Di laboratorium fisika, tiga orang pemuda masih duduk membahas sebuah fenomena tak biasa yang konon hanya dipercayai oleh sebagian masyarakat saja. Fenomena yang dianggap sebagai hal aneh karena sulit untuk dibuktikan. Dan kadang terlalu menakutkan karena sering berkaitan dengan bencana dan kematian. Fenomena itu disebut precognitive dream. Atau oleh anak-anak itu, disebut sebagai Mimpi yang Nyata.
Ari menyuruh Bara melanjutkan apa yang telah dimulainya. Membuat laki-laki itu terus menguatkan diri untuk tetap mencari penjelasan tentang yang terjadi pada dirinya sendiri. Dan setelah itu, Ari akan masuk dan mencoba membantunya. Sementara Andi hanya menjadi penonton. Menyimak semua pembicaraan mereka.
“Teori Frekuensi,” kata Bara tertahan, “adalah satu-satunya harapanku. Yang kutahu, ada peneliti yang menganggap bahwa seseorang dalam keadaan bermimpi boleh jadi memiliki kemampuan seperti burung-burung atau binatang yang bertebaran saat mendeteksi terjadinya gempa.”
“Mereka mengatakan bahwa bumi dalam keadaan normal mengeluarkan gelombang dengan frekuensi 7,83 hertz dan hewan-hewan terbiasa dengan itu. Sehingga ketika hendak terjadi pergeseran lempeng bumi, mereka bisa menangkap adanya perubahan pada frekuensi itu. Lalu pergi untuk menyelamatkan diri.”
“Katanya, boleh jadi manusia yang mengalami mimpi yang nyata juga seperti itu. Seperti hewan-hewan yang bisa menangkap perubahan frekuensi itu,” katanya menjeda setelah banyak menjelaskan. Ari kemudian menanggapi dengan menanyainya.
“Dan menurutmu?”
Bara menatap Ari dengan gelisah. Dia ragu apa itu benar atau tidak. Dan, walaupun benar, masih ada pertanyaan-pertanyaan lain yang akan membuntutinya. Bara pun menggeleng keras seolah melepaskan pikiran-pikiran kacaunya demi memusatkan konsentrasi. Dan dia mendapatkannya.
“Aku percaya,” katanya kemudian dengan menarik napas agak dalam. Andi memicingkan mata untuk lebih fokus mendengarkan penjelasan yang akan diungkapkan oleh pria itu.
“Aku percaya bahwa manusia juga bisa merasakan itu. Karena manusia mempunyai beberapa jenis gelombang otak. Salah satunya adalah gelombang Theta yang frekuensinya adalah sekitar 4 sampai 8 hertz. Dan gelombang tersebut banyak dihasilkan saat seseorang tertidur ringan dan banyak kondisi lainnya.”
“Dan itu cocok dengan kita yang mendapatkan mimpi itu saat tertidur,” ujar pria itu lega, tapi tertahan. Masih ada belenggu yang menghalangi dirinya. Dan itu adalah sebuah pertanyaan.
“Tapi aku tak mengerti dengan hal ini. Karena bila memang hanya itu alasannya, itu hanya membuktikan bahwa mendapat firasat sebelum gempa bumi adalah hal yang dapat dijelaskan. Tapi tidak dengan memimpikan masa depan. Ini sama dengan pertanyaan setelah teori itu: lantas, apakah masa depan memiliki frekuensinya sendiri dan bisa dilihat dari masa lalu?”
Bara terlihat mulai layu karena kebingungannya sendiri. Sejauh yang ia tahu, belum ada ilmuwan yang bisa menjawab pertanyaannya itu dengan baik. Belum ada yang benar-benar mampu. Dan itu seperti menghentikan langkahnya menyibak tabir dirinya sendiri. Sebuah kenyataan yang menyakitkan.
Namun, berbeda dengan Ari. Laki-laki itu perlahan mengusap pundak temannya. Dan memberi senyum hangat saat Bara menatap wajahnya. Dan ia pun menunjukkan berita gembira itu dengan kata-kata. Bahwa, mungkin mereka bisa menemukan ujung dari permasalahan ini.
“Karena semalam ibuku terlihat mengatakan hal yang sama denganmu. Beliau bilang, ‘Ini bergantung pada masa depan,’ dan pupilnya melebar saat mengatakan itu. Beliau kemudian mengatakan bahwa mesin waktu mungkin ada hubungannya dengan ini.”
Ari menjelaskan dengan begitu berbahagia. Bara menatapnya dengan penuh harapan. Dan Andi mengamati mereka dengan berbinar-binar. Lalu tiba-tiba bel masuk kelas berbunyi. Membuat mereka merehatkan kajian dan menundanya untuk nanti.
“Karena ini belum tentu berjalan mulus. Kita masih perlu menelusurinya. Ibuku tak mau memberitahuku tentang apa yang membuatnya berseringai. Aku menanyainya dengan desakan, tapi beliau bilang, hal itu terlalu berbahaya untuk kita. Aku tidak tahu apa maksud beliau, tapi kita akan menelusurinya sendiri. Bagaimana menurutmu?” tanya Ari pada Bara saat mereka berjalan menuju kelas.
Bara hanya menatapi pria itu dengan tatapan campur aduk. Kagum, senang, tapi juga khawatir. Khawatir pada bahaya yang dikatakan Ari. Apakah benar-benar berbahaya? Bagaimana bisa? Sejenak ia mengingat mimpinya semalam. Dan langsung menggelengkan kepalanya sendiri.
Tidak mungkin itu akan terjadi. Sekalipun begitu, takdir akan tetap menjadi takdir. Ia bergumam dalam hati. Dirinya harus menjadi lebih kuat agar tak bersedih dan membuat Ari khawatir.
Semoga tak terjadi apa-apa padanya! Pintanya kemudian, berharap Ari tak akan bersimbah darah seperti mimpinya semalam.
“Dan ternyata kita belum menghabiskan ini sedikit pun!” suara Ari terdengar nyaring dengan senyum menyengir sambil mengangkat kresek berisi camilan dan minuman ke depan mukanya. Mereka bahkan terlalu fokus pada pembahasan tadi meskipun makanan sudah terkumpul di depan mata.
Bara yang melihat itu hanya terkekeh kecil. Ia merasa akan sangat menyenangkan bila Ari menjadi saudaranya dan bisa menghiburnya seperti ini di rumah mereka. Tapi semua hanya harapan dan khayal, atau mungkin bisa disebut mimpi.
***
Setelah bel istirahat kedua berdering, Ari segera menghampiri Bara dan mengajaknya ke laboratorium. Sambil menenteng kresek berisi camilan yang tak kunjung berkurang, dia merangkul laki-laki itu sambil membahas tugas yang baru saja diberikan oleh Miss Nia, guru bahasa Inggris mereka.
Tugas tersebut meminta mereka membuat kelompok yang terdiri dari dua orang untuk kemudian membuat sebuah narrative text bersama. Karakter yang digunakan boleh yang sudah sering ada. Namun, akan sangat baik bila membuat karakter mereka sendiri.
Dengan demikian, Ari pun berharap bahwa Bara mau mengerjakan itu bersamanya. Bara menuliskan textnya dan Ari hanya menyumbang ide. Kontan, laki-laki itu mendapat jitakan dari lawan bicaranya. Namun, dia tak memprotes, dia hanya mengusap keningnya sebentar. Dan mulai membujuk lagi.
Katanya, “Aku akan menjadi adik yang patuh dan baik kalau kamu melakukannya!”
Bara pun menghela napas pasrah sambil memutar bola matanya malas. Ia kemudian mengangguk sebagai tanda persetujuan. Lalu tangannya menarik Ari untuk segera mempercepat langkahnya menuju lab.
Saat itu, baru Ari sadari bahwa di tangan Bara terdapat map plastik berisi beberapa lembar kertas yang diberi klip. Sejenak, ia merasa penasaran akan isi kertas-kertas itu. Lalu melangkah lebih cepat agar menemukan jawabannya lebih cepat.
Kini, di ruangan itu hanya ada Ari dan Bara yang ditemani oleh beberapa camilan dan minuman yang dua di antaranya sudah terbuka dan siap minum. Andi mengirimi mereka pesan bahwa dirinya harus mengikuti bimbel matematika sebagai persiapan untuk lomba mendatang.
Sementara sang paman, memang sedang berhalangan hadir karena harus membantu sang kakak—Prima, ayah dari Bara— dalam penelitiannya. Ari pun kemudian hanya menyesap minumannya sebelum kemudian mengatakan tak apa bila mereka hanya mengkajinya berdua. Toh, ketika ada sang paman dan Andi sekalipun, mereka tetap mengkajinya berdua.
“Jadi dari mana kita akan memulai kali ini?” kata pria itu kemudian beralih ke camilan dan membukanya. Ia kemudian menyodorkan pada Bara dan laki-laki itu mengambil beberapa agar perutnya tidak keroncongan.
“Mm ... kita akan memulai dari sini!” kata Bara menunjuk map plastik yang dia bawa tadi. Lalu tangannya kemudian bergerak mengeluarkan kertas-kertas dari dalam sana sambil mata Ari terus mengamatinya.
“Semalam aku diberikan ini oleh teman-temanku di remaja masjid kami. Mereka memintaku mempelajari ini dan membantu mereka membuat karya ilmiah soal mesin waktu. Katanya ada kontroversi terkait hal ini. Jadi mereka memutuskan agar aku menentukan kemana mereka harus bersikap,” jelas Bara membuat Ari bertanya penasaran.
“Memangnya kenapa mereka harus bergantung padamu? Apa mereka tidak takut bila terlalu menggantungkan diri pada satu orang tertentu?” tanyanya dengan wajah heran dan agak polos. Bara sendiri hanya membalasnya ringan dan santai.
“Mungkin seperti teman-temanmu yang selalu mengandalkan kamu saat mereka harus berkelahi. Kalau kamu tahu alasannya, maka aku juga tahu,” katanya lagi dan, ya, semua kertas itu akhirnya berada di hadapan mereka dan siap untuk digunakan dalam kajian ini.
Bara menatap Ari dengan senyumannya. Ia mulai menenangkan diri dan berharap bisa menemukan jawaban atas banyak pertanyaan mereka melalui kajian ini. Dan lawannya juga demikian.
“Yap, kita akan mulai membahas soal mesin waktu dan mencari hubungannya dengan masalah kita apa!” sahut laki-laki itu kemudian.
Mereka pun memulai dari pengantar bahwa persoalan mesin waktu telah banyak mengambil perhatian masyarakat, khususnya generasi remaja yang banyak disuguhi film-film soal mesin waktu yang digambarkan dengan begitu canggihnya.
Sementara sebagian alim mengatakan bahwa hal itu adalah sebuah kemustahilan karena akan melenceng dari sifat Tuhan yang Maha Berkehendak. Ya, bila takdir bisa diubah-ubah, siapa lagi yang akan disebut berkuasa? Tuhan? Tentu saja manusia akan mengelak.
Mendengar pendapat itu, ada sesuatu yang muncul begitu saja dalam benak Ari. Ia mempertanyakan soal mesin waktu dan keterkaitannya dengan pengubahan takdir.
Apakah kemunculan mesin waktu akan selalu membuat perubahan pada takdir? Katanya dalam hati. Dia sepertinya tak bisa menerima cara pandang itu.
Lalu mereka beralih ke data-data atau teori dan juga dalil yang bisa mendukung kemunculan mesin waktu ini. Teori-teori tersebut kemudian dilanjutkan dengan kelemahan mereka masing-masing yang membuat Ari bersiap dengan sebuah pena dan buku catatan kecil di sakunya. Itu adalah barang yang dibelikan oleh ibunya. Sebuah catatan saku bersampul kulit.
Data pertama adalah Teori Relativitas yang dikemukakan oleh Abert Einstein. Di sana dijelaskan bahwa teori relativitas menunjukkan bahwa semakin cepat seseorang bergerak, maka waktu baginya akan semakin lambat.
Ukuran cepat dan lambat ini sendiri bergantung pada kecepatan cahaya. Apabila seseorang dapat bergerak secepat cahaya, maka baginya, waktu itu seakan berhenti.
Teori relativitas ini sendiri, jika dilihat dengan persepsi Islam, akan sesuai dengan firman Allah dalam surah Al-Hajj (surat ke 22) ayat 47 dan surah As-Sajdah (surat ke 32) ayat 5.
Di sana dituliskan: Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu (Q.S As-Sajdah ayat 5)
Dan: ... Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu (Q.S Al-Hajj ayat 47).
Mendengar penjelasan itu, sontak Ari hanya melongo dengan takjub.
“Dan apakah tidak ada ilmuwan muslim yang menyadari isi ayat tersebut sebelum Einstein mengemukakan teorinya?” Dia berkata sambil menggeleng seolah masih tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
Bara sendiri hanya menjawab dengan kidikan bahu bahwa dirinya tak mengetahui apa jawaban dari pertanyaan itu. Saat ini mereka harus berlanjut pada kelemahan teori tersebut.


0 Comments