Bandung, Januari 2019
Sebuah kepalan tangan sedang melambung dari arah kanan, hendak menyentuh wajah seorang pemuda dengan keras. Terlihat seperti adegan slow motion dalam sesaat. Namun, kemudian, Bug! Semua kembali normal dan pemilik wajah itu harus meringis kesakitan.
Laki-laki itu meringis dengan tubuh miring ke kanan. Ujung kiri bibirnya mengeluarkan darah. Tangan kanan terlihat mengepal hendak memberikan tinju balasan.
Namun, laki-laki di depannya jauh lebih cepat. Sekali lagi tangannya melambung ke arah wajah pria malang itu. Kali ini hidungnya yang berdarah dan ia tak kuasa untuk tak tumbang ke atas tanah.
Ari, laki-laki dengan tinju cepat tersebut melihat sekeliling. Banyak pria seusianya sedang berkelahi di gang itu. Ada beberapa yang membawa senjata. Ada pula yang datang dengan tangan kosong, seperti dirinya dan orang yang baru saja ia tumbangkan.
Sejenak mengamati, datang seseorang ke hadapannya. Hendak melayangkan tinju seperti yang dia lakukan tadi. Namun, mata tajam milik Ari seakan sudah terbiasa, gerak tangan orang itu bagaikan melambat di hadapannya.
Sekarang saatnya Ari menahan kepalan tangan itu dan menariknya dengan gerakan seperti profesional. Dalam sekejap, ia sudah berdiri di belakang lawan. Memelintir dan mengunci tangan itu di sana. Lalu menendang laki-laki itu hingga tersungkur ke atas tanah.
Melihat temannya dihajar begitu saja, salah seorang dari kubu lawan terlihat datang dari sisi kanan. Tangannya menggenggam sabit sambil berancang untuk diayunkan. Namun, tak masuk dalam perkiraan, Ari justru memasang kuda-kuda dan dengan tepat menendang perutnya saat ia berlari mendekat.
Kini pria itu terpaksa berbaring di atas tanah dengan sebelah tangan memegangi perut dan sebelahnya lagi diinjak oleh Ari. Pria muda yang pandai berkelahi itu membuat tangan lawannya terpaksa melepas senjata yang dipegang. Ia lantas mengambil sabit itu dan mencari calon korban lain yang bisa dipastikan akan menelan kekalahan mereka mentah-mentah.
Sayang, belum sempat ia melayangkan serangan sabitnya, suara sirene mobil polisi membuat Ari dan teman-teman terpaksa berlari dari tempat kejadian. Sialnya, usaha mereka itu tidak membuahkan hasil saat beberapa orang guru terlihat sudah berdiri mengepung jalan-jalan pelarian.
Kali ini, tak ada pilihan lain selain mengikuti angkutan mobil polisi. Ya, sebebal apa pun dirinya, tak berarti dia akan berkelahi dengan guru-gurunya sendiri.
Dan di sinilah mereka. Duduk malas menanti kedatangan wali masing-masing untuk dibawa pulang. Beberapa di antaranya ada yang sedang berdiri diceramahi para polisi sambil ditemani ayah ibu. Ada yang hanya dijemput oleh pembantunya. Ada pula yang dijemput oleh kakak mereka. Dan Ari, ia sedikit kaget saat melihat sang ibu datang dengan pakaian kantornya.
“Ari Wijaya?” tanya wanita itu dengan pura-pura tenang pada seorang polisi. Ari tampak bangkit dan segera mengambil alih untuk menjawab pertanyaan ibunya itu.
“Aku di sini,” katanya sambil mendekat ke arah mereka.
Wanita yang hampir masuk usia kepala empat itu terdiam. Menatap putranya dalam-dalam sambil mendamaikan napas yang tersemat di dada. Gejolak geram dalam hatinya tampak jelas menyala di kedua mata. Rahang yang tercetak jelas memberitahu orang lain bahwa dirinya adalah perempuan yang sangat tegas.
Namun, Ari sebagai anaknya sama sekali tak peduli akan hal itu. Dia masih melangkahkan dirinya mendekati sang ibu yang sedang berdiri di hadapan seorang polisi. Dan dengan santainya dia melayangkan tanya yang begitu saja keluar dari mulutnya.
“Apa saya sudah boleh pulang?” Remaja itu berkata dengan nada yang terlihat mengganggu sang ibu.
Mata dewasa itu memandang wajah si pemuda dengan geram meski tak dihiraukan oleh si pemilik wajah. Dalam sepersekian detik, ia menyadarkan diri dan menanyakan apakah dirinya boleh membawa putranya pulang. Dan sang polisi yang sejak tadi hanya diam mengamati tampak tak sempat berbuat apa-apa selain mengangguk.
Lepas kedua orang itu pergi, barulah petugas itu sadar bahwa yang seharusnya ia lakukan adalah memberikan ceramah terlebih dulu. Kini dua orang itu telah pergi, dia hanya bisa menghela napas kasar tanda pasrah.
Ida, perempuan dewasa yang bekerja sebagai peneliti di sebuah lembaga swasta, sedang membukakan pintu mobil untuk sang anak. Sementara Ari, pemuda berusia 15 tahun yang merupakan anaknya itu, hanya berdiri tanpa terlihat ingin memasuki mobil. Dia menantang dan tak ingin pulang. Belum. Dan itu membuat udara di antara mereka terasa semakin tegang.
“Masih ingin membebani hidup orang lain?” itulah kata-kata yang dilontarkan Ida kepada anaknya.
Mata pemuda itu menatap tajam ke arah sang ibu. Wajah coklat terang miliknya berubah merah padam menahan amarah yang berdenyut-denyut. Ada sedikit harapan dalam hatinya sebelum ini. Harapan bahwa wanita itu akan mencoba dengan lembut. Namun, tak ada yang seperti itu. Dan seharusnya dia sudah tahu. Hanya saja, dia masih tetap berharap.
“Aku harus mengambil tasku dulu,” ucap pria itu kemudian. Ia mengucapkannya dengan lirih dan melonggarkan lehernya yang terasa sesak oleh amarah.
Sang ibu semakin melebarkan pintu mobil sebagai isyarat agar anaknya tetap masuk. Rupanya di dalam sana, di bangku belakang mobil, sudah tergeletak sebuah ransel hitam yang biasa Ari bawa ke sekolah.
Ari tak perlu lagi ke sekolah sebab ibunya sudah mampir ke sana sebelum sampai di sini. Dan tak hanya ransel hitam itu yang dia dapatkan dari sekolah sang anak. Di atas dashboard mobilnya juga sudah ada selembar surat yang terbungkus amplop putih. Berbaring begitu saja seperti tak dihiraukan.
Ari yang melihat isi bangku belakang mobil ibunya lantas menarik napas dalam dan menurut masuk ke dalam sana. Sang ibu mengambil tempat di belakang kemudi dan bergegas menginjak gas menuju rumah mereka. Suasana sepanjang jalan hanya terdengar keheningan di dalam mobil.
Ari lebih memilih membaringkan tubuhnya dan mengalas kepala dengan ransel di bangku belakang. Sesekali terdengar dering ponsel Ida yang sudah pasti datang dari kantornya. Dan itu sudah seperti makanan wajib yang harus ditelan mentah-mentah oleh Ari setiap kali ia menghabiskan waktu bersama sang ibu.
Ari mengembuskan napas kasar. Ia kembali teringat pertengkarannya dengan Ida beberapa hari lalu. Pertengkaran yang sebenarnya tak beralasan kuat. Namun, ampuh membuatnya minggat dari rumah mereka.
“Apa ibu tak pernah menginginkan aku ada? Apa aku hanya anak pungut? Atau jangan-jangan hasil perkosaan?”
Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Ari. Ia sendiri terkejut mendengar kata-katanya itu. Sayang, dia telah dimakan emosi. Tak ada niatan darinya untuk merendah dan meminta maaf.
Dan dalam sepersekian detik, sesuatu yang tak terkendali kembali terjadi. Kali ini giliran Ida. Ia menampar putra semata wayang-nya sambil meneteskan air mata.
Ari memandanginya dengan tak percaya. Sebelah tangannya menyentuh pipi yang terkena tamparan lima jari. Panas, perih. Namun, sakit di dalam hatinya jauh lebih parah. Dan sang ibu tak jua meminta maaf. Justru hanya kata-kata yang lebih buruk yang keluar dari mulutnya.
“Harusnya aku tak pernah melahirkanmu.”
Lagi-lagi, air mata menetes begitu saja. Kata-kata itu keluar dengan menyakitkan. Kali ini, bukan hanya Ida yang meneteskan air mata, Ari juga. Namun, ia tak sekuat Ida yang masih berdiri tegar, diam di posisinya.
Ari menggeleng kecil tak percaya. Lampu temaram di rumahnya tak mampu menghentikan langkahnya untuk pergi. Suara hentakan pintu yang ditutup meninggalkan rumah itu dengan lengang. Berisi Ida dengan tangisannya. Ditinggal Ari yang berlari tanpa tujuan.
Ari membenarkan posisi tidur. Rem mobil yang sesekali terinjak membuat posisi nyamannya terganggu. Ia kembali mengingat teman baiknya, Deni, yang sempat mengijinkannya menginap untuk beberapa hari ini. Dia tadi kembali tanpa sempat berterima kasih pada pemuda itu.
“Ya, sudahlah, besok saja,” gumamnya dalam hati.
Ari kemudian melanjutkan tidur hingga ia merasa mobil milik ibunya tak lagi bergerak dan mesinnya berhenti menderu. Mereka sudah sampai di rumah dan ibunya sudah membukakan pintu mobil untuknya.
Ari menunjukkan raut malas. Bibirnya dimanyunkan dengan kecut sembari berhambur keluar dari mobil. Ia menatap rumah biasa bercat putih tulang dengan atap genteng berwarna khas merah bata. Rumah yang beberapa hari lalu sempat ia sumpahi. Yang ia janjikan tak akan pernah dijejakinya lagi.
“Apa kamu sudah makan?” tanya Ida yang hanya dibalas tatapan sepintas oleh putranya.
Bukan tak beralasan. Ida memang jarang memperlakukan Ari seperti itu. Sebelum ini, waktunya lebih banyak dihabiskan dengan pekerjaan. Selain itu, sudah menjadi rahasia bersama bahwa Ida tak pandai memasak. Lalu untuk apa ia bertanya soal jadwal makan anaknya kali ini? Untuk dipesankan nasi buatan orang lain?
Ari melangkah begitu saja menuju pintu rumahnya. Sebuah kunci antik berwarna tembaga ia keluarkan dari kolong salah satu pot bunga yang menjaga di sisi-sisi pintu. Ida memandangi itu dengan melepas beban menggunakan napas beratnya. Tangannya terlihat lincah menekan-nekan ponsel untuk memesan makanan.
Kini Ari masuk lebih dalam ke ruang tengah rumahnya. Suasana lengang dan hening langsung menyeruak menyambut anak itu. Suasana yang cukup kejam untuk jiwa muda sepertinya. Kadang, ia membenci rumahnya karena ini. Dan ia lebih memilih menghabiskan waktu di kamar alih-alih duduk sendiri di ruang tengah yang gelap ini. Setidaknya, di dalam sana ada teman yang biasa menemaninya. Ya, walau bukan manusia.
Klok... Cklk...
Ari menutup dan mengunci pintu kamarnya dari dalam. Ibunya memperingatkan untuk makan dulu sebelum tidur atau apa pun yang hendak dia lakukan di dalam kamar. Namun, itu bukan sesuatu yang akan dia indahkan.
Laki-laki itu memandang sekeliling kamar yang beberapa hari ini tak dilihatnya. Melempar ransel ke atas kasur dan meninju sedikit ke punggung sebuah boneka tergantung di dalam ruangan. Ia menarik sosok boneka itu hingga menghadapnya. Lalu mengajaknya bicara.
“Apa kabar, Tuan Pendiam?” tanyanya sambil menyeringai.
“Masih betah jadi pendiam?” katanya lagi sambil terkekeh.
“Baiklah, aku akan melayanimu!” sahutnya sambil membeberkan senyum sesegar mungkin.
Dan jadilah dia bermain tinju dengan boneka itu. Bermain dan berlatih hingga ia semahir tadi—saat dia berkelahi. Menghempaskan segala kekesalannya melalui tinju dan tendangan. Dan membuat dirinya lega bermandikan keringat pengap.