Sebuah
kepalan tangan sedang melambung dari arah kanan, hendak menyentuh wajah seorang
pemuda dengan keras. Terlihat seperti adegan slow motion dalam sesaat. Namun, kemudian, Bug! Semua kembali normal
dan pemilik wajah itu harus meringis kesakitan.
Laki-laki
itu meringis dengan tubuh miring ke kanan. Ujung kiri bibirnya mengeluarkan
darah. Tangan kanan terlihat mengepal hendak memberikan tinju balasan.
Namun,
laki-laki di depannya jauh lebih cepat. Sekali lagi tangannya melambung ke arah
wajah pria malang itu. Kali ini hidungnya yang berdarah dan ia tak kuasa untuk
tak tumbang ke atas tanah.
Ari,
laki-laki dengan tinju cepat
tersebut
melihat sekeliling. Banyak pria seusianya sedang berkelahi di gang itu. Ada
beberapa yang membawa senjata. Ada pula yang datang dengan tangan kosong,
seperti dirinya dan orang yang baru saja ia tumbangkan.
Sejenak
mengamati, datang seseorang ke hadapannya. Hendak melayangkan tinju seperti
yang dia lakukan tadi. Namun, mata tajam milik Ari seakan sudah terbiasa, gerak
tangan orang itu bagaikan melambat di hadapannya.
Sekarang
saatnya Ari menahan kepalan tangan itu dan menariknya dengan gerakan seperti
profesional. Dalam sekejap,
ia sudah berdiri di belakang lawan. Memelintir dan mengunci tangan itu di sana.
Lalu menendang laki-laki itu hingga tersungkur ke atas tanah.
Melihat
temannya dihajar begitu saja, salah seorang dari kubu lawan terlihat datang
dari sisi kanan. Tangannya menggenggam sabit sambil berancang untuk diayunkan. Namun,
tak masuk dalam perkiraan, Ari justru memasang kuda-kuda dan dengan tepat
menendang perutnya saat ia berlari mendekat.
Kini
pria itu terpaksa berbaring di atas tanah dengan sebelah tangan memegangi perut
dan sebelahnya lagi diinjak oleh Ari. Pria muda yang pandai berkelahi itu
membuat tangan lawannya terpaksa melepas senjata yang dipegang. Ia lantas
mengambil sabit itu dan mencari calon korban lain yang bisa dipastikan akan
menelan kekalahan mereka mentah-mentah.
Sayang,
belum sempat ia melayangkan serangan sabitnya, suara sirene mobil polisi
membuat Ari dan teman-teman terpaksa berlari dari tempat kejadian. Sialnya,
usaha mereka itu tidak membuahkan hasil saat beberapa orang guru terlihat sudah
berdiri mengepung jalan-jalan pelarian.
Kali
ini, tak ada pilihan lain selain mengikuti angkutan mobil polisi. Ya, sebebal
apa pun dirinya, tak berarti dia akan berkelahi dengan guru-gurunya sendiri.
Dan di sinilah mereka.
Duduk malas menanti kedatangan wali masing-masing untuk dibawa pulang. Beberapa
di antaranya ada yang sedang berdiri diceramahi para polisi sambil ditemani
ayah ibu. Ada yang hanya dijemput oleh pembantunya. Ada pula yang dijemput oleh
kakak mereka. Dan
Ari, ia sedikit kaget saat melihat sang ibu datang dengan pakaian kantornya.
“Ari Wijaya?” tanya
wanita itu dengan
pura-pura tenang pada
seorang polisi. Ari tampak bangkit dan segera mengambil alih untuk menjawab
pertanyaan ibunya itu.
“Aku di sini,” katanya
sambil mendekat ke arah mereka.
Wanita yang hampir masuk
usia kepala empat itu terdiam. Menatap putranya dalam-dalam sambil mendamaikan
napas yang tersemat di dada. Gejolak geram dalam hatinya tampak jelas menyala di kedua mata.
Rahang yang tercetak jelas memberitahu orang lain bahwa dirinya adalah
perempuan yang sangat tegas.
Namun, Ari sebagai
anaknya sama sekali tak peduli akan hal itu. Dia masih melangkahkan dirinya
mendekati sang ibu yang sedang berdiri di hadapan seorang polisi. Dan dengan
santainya dia melayangkan tanya yang begitu saja keluar dari mulutnya.
“Apa saya sudah boleh
pulang?” Remaja itu berkata dengan nada yang
terlihat mengganggu sang ibu.
Mata dewasa itu memandang
wajah si pemuda dengan geram meski tak dihiraukan oleh si pemilik wajah. Dalam sepersekian detik, ia menyadarkan diri dan menanyakan apakah dirinya boleh
membawa putranya pulang. Dan
sang polisi yang sejak tadi hanya diam mengamati tampak tak sempat berbuat
apa-apa selain mengangguk.
Lepas kedua orang itu
pergi, barulah petugas itu sadar bahwa yang seharusnya ia lakukan adalah
memberikan ceramah terlebih dulu. Kini dua orang itu telah pergi, dia hanya
bisa menghela napas kasar tanda pasrah.
Ida, perempuan dewasa
yang bekerja sebagai peneliti di sebuah lembaga swasta, sedang membukakan pintu
mobil untuk sang anak. Sementara Ari, pemuda berusia 15 tahun yang merupakan
anaknya itu, hanya berdiri tanpa terlihat ingin memasuki mobil. Dia menantang
dan tak ingin pulang. Belum. Dan itu membuat udara di antara mereka terasa semakin tegang.
“Masih ingin membebani
hidup orang lain?” itulah
kata-kata yang dilontarkan Ida kepada anaknya.
Mata pemuda itu menatap
tajam ke arah sang ibu. Wajah coklat terang miliknya berubah merah padam menahan amarah yang
berdenyut-denyut. Ada sedikit harapan dalam hatinya sebelum ini. Harapan bahwa wanita itu akan mencoba dengan lembut. Namun,
tak ada yang seperti itu. Dan seharusnya dia sudah tahu. Hanya saja, dia masih tetap
berharap.
“Aku harus mengambil
tasku dulu,” ucap pria itu kemudian. Ia mengucapkannya dengan lirih dan
melonggarkan lehernya yang terasa sesak oleh
amarah.
Sang ibu semakin
melebarkan pintu mobil sebagai
isyarat agar anaknya tetap masuk. Rupanya di dalam sana, di bangku belakang
mobil, sudah tergeletak sebuah
ransel hitam yang biasa Ari bawa ke sekolah.
Ari tak perlu lagi ke
sekolah sebab ibunya sudah mampir ke sana sebelum sampai di sini. Dan tak hanya
ransel hitam itu yang dia dapatkan dari sekolah sang anak. Di atas dashboard mobilnya juga sudah ada selembar surat yang terbungkus
amplop putih. Berbaring begitu saja seperti tak dihiraukan.
Ari yang melihat isi
bangku belakang mobil ibunya lantas menarik napas dalam dan menurut masuk ke
dalam sana. Sang ibu mengambil tempat di belakang kemudi dan bergegas menginjak
gas menuju rumah mereka. Suasana sepanjang jalan hanya terdengar keheningan di
dalam mobil.
Ari lebih memilih
membaringkan tubuhnya dan mengalas kepala dengan ransel di bangku belakang.
Sesekali terdengar dering ponsel Ida yang sudah pasti datang dari kantornya. Dan itu sudah seperti makanan wajib
yang harus ditelan mentah-mentah oleh Ari setiap kali ia menghabiskan waktu
bersama sang ibu.
Ari mengembuskan napas
kasar. Ia kembali teringat pertengkarannya dengan Ida beberapa hari lalu.
Pertengkaran yang sebenarnya tak beralasan kuat. Namun, ampuh membuatnya
minggat dari rumah mereka.
“Apa
ibu tak pernah menginginkan aku ada? Apa aku hanya anak pungut? Atau
jangan-jangan …
hasil perkosaan?”
Kata-kata itu keluar begitu
saja dari mulut Ari. Ia sendiri terkejut mendengar kata-katanya itu. Sayang,
dia telah dimakan emosi. Tak ada niatan darinya untuk merendah dan meminta
maaf.
Dan dalam sepersekian
detik, sesuatu yang tak terkendali kembali terjadi. Kali ini giliran Ida. Ia
menampar putra semata wayang-nya
sambil meneteskan air mata.
Ari memandanginya dengan
tak percaya. Sebelah tangannya menyentuh pipi yang terkena tamparan lima jari.
Panas, perih. Namun, sakit di dalam hatinya jauh lebih parah. Dan sang ibu tak
jua meminta maaf. Justru hanya kata-kata yang lebih buruk yang keluar dari
mulutnya.
“Harusnya aku tak pernah
melahirkanmu.”
Lagi-lagi, air mata
menetes begitu saja. Kata-kata itu keluar dengan menyakitkan. Kali ini, bukan
hanya Ida yang meneteskan air mata, Ari juga. Namun, ia tak sekuat Ida yang
masih berdiri tegar, diam di posisinya.
Ari menggeleng kecil tak
percaya. Lampu temaram di rumahnya tak mampu menghentikan langkahnya untuk
pergi. Suara hentakan pintu yang ditutup meninggalkan rumah itu dengan lengang.
Berisi Ida dengan tangisannya. Ditinggal Ari yang berlari tanpa tujuan.
Ari membenarkan posisi
tidur. Rem mobil yang sesekali terinjak membuat posisi nyamannya terganggu. Ia
kembali mengingat teman baiknya, Deni, yang sempat mengijinkannya menginap
untuk beberapa hari ini. Dia tadi kembali tanpa sempat berterima kasih pada
pemuda itu.
“Ya,
sudahlah, besok saja,” gumamnya dalam hati.
Ari kemudian melanjutkan
tidur hingga ia merasa mobil milik ibunya tak lagi bergerak dan mesinnya
berhenti menderu. Mereka sudah sampai di rumah dan ibunya sudah membukakan
pintu mobil untuknya.
Ari menunjukkan raut
malas. Bibirnya dimanyunkan dengan kecut sembari berhambur keluar dari mobil.
Ia menatap rumah biasa bercat putih tulang dengan atap genteng berwarna khas
merah bata. Rumah yang beberapa hari lalu sempat ia sumpahi. Yang ia janjikan tak akan pernah
dijejakinya lagi.
“Apa kamu sudah makan?”
tanya Ida yang hanya dibalas tatapan sepintas oleh putranya.
Bukan tak beralasan. Ida
memang jarang memperlakukan Ari seperti itu. Sebelum ini, waktunya lebih banyak
dihabiskan dengan pekerjaan. Selain itu, sudah menjadi rahasia bersama bahwa
Ida tak pandai memasak. Lalu untuk apa ia bertanya soal jadwal makan anaknya
kali ini? Untuk dipesankan nasi buatan orang lain?
Ari melangkah begitu saja
menuju pintu rumahnya. Sebuah kunci antik berwarna tembaga ia keluarkan dari
kolong salah satu pot bunga yang menjaga di sisi-sisi pintu. Ida memandangi itu
dengan melepas beban menggunakan napas beratnya. Tangannya terlihat lincah
menekan-nekan ponsel untuk memesan makanan.
Kini Ari masuk lebih
dalam ke ruang tengah rumahnya. Suasana lengang dan hening langsung menyeruak
menyambut anak itu. Suasana yang cukup kejam untuk jiwa muda sepertinya. Kadang, ia membenci rumahnya karena ini. Dan
ia lebih memilih menghabiskan waktu di kamar alih-alih duduk sendiri di ruang
tengah yang gelap ini. Setidaknya, di dalam sana ada teman yang biasa menemaninya.
Ya, walau bukan manusia.
Klok... Cklk...
Ari menutup dan mengunci
pintu kamarnya dari dalam. Ibunya memperingatkan untuk makan dulu sebelum tidur
atau apa pun yang hendak dia
lakukan di dalam kamar. Namun, itu bukan sesuatu yang akan dia indahkan.
Laki-laki itu memandang
sekeliling kamar yang beberapa hari ini tak dilihatnya. Melempar ransel ke atas
kasur dan meninju sedikit ke punggung sebuah boneka tergantung di dalam
ruangan. Ia menarik sosok boneka itu hingga menghadapnya. Lalu mengajaknya
bicara.
“Apa kabar, Tuan Pendiam?” tanyanya sambil
menyeringai.
“Masih betah jadi
pendiam?” katanya lagi sambil terkekeh.
“Baiklah, aku akan
melayanimu!” sahutnya sambil membeberkan senyum sesegar mungkin.
Dan jadilah dia bermain
tinju dengan boneka itu. Bermain dan berlatih hingga ia semahir tadi—saat dia
berkelahi. Menghempaskan segala kekesalannya melalui tinju dan tendangan. Dan
membuat dirinya lega bermandikan keringat pengap.


0 Comments