dalilnya?” tanyanya lagi kepada Bara.
Bara yang baru menyadari itu tampak melebar pupilnya. Ia juga terkejut dan tanpa diminta, langsung bersegera menekan-nekan layar ponselnya. Laki-laki itu membuka aplikasi peramban dan mengetikkan kata kunci pencarian di sana.
“Dalil Bumi Menjadi Saksi” Lalu dia menekan enter hingga daftar hasil pencariannya muncul berbaris-baris.
“Bumi Jadi Saksi Atas Amalan Kita,” katanya membaca judul artikel yang hendak ia buka. Ari yang mendengar itu segera mendekat agar bisa ikut membaca bersamanya. Mereka hanya perlu menunggu sebentar lagi hingga artikel itu muncul sepenuhnya.
Dari sana, mereka kemudian menemukan dalil berupa ayat Alquran surah Al Zalzalah ayat 4 yang dalam bahasa Indonesia berarti: Pada hari itu bumi menceritakan beritanya. Lalu dilanjutkan hadits-hadits yang menunjukkan bahwa bumi nantinya akan ikut menjadi saksi untuk segala perbuatan manusia yang memijakinya.
Membaca hal itu membuat Bara dan Ari saling bertatapan. Memikirkan hal yang sama tentang kemungkinan yang sama. Tentang kaitan antara penyaksian dan konsep energi berpendar yang telah dijelaskan oleh Ernetti.
Namun, itu sulit dibuktikan. Lebih-lebih tanpa adanya komunikasi di antara mereka. Hingga keduanya mulai bicara. Dimulai oleh Bara.
“Tapi ini tidak menunjukkan bahwa bumi memuat semua datanya sejak awal.”
“Setidaknya, ini menjelaskan konsep yang serupa dengan Ernetti. Bahwa bumi menyimpan memori tentang yang terjadi di atasnya. Ini mungkin seperti kamera biasa,” kata Ari menganalogikan. Sementara Bara hanya bisa mendengarkan sambil menunggu penjelasan lanjutan.
“Ini mungkin seperti ini,” katanya lagi memulai komando.
“Coba kamu bayangkan, kamu menyimpan kamera untuk merekam hal-hal yang terjadi selama beberapa menit. Mungkin begitulah cara bumi ini menyimpan memorinya.”
“Tapi kamera memang bisa menyimpan data,” Bara mencoba untuk menyanggah.
“Dan tidak menutup kemungkinan bahwa bumi juga demikian. Hanya saja kita tidak dapat melihatnya dengan mudah.” Ari lagi-lagi mencoba mempertahankan.
“Mungkin bentuknya seperti energi, frekuensi yang berpendar dengan sendirinya entah bagaimana. Dan itu berbeda dengan hasil rekaman yang bisa kita lihat dengan bantuan kamera biasa,” tambahnya lagi membuat Bara semakin dalam ikut berpikir.
“Ya, ini memang masuk akal. Tapi sulit dibuktikan,” kata pria itu membalas lawannya. Ari yang mendengar itu sendiri hanya bisa menarik napas dalam. Ia paham bahwa itu memang demikian.
“Tapi baiklah, toh, bahasan sejak tadi juga tidak banyak yang mudah dibuktikan. Kita hanya mengumpulkan data ilmiah dan dalil yang cocok dengannya, tak lebih,” ucap Bara kemudian tiba-tiba beralih. Dia berhasil mengembalikan dirinya. Dan menarik Ari untuk kembali ke kesadarannya juga.
Maka Ari pun tersenyum dan bersiap untuk merampungkan kesimpulan yang tertunda.
“Baiklah, kalau begitu, kita akan mulai membahas kesimpulannya sekarang,” ucapnya mulai membuka sesi baru.
Lantas laki-laki itu pun menunjukkan isi catatannya dan membacakan semuanya. Di sana terangkum kelemahan data yang telah disampaikan oleh Bara sebelumnya. Dan dari semua itu, ia menarik beberapa poin yang menurutnya sangat penting. Sebuah penjabaran yang sebelumnya belum pernah dilakukannya.
“Jadi, bila kita menginginkan mesin waktu, maka itu berarti, alam masa depan sudah tersedia di dunia ini meskipun belum bisa kita masuki dengan mudah. Dalam agama sendiri, itu dikuatkan dengan adanya Lauhul Mahfuz.”
“Namun, menjelajahinya dengan TARDIS adalah sebuah kemustahilan karena belum ditemukan materi penyusunnya. Dan butuh waktu lama untuk menyusun mesin yang dapat menentukan tujuan TARDIS.”
“Menggunakan konsep Ernetti akan menunjukkan bahwa masa-masa itu kemungkinan tersusun dari energi-energi yang berpendar. Dan kita harus bisa menerjemahkan energi itu agar sesuai dengan kita.”
“Dan dari relativitas waktu, satu-satunya halangan yang tersisa adalah besar energi yang harus kita keluarkan karena bergantung pada massa tubuh kita. Dan ini membuat aku memikirkan sesuatu. Sesuatu seperti ...,” Ari menahan kata-katanya. Bara yang sejak tadi mendengarkannya dengan saksama lantas ikut terkejut mendapati pikirannya sendiri.
Pikiran yang bertanya.
“Bagaimana jika kita mengarungi masa-masa itu tanpa jasad?” Ya, itulah yang mereka pikirkan.
“Apa kita harus mati dulu untuk bisa menjelajah waktu? Agar kita bisa menjadi seperti malaikat atau jin? Bergerak dengan ruh?” lanjut Ari semakin pusing.
Keduanya sama-sama menggeleng. Memustahilkan bahwa hal itu terjadi. Namun, mereka belum masuk ke tahap kunci. Mereka lupa alasan mereka mengkaji perihal mesin waktu ini. Hingga Bara mengingatnya.
Bara mengingat mimpinya semalam. Tentang wajah Ari yang dihiasi darah. Tentang kata-kata ibunya Ari yang menyebut bahwa kajian tentang mesin waktu ini berbahaya.
Bara bertanya-tanya. Apa hubungan semua mimpi itu dengan ini. Tidak mungkin Ari dan Bara membunuh diri mereka sendiri demi membuktikan keberadaan mesin waktu. Lalu, mengapa ibunya Ari begitu hati-hati? Dan bagaimana mimpi itu akan menjadi nyata?
“Bar?” Ari yang melihat Bara melamun mulai mengkhawatirkannya. Ia takut Bara memikirkan sesuatu yang tidak diketahuinya. Ya, kali ini, Ari tak bisa menebak isi pikiran Bara. Untungnya, laki-laki itu tak berniat menyimpan rahasia.
“Sekarang, menurutmu, apa hubungan antara mesin waktu dan mimpi kita? Kenapa ibumu mengatakan bahwa kajian ini berbahaya? Dan kenapa pula kamu bilang ibumu senang mendengar tentang mimpi kita?”
Bara melepaskan isi kepalanya. Ari ikut menegang memikirkan ucapannya. Apa hubungan antara mesin waktu, kematin, energi, Lauhul Mahfuz dan mimpi yang menjadi nyata?
Tek!
Bagai mendapat hidayah, Ari tiba-tiba teringat sesuatu. Ia lalu berseringai dan tersenyum takjub tak percaya.
“Kita tak harus mati untuk membuktikannya!” katanya bersorak kegirangan. Bara yang mendengarnya semakin menegang karena penasaran. Ia berharap Ari bisa segera menjelaskan itu kepadanya. Dan dia mendapatkannya.
Ari mengeluarkan ponselnya, lalu membuka peramban dan mengetikkan sesuatu.
“Dalil tidur dan ruh” dan saat hasil pencarian terlihat, ia memilih dan mengeklik artikel berjudul “Saat Kita Tidur, Ruh Pergi Kemana?”
Dan sebelum membaca isi artikel itu lebih jauh, ia menyempatkan diri menatap Bara. Temannya itu juga membalas sama. Mereka saling menggoreskan senyum. Tak sabar melihatnya lebih jauh. Mengerti bahwa ini akan berjalan baik bagi mereka.
Maka sampailah mereka pada sebuah dalil berupa ayat Alquran surah Az Zumar ayat 42 yang dalam bahasa Indonesia berarti: Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir.
Dan keduanya kembali saling bertatapan. Dengan raut yang tak bisa ditebak. Lega, tapi tak benar-benar lega.
“Apa ini berarti, saat kita tidur, kita dibuat melanglang ke masa depan oleh Allah?” tanya Ari dengan kesimpulan yang sudah ditebaknya meski masih sulit diterima oleh dirinya sendiri.
Sementara Bara terlihat hanya menggelengkan kepalanya dengan mata menatap lurus tanpa fokus. Pikirannya kosong sama sekali. Ia sama seperti Ari. Hal ini masuk dalam dugaannya beberapa saat lalu. Namun, terasa agak sulit diterima oleh dirinya.
Hingga ia mengeluarkan kata-kata ajaibnya. Kata-kata yang memang seharusnya mereka pakai pada kondisi seperti ini. Saat mereka hanya mampu memikirkan, tanpa mampu membuktikan dengan pasti.
“Hanya Allah yang tahu!” katanya setelah menyadarkan diri. Ari sendiri hanya bisa pasrah mendengarnya.
Namun, kemudian, keduanya kembali bertatapan. Kali ini dengan tatapan yang amat gembira. Seperti orang-orang yang mendapat kabar gembira.
“Itu berarti, kita memecahkan masalahnya. Mimpi yang kita rasakan terjadi atas izin Tuhan. Dalam tidur, terdapat tanda-tanda kekuasaan Tuhan bagi orang-orang yang berpikir!” Seperti tak terkendali, Ari membeberkan semua kesenangannya. Ia bahkan kembali mengutip penggalan terakhir ayat yang ia baca tadi. Sementara Bara hanya mengangguk mengiyakan dengan girangnya. Ia masih tak percaya bahwa mereka berhasil memecahkan masalahnya.
“Ini berarti, kita pernah menjelajah waktu tanpa kita sadari. Dilakukan dengan ruh, tak butuh banyak energi, secepat cahaya, dengan izin Tuhan, energi kita sesuai dengan masa depan sehingga kita mendapatkan gambarannya dan tersimpan dalam memori kita. Ini hebat!” sahut Bara kemudian melanjutkan kata-kata teman di hadapannya.
Ia kemudian mengusulkan untuk segera memberi tahu yang lain. Yang pertama kali teringat adalah Andi. Namun, baru saja ia hendak mengirim pesan pada Andi, sebuah pesan masuk telah datang dari nama itu.
Teet.
“Kalian masih di sekolah? Aku sedang di kafe Dukun. Menunggu sepupuku. Kalau kalian mau bergabung, aku ada di sini. Nanti sekalian kukenalkan.”
Membaca pesan itu, lantas keduanya terlihat semakin gembira. Mereka tak sabar untuk bertemu dan menceritakan hasil pikir mereka kepada Andi. Ini akan menakjubkan bagi mereka.
Mereka pun bergegas keluar, berjalan tergesa ke kafe yang tak jauh dari sekolah mereka. Jam di tangan masing-masing masih menunjuk pukul 4 sore. Dan kata orang, pada sore hari seperti itu, frekuensi bumi tidak begitu bagus. Entah mereka dapat merasakannya atau tidak.


0 Comments