Sore pada keesokan harinya, rumah Ari tampak sibuk. Beberapa remaja tengah membantu Ari dan ibunya untuk memasukkan barang ke mobil pindahan. Sempat Ari tak ingin memberitahu mereka waktu kepergiannya. Namun, para remaja itu telah datang di waktu yang tepat. Ya, begitulah cara mereka mengingat satu sama lain.
Hingga semua berakhir, mereka berbondong-bondong menyalami dan memeluk Ari—sekali lagi setelah semalam. Ari sendiri hanya bisa tersenyum, padahal dia bisa saja sering-sering bermain kemari pikirnya. Namun, begitulah, mereka sudah terbiasa menghabiskan pagi hingga malam bersama. Kini semua akan terasa berbeda.
“Apa Tante tidak bisa menolak keputusan pindah kerja itu?” tanya salah seorang dari mereka di tengah suasana perpisahan yang mengacaukan hati.
Pertanyaan itu tepat sasaran pada Ida. Sementara wanita itu mulai berpikir, kenapa urusannya ada pada pindah kerja? Sedangkan dirinya sama sekali tidak ada menyebutkan perihal itu. Namun, saat ia melirik wajah anaknya yang tegang, Ida mulai paham dengan kondisi tersebut.
Perempuan yang biasanya kasar itu pun mencoba menampilkan senyum lemah.
“Itu adalah keputusan yang sulit. Tapi tenang saja, pasti kapan-kapan, Tante akan izinkan Ari bermain ke sini. Kalian juga boleh main ke rumah kalau mau.”
Jawaban itu hanya disambut pasrah oleh teman-teman Ari. Namun, juga tak menjadi begitu buruk dengan kata-kata penghibur yang dilontarkan oleh Ida. Mereka pun kemudian benar-benar harus berpisah saat mobil pindahan sudah mulai berangkat.
Ari dan Ida terlihat masuk ke dalam mobil mereka. Setelah suara deru mesin menyala, mereka pun mulai menjauh dan membuat penampakan teman-teman Ari menjadi semakin kecil. Hingga akhirnya, Ari sudah tak bisa melihat mereka lagi.
Begitulah penampakan sesuatu yang ditinggalkan. Semakin lama akan semakin mengecil hingga tak terlihat lagi. Berbeda dengan penampakan yang akan datang. Semakin lama, penampakannya akan semakin jelas. Dan Ari berharap, penampakan kebahagiaannya dengan sang ibu juga akan semakin jelas ke depannya.
Untuk menghibur sang anak, entah kenapa Ida merasa ada baiknya dia memberikan hadiah yang didapatnya kemarin dari sekolah sang putra. Selembar amplop yang sejak kemarin dibiarkannya berada di atas dashboard mobil kemudian diambilnya. Lalu ia memberikannya pada Ari yang sedang duduk agak bersedih di bangku belakang.
“Mungkin bisa menghibur kamu. Terserah mau kamu apakan,” ucap Ida ringan sambil menyodorkan surat itu dengan tangan kiri.
Ari yang mendapati itu hanya menampilkan raut heran dan mengambilnya dengan ragu. Ia tak punya ide soal isi amplop itu. Maka dengan cepat tangannya mengeluarkan kertas dari dalam sana.
“SURAT KEPUTUSAN,” Ari membaca dalam hati.
Ini, dia berhenti sejenak dan langsung membaca bagian inti surat.
“Dengan ini kami memutuskan bahwa siswa: nama: Ari Wijaya ... Dikeluarkan dari SMA Taruna karena telah melanggar ... Hahaha,” Ari tertawa sendiri dalam hatinya. Ia tak menyangka bahwa ibunya pandai berkelakar. Remaja itu pun kemudian menyobek surat dan memasukkannya ke dalam ransel.
“Nanti akan aku satukan kembali dan akan aku bingkai jadi pigura. Jarang-jarang ada orang yang bisa mendapat prestasi seperti ini,” katanya tenang yang diikuti gelak tawa ibunya. Beberapa saat Ida tertawa, ia berhenti. Lalu menatap anaknya dan entah bagaimana, tawa keduanya kembali pecah.
Sulit rasanya bagi Ari memahami tingkah ibunya yang susah ditebak. Padahal baru kemarin ia mengucapkan “Sampai jumpa besok!” pada putranya sendiri. Hari ini dia malah menjadikan surat Drop Out anaknya sebagai guyonan.
Ah, mungkin ibu termasuk pelawak kategori paling unik di dunia. Sudahlah. Akan kupikirkan kapan-kapan lagi untuk bisa memahaminya.
Dan dengan demikian, Ari pun mulai fokus pada pemandangan jalanan. Ia begitu tenang mengamati orang-orang, bangunan dan properti-properti jalanan yang mereka lewati. Kadang ia berpikir ingin bergabung dengan orang-orang itu. Mencari tahu kenapa mereka tertawa, cemberut dan lainnya.
Tak terasa, mobil itu pun telah sampai di depan rumah baru Ida dan Ari. Udara yang sejuk dengan cepat menyambut wajah mereka saat keduanya melangkah keluar dari dalam mobil.
Pemandangan hijau yang memanjakan mata memenuhi halaman rumah. Cat rumah yang dominan berwarna oranye dan coklat tua pun membuatnya terlihat semakin natural. Dan dari dalam sana, seseorang yang terlihat seperti tukang kebun tampak berjalan keluar untuk menyambut mereka.
“Ah, Bu Ida, Ari! Selamat datang! Saya Jaka, tukang kebun yang dulu kerja di sini. Bu Endang menyuruh saya mengantarkan kunci,” sambut lelaki tua yang sudah beruban tersebut.
“Iya, Pak, terima kasih! Aduh, Bapak seharusnya tidak perlu repot-repot. Kami bisa mengambilnya ke rumah Bapak. Soal kebun, kami juga bisa bersihkan sendiri, Pak,” sahut wanita kepala empat itu berbasa-basi. Kata-katanya jelas membuat sang anak keheranan.
Apa iya ibu bisa berkebun? Tanpa bisa memasak? Ah, mungkin ibu seorang tomboi? Ah, tidak-tidak. Abaikan! Itu pasti hanya basa-basi.
Lantas mereka pun segera memulai memindahkan barang. Rupanya tak hanya kebun. Setelah menyalami Ida dan Ari, Pak Jaka juga kemudian memanggil istrinya, Bu Halimah yang sedang bebersih di dalam rumah. Hasilnya, kini Ida dan Ari hanya perlu menata isi rumah mereka tanpa perlu repot-repot membersihkan lagi.
Dan begitulah. Setelah beberapa puluh menit memindahkan barang, Bu Halimah pun datang membawakan beberapa panci makanan.
“Sekalian syukuran juga!” sahutnya yang diikuti tatapan hening dari Ida. Perempuan itu tentu menebak bahwa semua ini ulah adiknya. Endang pasti sudah menyuruh kedua orang ini menyiapkan segalanya untuk mereka.
Lantas mereka pun tak membuang waktu, setelah makan dan didoakan, akhirnya Ida dan Ari bisa menikmati rumah baru mereka dengan leluasa.Suasana lengang pun dengan sendirinya tercipta setelah kepergian Pak Jaka dan Bu Halimah serta para petugas jasa pindahan yang mereka gunakan.Kini anak dan ibu itu bersiap tidur dan esoknya, mereka siap memulai aktivitas baru.
***
Ari terbangun di pagi buta. Baru saja azan subuh dikumandangkan. Dalam hati, setelah sekian lama mengabaikan, rasanya ia ingin saja memenuhi panggilan itu.
Tapi, apa tak apa? Gumamnya dalam hati.
Ah, ini kan tempat baru, tak ada yang mengenalku. Akan sangat baik kalau aku bisa memulai dengan lebih baik.Ia bergumam lagi. Membantah keraguannya sendiri.
Ari pun kemudian mengambil kopiah yang ia simpan dalam lemari. Agar tidak terlambat di hari pertamanya, laki-laki itu memilih pergi dengan pakaian seadanya dulu.
Yang penting ada kopiah. Dan Ari pun berhasil mendapatkan salat subuh pertama di lingkungan barunya dengan cukup khusyuk. Beberapa menit ia habiskan setelah salat untuk beristighfar semampunya. Kemudian remaja itu kembali ke rumah untuk bersiap-siap ke sekolah barunya.
“Sudah pulang?” tanya sang ibu dengan mukena di tubuhnya. Rupanya ia sempat melihat putranya pergi membawa kopiah.
Menyadari anaknya yang salat, wanita itu juga ikut-ikutan salat, meski hanya sendirian di rumahnya. Lantas pemandangan itu pun membuat Ari terharu. Ia merasa hari-hari akhir ini, terasa berubah jadi sangat baik.
Hatinya bahkan sempat berharap bisa dikeluarkan dari sekolah lebih cepat. Ari merasa bahwa kepindahannya ini adalah sebuah anugerah dalam hidupnya.
Mobil Ida berhenti di depan sekolah baru Ari. Remaja itu turun dan menyalami ibunya di dalam mobil. Mulai hari ini, mereka akan mencoba hal yang sama setiap harinya. Karena mereka terlihat sangat harmonis dalam keadaan ini.
Mobil Ida melaju kembali hingga tampak semakin kecil di mata Ari. Laki-laki itu telah diberitahu bahwa kepindahannya telah diurus oleh kolega sang ibu. Kolega itu pulalah yang sedang dituju Ida untuk mencari informasi soal pekerjaan baru.
Sejenak, Ari mengembus napas untuk menerawang sekolah itu dari luar. Ada perasaan sedikit gugup dalam dadanya mengingat hari pertamanya di sekolah baru ini. Namun, itu tak menjadikannya pemalu, ia menghentakkan kaki dan mulai melangkah mantap ke dalam sana.
SMA PURNAMA. Ari membaca nama sekolah itu dengan lantang meski hanya dalam hati.
Tapi, kenapa tidak asing, yah?Kenapa aku merasa seperti pernah datang ke sini? Apa aku pernah ke sini? Kapan? Kenapa juga aku merasa seperti pernah melihat pemandangan yang sama? Dimana? Kapan?
Ari mulai bertanya-tanya sendiri. Bingung dengan apa yang dirasakannya, ia mulai melangkah semakin dalam. Dan semakin dalam dirinya masuk, pemuda itu merasa semakin aneh. Seakan ingatan bahwa dirinya pernah datang ke sini menjadi semakin kuat.
Tapi kapan? Katanya dalam hati, masih dalam penasaran.
Kiri kanan di sekolah ini, semua terekam jelas di memorinya. Ia yakin pernah mengalami hal yang sama dengan saat ini. Tapi itu tak mungkin, Ari baru kali ini datang ke sini.
Pikiran berkecamuk, tapi kaki tetap melangkah. Ari kebingungan layaknya seseorang yang sedang tersesat. Hingga akhirnya, langkahnya mengantar dia ke belakang sekolah. Matanya terdiam melihat pemandangan yang tak asing lagi.
Tiga orang laki-laki. Dua merundung satu. Mereka sedang meminta uangnya. Ini ... Apa-apaan? Kenapa aku merasa pernah merasakan semua ini? Apa yang aku lihat, bahkan caraku berpikir, semuanya sama. Apa ini deja vu?
Tidak. Ini bukan deja vu, aku memang pernah mengalaminya, tapi di mana? Kapan?
“Apa yang kalian lakukan?”
Kenapa aku sok ikut campur urusan mereka?
Dua orang itu berubah menghadap Ari. Raut wajah mereka tampak kasar. Tatapan matanya tajam. Mereka terlihat bengal. Namun, itu tak membuat Ari surut. Orang-orang yang pernah Ari lawan, punya tatapan yang jauh lebih tajam dari mereka.
“Memangnya apa urusanmu?” Dua orang itu bertanya pada Ari. Pemuda itu sendiri hanya bisa menggeleng kecil tanda tak percaya.
Ini aneh, bahkan kata-kata yang mereka ucapkan sama. Tapi aku tidak tahu kapan aku mengalaminya. Kapan semua ini terjadi?
“Mau sok jadi pahlawan?!” tanya salah satu dari pria di depannya sambil berjalan mendekat. Ari awalnya tak menyadari itu hingga ia melihat tangan si pendek mencoba meninjunya dari bawah.
Untuk sejenak, Ari lupa pada isi kepalanya sendiri. Ia menangkap tangan pemuda yang hanya setinggi dagunya itu dan lalu memelintirnya. Dengan gerakan cepat, Ari kemudian sudah membuat pemuda itu berputar dan mengunci tangannya ke belakang.
Sebelah tangan Ari menggenggam kuat kedua tangan si pria pendek. Sebelahnya lagi dilingkarkan di bagian leher. Laki-laki itu kini menjadi sandera.
Melihat temannya diperlakukan seperti itu, pria yang tersisa kini datang menghampiri. Saat itulah Ari memutar kembali tubuh si pendek dan meninju perutnya. Ia kemudian melempar laki-laki itu begitu saja.
Si tinggi, teman si pendek tentu jadi naik pitam. Dia mempercepat langkahnya dan sekonyong-konyong melayangkan tinju. Jelas Ari bisa menahannya. Kali ini giliran pemuda kurus itu yang mendapat rasa sakit.
Dimulai dari tangan yang dipelintir ke luar—samping— lalu dipukul seperti dipatahkan—namun, tidak sampai patah. Lalu kaki kanannya ditendang dalam posisi tangan kanan masih dipegang. Membuat pria itu seperti akan terjatuh, tapi masih tergantung.
Tak berhenti sampai di situ, Ari kemudian melempar tangan itu hingga si kurus benar-benar terjatuh. Tersungkur ke atas tanah. Lalu dia turun dan meninju wajah pria itu lagi. Baru dua kali. Teriakan seseorang menghentikannya.
Hentikan! Nanti ada yang memergoki!”
Itu membuat Ari sadar. Ia kemudian bangkit diikuti si pendek yang segera mengangkat si tinggi untuk kemudian kabur. Saat itu, masih sempat mereka menunjuk memperingatkan pembalasan mereka pada Ari.
Sementara Ari hanya memandang tangannya yang bergetar. Kembali bertanya-tanya tentang yang baru saja terjadi.
Kenapa aku ada di sini? Kenapa aku merasa seperti ini? Apakah ini deja vu? Tidak, ini bukan deja vu. Ari merasa kacau. Semua kacau.
“Terima kasih, namamu siapa?” laki-laki yang ia selamatkan kembali bersuara. Dia mengulurkan tangan sambil tersenyum penuh harap. Ari hanya menatapnya kosong tak percaya.
Kenapa aku merasa pernah melihat anak ini? Perasaan aneh apa ini? Ia masih bergumam tanpa berniat menjawab.
“Hei, kenapa melamun? Namaku Bara.” Lagi-lagi pria itu bersuara. Dan kali ini, kata-katanya terngiang, berulang-ulang di telinga Ari.
Segera saja Ari pergi meninggalkan pria itu. Dia masuk ke dalam sebuah toilet dan menguncinya dari dalam.
Apa yang baru saja terjadi?