Langkah kaki seorang pria muda terlihat mendekat ke arah kamar sang ayah. Di rumah megah itu, lampu-lampu berpijar cantik menambah kesan bahagia di wajahnya. Maklum, dia baru saja pulang secara diam-diam dari kuliahnya di luar negeri.

Laki-laki itu berniat memberi kejutan kepada Deni. Pria tangguh yang selama ini selalu mendukung dan peduli kepadanya. Ya, walaupun harus hidup berdua tanpa sosok sang ibu.

“Saya lihat, anak Bapak nantinya akan menjadi bencana. Pembunuh berdarah dingin yang rela melakukan segalanya demi mencapai apa yang dia inginkan. Dia bahkan akan mengancam untuk membunuh Pak Trisna kalau penglihatan saya ini tidak salah.”

“Tapi ada yang lebih penting, Pak. Dia akan membunuh puluhan orang bila dia berhasil menduduki kursi Bapak. Jadi tolong jangan wariskan harta Bapak ke tangan dia, Pak. Saya mohon!”

Suara pria asing terdengar dari dalam kamar Deni. Membuat laki-laki muda yang mendengarnya di luar sana tercegat, menghentukan langkahnya sejenak. Mengernyitkan dahi, terlihat berpikir keheranan, penasaran itu siapa dan ... apakah yang mereka bahas itu dirinya?

Trisna, si pengacara yang disebut namanya tampak terkejut mendengar perkataan Sam si peramal. Mulutnya bahkan ternganga saking kagetnya ia mendengar itu. Sementara di bawah sana di tempat tidurnya, Deni membulatkan mata. Jantungnya sesak, napasnya tersengal. Ia butuh pertolongan.

Trisna dan Sam yang melihat itu berubah panik. Si pengacara mengambil langkah sigap dengan menghubungi nomor dokter pribadi kliennya. Sementara Sam mulai berteriak panik memanggil nama Deni dan mencoba menenangkannya atau membuatnya tetap tersadar. Apapun itu, ia tak tahu apa yang harus ia lakukan selain berusaha menyadarkan si pria yang memang disebut tak berumur panjang lagi.

Hingga laki-laki muda yang ada di luar sana menjatuhkan kue yang ia pegang dari tangannya. Wajahnya yang semula padam karena terkejut mendengar semua itu, kini pucat karena paniknya. Ia memasuki kamar sang ayah dengan tergesa-gesa. Memanggil “Ayah!” dan mendorong kasar tubuh si peramal untuk menggantikan posisinya.

Laki-laki itu menangis memanggil-manggil sang ayah. Sementara pria rapuh yang dipanggil itu masih dengan napas tersengalnya. Berusaha menatap sang putra. Ingin menyentuh surainya lembut. Berharap bahwa yang dilihat oleh si peramal adalah salah. Bahwa putranya itu akan tetap baik-baik saja. Seperti yang ada selama ini.

“A—” Laki-laki itu mencoba bersuara. Ingin meninggalkan sebuah pesan pada anaknya. Namun terlambat, napasnya telah terangkat penuh, hilang dari tubuhnya.

Ia memejamkan mata kemudian. Meninggalkan sang putra yang bagai dipenggal seluruh kepalanya. Kehilangan akal sehatnya. Beteriak sejadi-jadinya memanggil “Ayah!” dan “Ayah!” sekuat-kuatnya.

Ya, sang ayah tak akan kembali. Semua telah terjadi.

***

Usai pemakaman, laki-laki itu menjadi yang terakhir kembali. Ia tampak berdiri dari duduknya yang semula bermesraan dengan nisan. Tangannya mengepal membersihkan air mata. Menarik napas dalam dan menyalakan tatapan tajam.

Langkahnya kemudian terlihat gusar dengan tangan merogoh saku. Menggenggam sesuatu dari dalam sana. Sementara Trisna, si pengacara tengah menunggunya di depan mobil.

“Aku ingin bertemu dengan peramal itu,” sahutnya saat berada di dekat Trisna.

Laki-laki tua yang ikut mendengar ramalan tersebut sontak dibuat takut. Sesaat, ia bingung mau berbuat apa. Namun kemudian, ia memutuskan untuk tidak membeberkannya.

“Untuk apa?” tanyanya mencoba meredam suasana. Mencoba mengalihkan perhatian. Mungkin sesaat setelah ini di akan tenang, pikirnya. Namun sayang, pemuda itu tak berniat tenang.

“Aku harus bertemu dengannya. Aku ingin dia menjawab beberapa pertanyaanku.”

Nadanya ketus. Auranya dingin. Getaran yang ada pun membuat Trisna menggigil karena takutnya pada pria yang telah diramalkan itu. Namun masih sempat ia mencoba menawar nasib. Mungkin bila diulur lagi, nasib bisa berubah untuknya, pikirnya lagi.

“Aku tidak bisa memberita—”

Kata-kata Trisna berhenti. Terpotong oleh tatapan tajam milik pria muda. Pria muda yang kini, di tangannya telah tergenggam sebilah pisau kecil. Pisau kecil yang sudah berada tepat di depan lehernya.

“Aku tidak sedang memintamu.” Kata-kata itu dihiasi wajah yang ... sulit digambarkan. Sebuah tatapan tajam nan menyedihkan. Seperti kaca-kaca berkumpul di sana. Kaca-kaca yang tak hanya siap mengeluarkan air mata, namun juga siap menusuk lehermu.

“Aku ingin bertemu dengan peramal itu. Kau tahu aku bisa melakukan apa padamu, kan? Kau bisa segera mengurus surat wasiat ayahku bila tak ingin dikenal sebagai pengacara yang tak bisa dipercaya. Dan tunjukkan di mana peramal itu berada bila masih menyayangi keluargamu.”

Laki-laki itu tak lagi mengenal sopan santun dalam berkata. Tentu saja. Tangannya sudah sejak tadi menggantung di depan leher si pria tua sambil mengacungkan pisau. Kenapa dia harus menjaga tuturnya sekarang?

Itu menjadi sebuah pertimbangan yang jelas yang dilakukan oleh Trisna. Ia paham maksud ramalan itu sekarang. Mengingat kekuasaan yang ditinggalkan kliennya untuk sang anak, dia bahkan tak berani membayangkan nasibnya bila berani membangkang.

Maka jadilah pria itu memberikan alamat kontrakan Sam si peramal. Si pemuda kemudian melepasnya dan bersegera menuju alamat yang diberikan. Tak ada banyak kata, pemuda berjas hitam itu masuk ke dalam mobil dan memberi alamat tersebut pada sang sopir. Sebuah mobil hitam berisi para pengawal juga terlihat mengikuti dari belakang.

***

Suara burung yang hidup riang terdengar bising di rumah kontrakan Sam. Laki-laki itu sedang memberi makan mereka sebelum beberapa orang datang dan menunjukkan selebaran kepadanya. Selebaran itu miliknya sendiri. Kertas yang ia sebar agar orang-orang itu mau datang dan mengambil burung-burungnya secara cuma-cuma.

“Ambillah! Jangan buat mereka sedih!” ucapnya lirih dengan senyuman tipis. Ia tampak sedikit berat hati melepas teman-temannya pergi. Namun itu adalah hal yang benar untuk dilakukan seorang pria sebatang kara seperti dirinya.

Suara burung semakin nyaring dan bising ketika dibawa semakin jauh dari sahabat manusia mereka itu. Hewan-hewan lembut itu seolah tahu bahwa sang sahabat tengah mengandung beban derita dan tak rela meninggalkannya. Namun apa daya, mereka hanya hewan yang terkurung dalam kandang.

Tak berapa lama, burung-burung itu menghilang dari pandangan. Suara deru mobil terdengar di halaman rumah menggantikan cuitan mereka, mengisi halaman rumah yang lengang. Seorang pria berjas hitam dengan sepatu berkilau licin tampak turun dari dalam mobil. Diikuti beberapa orang bertubuh kekar dari mobil lainnya.

Langkah pria itu kemudian teratur serta begitu anggun menuju pintu rumah. Ia hendak mengetuk pintu sebelum membaca memo yang ditulis si penghuni. Bahwa pintu itu tidak sedang terkunci.

Ia langsung membukanya. Memasuki rumah lengang tersebut dengan berhati-hati namun tetap congkak dan anggun. Ia bahkan tak membiarkan para pengawal yang menawarkan diri untuk berjalan lebih dulu darinya. Ia tak butuh pelindung dengan semua amarah yang menggantung di dadanya saat ini.

Tiba di sebuah kamar. Laki-laki itu menemukan memo tergantung di depan pintu. Membolehkannya untuk masuk karena pintu tidak dikunci.

Laki-laki muda kembali berjalan masuk dan menemukan Sam tengah bersiap dengan tambang yang tergantung di langit-langit kamarnya. Membuat pria muda yang melihatnya membulatkan mata. Tidak semudah itu.

Pria muda berjas hitam memanggil para pengawalnya. Menyuruh mereka menurunkan Sam secepatnya. Membuat peramal itu segera melanjutkan niatnya. Menendang kursi tempatnya berdiri agar kepalanya bisa tergantung sempurna. Dan itu terjadi.

Tubuhnya mengejang, meronta-ronta alami menahan kesakitan. Matanya mulai membulat penuh dan lidahnya menjulur keluar. Sayang, semua rasa sakit itu tak membuahkan kematian. Para pengawal pria muda telah berhasil menyelamatkannya.

Laki-laki peramal itu menyesuaikan napas. Ia menggeram kesal tak bisa memenuhi niatnya. Batuknya sesekali keluar akibat sakit yang dialami tenggorokan.

“Apa kau pikir bisa pergi semudah itu?” tanya pria muda yang masih berhias amarah padanya.

Sam menggeleng kecewa. Ia benci mengetahui kenyataan ini.

“Aku sedang menolongmu, Pria Muda!” katanya mengumpulkan kekuatan.

Laki-laki muda yang ada di hadapannya menjadi semakin gusar. Tatapannya penuh amarah dan tangannya tiba-tiba mencekik keras ke leher si peramal.

Para pengawalnya terlonjak kaget. Mereka tak tahu akan kejadian seperti. Mereka hanya mengikuti perintah Bos mereka sebelum ini.

“Kau tidak menolong siapapun. Kau telah membunuh ayahku dan kau hanya berniat lari dari tanggung jawabmu.” Pria muda membentak, semakin mengencangkan cekikannya.

Sam mulai terbatuk-batuk. Para pengawal yang melihatnya sedikit tidak tega, namun tak berani menginterupsi sang majikan.

“Kau akan menyesali semua ... perbuatanmu ini. Kau ... harusnya tak mengotori tanganmu. Kau ... bukan pembunuh. Kau bisa mengubah ramalanku. Kau tahu itu. Kau ... tahu!” Sam masih sempat menguatkan diri dan mengatakan semuanya meski lehernya masih penuh sesak dan ingin batuk.

Hingga kemudian batuknya tak jadi keluar karena tertahan cekikan pria muda yang semakin mengetat. Cekikan yang semakin kuat oleh seorang pemuda berwajah keras dan merah padam. Laki-laki muda itu benar-benar berusaha keras untuk membunuh pria di hadapannya dengan cekikan.

“Kaulah yang sedang menyesali kata-katamu sendiri, Pak Tua!” katanya mengangkat tangan. Menepuk ringan menghilangkan debu. Pria di bawah sana sudah tak bergerak. Tak bernapas juga. Tak ada perlawanan dan memuaskan hati si pria muda walau hanya sesaat.

Karena kemudian, laki-laki itu kembali berteriak dan memukul-mukul tubuh mayat di hadapannya. Ia merancau tak jelas dengan tangisan yang kembali meledak.

“Aku tidak akan mengancam Pak Trisna, dia pamanku. Aku juga tidak akan menjadi pembunuh berdarah dingin. Dan aku tidak akan menyesali semua perbuatanku. Tidak akan!” katanya merancau dengan wajah penuh air mata.

Para pengawalnya mengamati dengan ngeri. Tuan muda mereka berubah menggila dalam satu hari. Ya, karena pemuda yang menangis itu kemudian kembali tertawa terbahak-bahak. Benar-benar terbahak-bahak.

“Aku tidak akan menyesalinya,” katanya kemudian mengulang yang sebelumnya. Kali ini dengan aura yang berbeda. Kembali dingin. Dengan senyuman aneh.

Lantas, air mata yang tadi untuk apa?