Setelah menggidikkan bahunya, Bara lalu menjelaskan kelemahan teori Relativitas Waktu dalam benaknya. Menurutnya, akan sangat aneh rasanya mengatakan bahwa manusia bisa kembali ke masa lalu atau bahkan menjelajah masa depan bila mampu bergerak lebih cepat dari cahaya. Itu karena dia mencoba menganalogikannya dengan sesuatu yang lain.
“Coba kamu bayangkan rasanya jadi seperti Quick Silver yang bisa bergerak sangat cepat!” katanya pada Ari yang kemudian disambut dengan anggukan.
“Lalu?” kata laki-laki itu sambil menutup matanya, berusaha fokus untuk membayangkan.
Bara yang melihat itu sempat tergelitik rasanya, ia tak menyangka bahwa Ari adalah orang yang seperti ini. Tak salah bila pemuda itu menyebut dirinya kreatif, karena dia memang unik. Maka Bara pun kembali menjelaskan.
“Bayangkan bahwa kamu bisa berlari dari Jakarta ke Surabaya dalam waktu seper sekian detik. Kamu bisa memetik bunga di Bandung, dan membuat mahkota dengannya lalu memakaikannya ke setiap perempuan yang kamu temui di jalan. Atau kamu bisa meninju semua laki-laki yang kamu lalui. Lalu kembali ke rumah dan tidur dengan tenang dalam waktu satu detik!”
Ari mulai membayangkan dirinya menjadi seperti itu. Menghayalkan semuanya. Bahwa ia bisa melakukan banyak hal dengan sangat cepat. Dan hanya dia yang bisa melakukannya, sementara orang-orang bergerak lambat, bahkan terkesan mematung di matanya.
Ari menemukan bahwa dia bisa melakukan banyak hal, tapi dia tak bisa menembus masa depan. Karenalaki-laki itu tidak tahu masa depan itu ada di mana.
Dia ingin kembali ke masa lalu atau kemarin malam, tapi tak tahu bagaimana caranya.Ia bahkan berharap, andai saja jalanan itu adalah masa lalu dan masa depan, maka dia bisa berlari bolak-balik sesukanya. Namun, dia bahkan tak tahu letak masa depan dan masa lalu itu di mana.
Maka Ari membuka matanya dan menunjukkan raut lesu. Ia memberi tatapan paham kepada Bara yang kemudian menanyai apa saja yang dipahami olehnya.
“Aku melihat diriku bisa melakukan banyak hal, bahkan merancang masa depan dengan cara menyusun banyak hal sesuai keinginanku. Memasang jebakan yang tak terduga untuk guru kelas dan lain-lain. Tapi aku tak bisa ke masa depan, aku tidak tahu caranya. Aku juga tidak bisa kembali ke masa lalu. Aku tidak tahu bagaimana cara menemukannya. Seperti nasi yang kubuat jadi bubur, tak mungkin bisa aku ubah jadi nasi kembali.”
Dan Bara mengangguk sepaham. Ia tenang bahwa sahabatnya itu ternyata mampu memahaminya. Dan selain itu ada satu lagi yang ingin disampaikannya. Sesuatu seperti rumus.
“E sama dengan m c kuadrat. Selain masalah itu, teori Relativitas Waktu juga punya konsekuensinya sendiri. Yakni besar Energi yang dikeluarkan sesuatu untuk bergerak, bergantung pada massanya. Sementara massa cahaya sangatlah ringan, kita tak bisa menimbangnya. Karena itu cahaya bisa sangat cepat. Sementara kita, massa tubuh kita adalah salah satu penghalang.” Bara menjelaskan dengan begitu fasihnya.
Ari hanya mencatat itu dalam buku sakunya. Ia menulis dua kunci kelemahan teori relativitas dalam menjelaskan mesin waktu adalah “Tidak adanya kejelasan letak dan cara mengakses masa lalu dan masa depan” serta “Energi yang perlu dikeluarkan tubuh manusia agar bisa bergerak sangat cepat”.
Dengan demikian, mereka memutuskan untuk berlanjut ke data selanjutnya. Yakni Lubang Hitam.
“Lubang Hitam atau yang sering disebut sebagai Black Hole adalah bagian dari ruang waktu yang merupakan gravitasi paling kuat, bahkan cahaya tidak bisa kabur. Apa kamu mengerti di bagian ini?” tanya Bara mengamati wajah temannya.
Ari hanya menampilkan senyum lebar dengan wajah polos.
“Aku mengerti sedikit,” katanya menjelaskan. Itu sudah cukup bagus bagi Bara untuk melanjutkan.
“Jadi bagian Lubang Hitam ini adalah pengembangan dari teori Relativitas Umum. Yang intinya, Lubang Hitam itu adalah sebuah medan yang menarik segala hal termasuk cahaya. Kecepatan cahaya di sana adalah nol, begitu juga benda apapun yang ada di dalam sana. Jadi jika kita berada di dalam Lubang Hitam, waktu akan berhenti bagi kita. Sementara dunia di luar lubang hitam akan terus berjalan seperti biasa.”
“Tunggu, seperti Ashabul Kahfi? Mereka tertidur di dalam gua selama 309 tahun tanpa mengalami penuaan. Lalu saat mereka keluar, mereka sudah berada di masa depan.” Ari menyela tepat di saat Bara menjeda. Laki-laki itu pernah mendengar cerita tentang Ashabul Kahfi dari gurunya. Karena kisah itu cukup menarik, jadi bisa dengan mudah menyangkut di kepalanya.
Sementara Bara mengangguk sambil berseringai. Dia senang mendapat rekan yang secepat Ari. Itu berarti dia bisa lebih cepat dalam menjelaskan isi pikirannya.
“Ya, ini seperti Ashabul Kahfi. Tapi teman-temanku tidak mengaitkan keduanya. Mereka hanya memberikan referensi tentang kisah ini dalam Alquran surah Al Kahfi. Padahal menurutku, keduanya punya konsep yang sama.”
“Ya, keduanya punya konsep yang sama.” Ari mengangguk menyetujui.
“Tapi tunggu!” katanya menjeda.
“Jadi, apakah Lubang Hitam itu terbuat dari gua?” tanyanya polos. Mendengar hal itu, Bara terlihat menahan tawa hingga ia melepasnya dengan cekikikan kecil. Ari sendiri mendecak ringan karena mendapat respons temannya yang seperti itu. Lebih-lebih, ia tak sabar ingin mendengar jawabannya.
“Maaf, maaf!” ucap Bara mengembalikan dirinya. Ia lantas menampilkan ekspresi serius dan mulai menjawab.
“Setelah aku cari tahu lebih jauh di internet, katanya Lubang Hitam ini bisa berbentuk mikroskopik atau bahkan berjuta-juta mil, membentuk suatu medan yang lebih besar dari matahari. Katanya, disebut hitam karena kemampuannya yang menarik segala macam benda.” Bara menjelaskan sambil mengidikkan bahu di bagian akhir. Tanda bahwa ia tak benar-benar paham dan memilih acuh pada detail tersebut. Sementara Ari tampak berpikir. Dan ia kemudian melontarkannya.
“Jadi, itu berarti, belum ada kejelasan soal cara menemukan Lubang Hitam ini atau ciri-ciri keberadaannya? Karena hitam hanya nama, itu berarti mereka tidak benar-benar tahu bagaimana bentuk dari Lubang Hitam itu sendiri.” Dia membuat kesimpulan sendiri. Dan Bara malah ikut menyetujuinya.
“Ya, sejauh yang kutelusuri, begitulah hasilnya. Dan itulah salah satu kelemahan Lubang Hitam ini. Belum ditemukan materi yang sesuai dengannya. Dan satu lagi, sekalipun ditemukan, dia hanya bisa mengantar kita ke masa depan. Tak bisa kembali ke masa lalu. Karena tidak sesuai dengan prinsip kerjanya.” Lagi-lagi Bara menjelaskan dengan fasihnya dan Ari langsung sigap mencatat kedua poin itu di dalam buku sakunya.
Melihat isi catatan itu, kemudian Bara bergegas melanjutkan ke data selanjutnya yang berkaitan erat dengan data tersebut, yakni TARDIS.
“Dan setelah mendapati kelemahan tersebut, orang-orang yang terobsesi dengan mesin waktu kemudian mengkhayalkan TARDIS. Itu adalah sebuah mesin waktu yang muncul di series Doctor Who.”
“Katanya, TARDIS itu singkatan dari Time And Relative Dimension In Space. Sistemnya seperti Lubang Hitam, tapi dalam bentuk ruangan. Kalau di seriesnya digambarkan seperti kotak telepon. Jadi waktu kita masuk ke sana, kita sudah tidak terpengaruh oleh waktu dan ruang. Perbedaannya dengan Lubang Hitam adalah bahwa di dalam TARDIS ini, kita bisa menentukan mau ke masa depan atau masa lalu. Jadi--”
“Seperti upgrade dari Lubang Hitam?!” seru Ari mendului Bara. Membuat keduanya sama-sama menahan geli. Ya, mereka sedang menertawai hasil pikiran orang lain meski mereka tahu bahwa itu adalah hal yang tidak baik.
“Seharusnya kita tidak menertawainya.”
“Tapi ini konyol!” sahut Ari lagi membuat keduanya semakin tergelak. Mereka pun kemudian melanjutkan dengan tanggapan tokoh agama mengenai hal ini.
“Kebanyakan menganggap bahwa ini adalah sebuah khayalan yang terlalu tinggi. Melambung terlalu jauh dan mustahil.” Bara membaca tulisan yang ada di tangannya. Sementara Ari hanya tersenyum menyetujui pikiran para tokoh agama tersebut.
Tentu saja mereka akan berkata seperti itu. Gagal dengan Lubang Hitam, sekarang mengkhayalkan mesin lain. Siapa yang tak akan tertawa? Lirih hatinya dengan wajah yang tak berhenti menyeringai kegelian.
“Tapi ada satu kata-kata dari internet yang menurutku cukup menarik.” Bara tiba-tiba membuat Ari harus menanggapi serius. Laki-laki itu segera memasang raut tegang sambil menunggu penjelasan temannya.
“Ada yang bilang, analogi dari TARDIS itu seperti seorang pembaca yang bebas mau memilih membaca buku dari halaman berapa mau kemana. Dan itu mengingatkan aku pada sebuah kitab di atas langit. Kitab yang katanya berisi takdir kita semua—”
“Kitab yang disebut Lauhul Mahfuz?” Lagi-lagi Ari memotong kata-kata Bara. Namun, pria itu tak tersinggung sama sekali. Ia malah menampilkan raut takjub.
“Ternyata kamu punya wawasan agama juga, yah, walaupun sering tawuran!” sahut laki-laki itu kemudian.
Jelas kata-kata itu membuat keduanya terkekeh garing. Lalu Ari membalas dengan sebuah pepatah yang berhasil membuatnya begitu percaya diri.
“Jangan menilai buku hanya dari sampulnya saja!” katanya dengan begitu bangga.
Maka Bara hanya menaikkan dagunya saja. Ia tak mau berlama-lama dan membuat temannya itu semakin bertingkah. Maka ia kembali menjelaskan bahwa menurutnya, konsep kedua hal tersebut adalah sama.
Sayangnya, membaca kitab sangat berbeda dengan mengalaminya. Lagipula, untuk dapat melihat isi Lauhul Mahfuz, seseorang harus mendapat rida dari Allah. Dan itu pasti butuh iman kuat.
“Jadi kesimpulan dari data yang satu ini adalah, bahwa masa lalu dan masa depan seharusnya sudah tersedia di alam, tinggal diakses. Kelemahannya sendiri adalah kenyataan bahwa belum ditemukannya materi untuk membuat alat tersebut.”
Lengkap, semua tercatat dalam catatan Ari. Setiap data dan kesimpulan berupa kelemahan dan poin-poin yang dibutuhkan untuk memenuhinya. Hingga mereka tiba ke data terakhir yang diangkat dalam tulisan di tangan Bara.
Data mengenai Chronovisor, sebuah mesin waktu buatan pendeta Vatikan bernama Ernetti. Mesin waktu yang tak membuat penjelajah waktunya harus masuk ke medan tertentu dan mengalami sendiri masa yang ingin dijelajahi.
“Mesin waktu yang hanya berupa kamera. Yang bisa mengambil gambar dan suara dari dunia di masa lalu. Yang mana menurut Ernetti, kejadian-kejadian di masa lalu berubah menjadi energi yang berpendar dan tersimpan di alam. Dan tugas Chronovisor adalah mengumpulkan energi-energi itu dan merangkainya kembali menjadi sebuah kejadian yang dapat terekam dan diambil gambarnya.”
Untuk penjelasan kali ini, Ari terdiam melongo. Ini seperti yang ia harapkan. Bahwa menjelajahi waktu tak berarti bisa mengubah kejadian di dalamnya. Kita hanya bisa melihatnya meskipun tak mengalaminya. Dan itu tidak akan membuat orang-orang menganggap bahwa dunia ini punya versi lain.
Bayangkan bila dunia ini ada banyak dan isinya juga sama saja. Apa tujuannya? Apa gunanya? Tak ada makhluk ciptaan Tuhan di dunia ini yang sia-sia. Bukankah menciptakan dunia alternatif yang paralel adalah sebuah pemborosan yang amat tak penting?
Tapi, ah, penting tak penting itu relatif. Lebih baik aku dengarkan penjelasan dari Bara saja.


0 Comments